Special Plan: MPR dorong Indonesia jadi pusat CCS Asia-Pasifik di Kuala Lumpur
MPR Dorong Indonesia Jadi Pusat CCS Asia-Pasifik di Kuala Lumpur
Special Plan – Kuala Lumpur, Malaysia – Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, mengemukakan pentingnya Indonesia siap menjadi pusat pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) di kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan ini disampaikannya dalam forum Asia Carbon Capture 2026 yang berlangsung di Crowne Plaza Kuala Lumpur City Centre. Eddy menegaskan bahwa pergeseran ke arah energi bersih tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi elemen kunci dalam memperkuat strategi perekonomian nasional serta mendorong ketahanan energi bangsa ini.
Transformasi Energi dan Ketergantungan Impor
Dalam pidatonya, Eddy mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi fase kritis dalam perubahan struktur ekonomi. Negara ini ditargetkan mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen per tahun, yang membutuhkan investasi besar dan reformasi sistem energi menuju bentuk yang lebih ramah lingkungan. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi, termasuk ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji, yang semakin tinggi dalam kondisi dinamika global. Menurut Eddy, kepemilikan sumber daya energi fosil yang melimpah sekaligus keterbatasan pasokan lokal membuat transisi energi menjadi prioritas dalam mengamankan kebutuhan energi nasional.
“Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Di satu sisi kita memiliki sumber daya energi fosil yang melimpah, tetapi di sisi lain masih menghadapi ketergantungan impor energi, terutama BBM dan elpiji. Karena itu, transisi energi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan ekonomi nasional,” ujar Eddy dalam pernyataan resmi di Jakarta, Rabu.
Potensi Energi Terbarukan dan Karbon
Eddy menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang luar biasa, sekitar 600 gigaton CO₂. Angka ini membuka peluang besar bagi negara ini dalam mengembangkan proyek CCS (Carbon Capture and Storage) maupun CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) secara regional. Selain itu, negara ini juga diperkirakan memiliki potensi energi terbarukan sebesar 3.600 gigawatt, yang menjadi dasar untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam ekosistem energi hijau Asia-Pasifik.
Dalam forum tersebut, Eddy juga menyoroti keunggulan geografis Indonesia yang strategis, yang dapat mendukung hubungan kerja sama antar negara dalam bidang penangkapan dan penyimpanan karbon. Ia menekankan bahwa faktor-faktor seperti kapasitas penyimpanan, keberagaman sumber daya alam, serta kebutuhan dekarbonisasi yang meningkat di kawasan Asia memposisikan Indonesia sebagai kandidat kuat untuk menjadi pusat pengembangan teknologi ini.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat CCS regional. Kapasitas penyimpanan karbon yang besar, posisi geografis strategis, serta meningkatnya kebutuhan dekarbonisasi di Asia menjadikan Indonesia sangat kompetitif untuk kerja sama CCS lintas negara,” katanya.
Ekonomi Karbon dan Investasi Strategis
Menurut Eddy, keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kepastian regulasi dan tata kelola yang mumpuni. Ia menambahkan bahwa potensi ekonomi karbon Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 21 miliar dolar AS, yang meliputi berbagai sektor seperti kehutanan, energi terbarukan, pengolahan sampah menjadi energi, hingga CCS dan CCUS. Untuk mewujudkan proyek ini, diperlukan koordinasi erat antara pemerintah, industri, serta sektor keuangan agar dapat menarik investasi yang berkelanjutan.
Eddy mengapresiasi upaya pemerintah dalam mendorong regulasi terkait CCS, ekonomi karbon, dan waste-to-energy sebagai bagian dari peningkatan sistem energi hijau. Ia menekankan bahwa kesuksesan proyek ekonomi karbon tidak bisa tercapai tanpa penataan yang terpadu, serta partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan. “Potensi besar ini harus diiringi tata kelola yang kuat, koordinasi lintas sektor, dan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, serta sektor keuangan agar dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata,” tambahnya.
Transisi Energi sebagai Solusi Global
Eddy menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim. Selain itu, ia juga berharap transisi energi mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan lingkungan. Ia menilai bahwa dengan pengelolaan yang tepat, proyek CCS bisa menjadi pilar utama dalam mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.
Menurutnya, peluang untuk menjadi pusat CCS Asia-Pasifik harus diimbangi dengan tindakan konkret dari semua pihak. “Transisi energi tidak hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim, sekaligus memastikan bahwa transisi energi memberikan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional,” ujar Eddy.
Dalam konteks global, Eddy menyoroti pentingnya Indonesia memanfaatkan sumber daya alamnya untuk menghasilkan energi bersih, sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia berharap forum seperti Asia Carbon Capture 2026 bisa menjadi ajang untuk membangun kemitraan internasional, mengakselerasi investasi, dan mengangkat nama Indonesia sebagai pusat utama pengembangan teknologi ini. Dengan kepastian regulasi dan sistem yang siap, Indonesia bisa menjadi pionir dalam menggerakkan transisi energi yang berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.
Koordinasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Eddy juga mengatakan bahwa transisi energi perlu diiringi oleh keterlibatan aktif berbagai sektor. Ia menyoroti bahwa keberhasilan proyek CCS memerlukan kerja sama lintas institusi, mulai dari lembaga pemerintah hingga perusahaan swasta. Selain itu, penguatan kapasitas keuangan nasional dan ketersediaan dana investasi juga menjadi faktor penting untuk mewujudkan visi tersebut. Eddy menegaskan bahwa dengan integrasi kebijakan dan konsistensi aksi, Indonesia bisa menjadi contoh bagus dalam menerapkan model ekonomi hijau yang produktif.
Menurutnya, pengembangan CCS tidak hanya menangani isu lingkungan, tetapi juga memberikan peluang pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Dengan memanfaatkan kapasitas penyimpanan karbon yang besar, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi domestik sambil mengurangi dampak lingkungan. Eddy berharap kebijakan yang telah disusun pemerintah bisa diimplementasikan secara optimal, sehingga mempercepat akselerasi transisi energi dan mengamankan posisi Indonesia di panggung internasional.