Announced: Sosok Zainal Abidin Syah yang perjuangkan Irian Barat bagian NKRI
Peran Zainal Abidin Syah dalam Pertahankan Kedaulatan NKRI
Announced – Pada perayaan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh. Keputusan ini diumumkan melalui Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah satu penerima gelar tersebut adalah almarhum Sultan Zainal Abidin Syah, tokoh yang diakui berperan penting dalam menjaga integritas wilayah Indonesia Timur, khususnya Irian Barat, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kisah Hidup dan Kontribusi Zainal Abidin Syah
Sultan Zainal Abidin Syah, yang juga dikenal sebagai Zainal Abidin Alting Syah, lahir di Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara, pada tahun 1912. Dalam sejarah, ia sering disebut sebagai “Pelindung Bagian Timur Indonesia” karena dedikasinya dalam mengamankan keberadaan wilayah timur NKRI. Sebelum menjadi Sultan, ia menempuh pendidikan dasar di Ternate, kemudian melanjutkan studi ke sekolah menengah Belanda, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), di Batavia (kini Jakarta) pada akhir 1930-an.
Pendidikan tinggi yang ia lakukan di Makassar melalui Opleidings Scholenvoor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) pada 1934 membawanya ke posisi sebagai pegawai negeri. Ia menjabat Bestuur dan Hulp-Bestuur, jabatan setara bupati, di tiga daerah: Ternate, Manokwari, dan Sorong. Peran ini tidak hanya memperkuat posisinya dalam sistem pemerintahan kolonial, tetapi juga mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin wilayah yang kini dikenal sebagai Irian Barat.
Pertahanan Kedaulatan Melalui Perjuangan Politik
Sikap politiknya terhadap kedaulatan Indonesia menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan. Selama masa pendudukan Jepang, ia diasingkan ke Jailolo, Halmahera Barat, selama setahun. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ia dilantik sebagai Sultan Tidore pada 1947. Selama jabatannya sebagai Sultan, Zainal Abidin Syah berpidato di Tidore pada 2 Maret 1949, menyatakan:
“Irian Barat merupakan bagian dari Kesultanan Tidore.”
Pernyataan ini menjadi poin penting dalam perjuangan mempertahankan wilayah tersebut sebagai bagian dari NKRI.
Peran lebih besar terlihat saat Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Di antara 51 anggota parlemen, ia adalah satu-satunya yang menolak menyerahkan Irian Barat kepada Belanda. Tindakan ini mencerminkan keyakinannya bahwa wilayah Papua Barat memiliki sejarah terkait dengan Kesultanan Tidore, yang selama berabad-abad menguasai daerah tersebut. Keberaniannya ini mendapat apresiasi dari Presiden Soekarno, yang pada 17 Agustus 1956 mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibukota sementara di Soa-Sio, Tidore.
Pengabdian Selama Masa Perjuangan dan Trikora
Sebagai Gubernur Sementara Provinsi Perjuangan Irian Barat, Zainal Abidin Syah aktif dalam memperkuat ketergantungan politik dan diplomasi wilayah timur. Posisi ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mempertahankan kewenangan Kesultanan Tidore, tetapi juga menjadi wajah NKRI dalam upaya menegaskan hak atas Irian Barat. Pada 1961, ia dipercaya sebagai staf di Departemen Dalam Negeri melalui SK Presiden RI No. 220 Tahun 1961. Tugas ini mengarahkan ia untuk mendukung Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), yang bertujuan mengembalikan Irian Barat ke NKRI.
Pada 4 Mei 1962, ia resmi ditetapkan sebagai Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat. Pencapaian ini menjadi bukti kesuksesan perjuangan politik dan diplomatiknya selama bertahun-tahun. Sebelumnya, ia telah menetap di Ambon setelah menyelesaikan tugas gubernur, hingga wafat pada 4 Juli 1967. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha, Ambon, tetapi setelah 11 Maret 1986, kerangka Sultan Zainal Abidin Syah dipindahkan ke Soa-Sio, Tidore, dan disemayamkan di Sonyine Salaka Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore.
Kepribadian dan Warisan yang Tinggal
Zainal Abidin Syah dikenang sebagai tokoh yang memiliki visi panjang dan kesabaran dalam menghadapi tantangan. Sebagai Sultan Tidore, ia tidak hanya mempertahankan wilayah kerajaannya, tetapi juga memperkuat hubungan antara Kesultanan Tidore dan wilayah Irian Barat. Upaya ini menciptakan kesatuan historis yang memperjelas bahwa Irian Barat bukanlah wilayah yang terpisah dari NKRI, melainkan bagian integral dari kekuasaan Kesultanan Tidore.
Kontribusinya terhadap kesatuan Indonesia juga terlihat dalam pengabdian selama menjabat gubernur. Meski posisinya lebih dulu diberikan sebagai Gubernur Sementara, ia tetap aktif dalam menjaga kestabilan wilayah, terutama selama Operasi Trikora. Dalam usaha ini, ia bekerja sama dengan Komando Mandala di Makassar untuk menegaskan kembali klaim Indonesia atas Irian Barat. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia memilih tinggal di Ambon, tempat ia meninggal dunia.
Dalam upaya mengabadikan jasa dan peran beliau, nama Sultan Zainal Abidin Syah diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Soa-Sio, yaitu Jalan Sultan Zainal Abidin Syah di Kecamatan Tidore Selatan. Jalan ini menjadi simbol dari komitmen beliau dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Di samping itu, kisah hidupnya juga menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya yang ingin melanjutkan perjuangan keadilan dan kedaulatan tanah air.
Sebagai seorang Sultan dan tokoh pemerintahan, Zainal Abidin Syah membuktikan bahwa peran individu bisa memengaruhi perjalanan nasional. Dedikasinya dalam memperjuangkan Irian Barat sebagai bagian dari NKRI tidak hanya mengubah sejarah wilayah tersebut, tetapi juga menegaskan pentingnya kebijakan diplomatik dalam menghadapi persaingan kolonial. Kisahnya tetap relevan hingga hari ini, karena menunjukkan bagaimana keberanian dan kecerdasan politik dapat menyatukan wilayah yang secara geografis terpisah.
Penghargaan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2025 tidak hanya mengingatkan masyarakat pada perjuangan Zainal Abidin Syah, tetapi juga memperkuat identitas nasional dalam konteks sejarah. Keberhasilannya mempertahankan Irian Barat sebagai bagian dari NKRI menjadi bukti bahwa keteguhan pada kebenaran sejarah dan kesadaran wilayah dapat mengubah nasib bangsa. Perjalanan hidupnya dari seorang pegawai negeri hingga menjadi Sultan dan Gubernur, mencerminkan perjuangan yang tangguh dalam menghadapi tuntutan historis yang kompleks.
Warisan Zainal Abidin Syah juga terlihat dalam bagaimana masyarakat Tidore dan Papua Barat masih menjunjung nilai-nilai kebersatuan yang ia perjuangkan. Selain itu, keberadaan jasadnya di Taman Makam Pahlawan Kapahaha dan penguburan ulang di Soa-Sio memperkuat simbolisme sebagai tokoh yang layak dihormati. Dengan peninggalan ini, ia tetap berpengaruh dalam membangun kesadaran se