Latest Program: Pemerintah perkuat intervensi jaga harga pangan di produsen-konsumen

Pemerintah Perkuat Intervensi untuk Stabilkan Harga Pangan

Latest Program – Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan pernyataan bahwa pemerintah terus menguatkan upaya pengendalian harga pangan, mulai dari tahap produksi hingga konsumen, untuk menjaga ketersediaan pasokan dan melindungi kelompok produsen serta masyarakat umum. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan aksesibilitas bahan pokok, termasuk mengendalikan laju inflasi. “Alhamdulillah, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih. Harga pangan secara umum tetap stabil, termasuk berbagai jenis bahan makanan. Hal ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS),” ujar Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (4/5). Ia menyampaikan apresiasi atas kondisi pasar pangan pasca perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Program SPHP Jagung Pakan untuk Dukung Peternak

Dalam upaya menjaga stabilitas harga, Bapanas mencatat bahwa program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan telah dimulai sebagai langkah mendukung produsen. Program ini bertujuan mengatasi fluktuasi harga jagung yang melebihi 16,81 persen dari Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp5.800 per kilogram. “Kita berupaya agar harga di tingkat produsen tidak turun terlalu jauh, sementara harga di konsumen tetap terjaga kewajarannya,” terang Amran. Ia menambahkan bahwa deflasi yang terjadi di bulan April 2026 akan diantisipasi dengan menjaga harga pangan pada produsen dan konsumen.

“Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia mencapai swasembada pangan, protein, energi, dan etanol. Dengan pangan berdaulat di setiap daerah, inflasi otomatis akan terkendali,” ujarnya.

Bapanas juga mencatatkan bahwa harga ayam pedaging hidup telah berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) produsen, yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg. Per 3 Mei, rata-rata harga berada di Rp23.401 per kg, lebih rendah dari awal April sebesar Rp23.696 per kg. Sementara itu, harga telur ayam ras di produsen juga terpantau turun dalam sebulan terakhir. HAP telur ayam ras ditetapkan di Rp26.500 per kg, sedangkan per 3 Mei, rata-rata harga mencapai Rp24.890 per kg, dibandingkan dengan Rp25.642 per kg di awal April.

Lihat Juga :   New Policy: Presiden Prabowo dorong hilirisasi untuk kuasai sumber daya nasional

Deflasi Cabai dan Ketersediaan Pasokan

Dalam rangka mengatasi deflasi cabai, Bapanas mendorong Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menyalurkan stok dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami fluktuasi harga. Hal ini dilakukan karena Indonesia Timur masih mencatatkan harga cabai yang tinggi, sehingga FDP menjadi solusi untuk menyeimbangkan permintaan. “Kita perlu menyalurkan cabai dari daerah penghasil seperti Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara ke daerah-daerah yang membutuhkan,” kata Amran.

Deflasi pada April 2026 menunjukkan perbaikan pasca momen HBKN, dengan data BPS menunjukkan bahwa sejumlah komoditas strategis seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang utama penurunan inflasi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa deflasi dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau cenderung terjadi setelah masa Lebaran. “Kondisi ini didukung oleh normalisasi permintaan pasca hari besar keagamaan,” tambahnya.

Data BPS juga mencatatkan deflasi bulanan pada daging ayam ras dari 3,30 persen di Maret menjadi 6,20 persen di April. Sementara itu, inflasi telur ayam ras mengalami penurunan dari 2,34 persen menjadi 4,29 persen. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami penurunan sebesar 14,98 persen dan 2,59 persen. Akibatnya, inflasi pangan secara tahunan turun dari 4,24 persen di Maret menjadi 3,37 persen di April. Angka ini masih dalam rentang target pemerintah, yakni antara 3 hingga 5 persen.

Langkah Pemerintah untuk Ketersediaan Pasokan

Amran menekankan bahwa deflasi yang terjadi di April 2026 bukanlah kejadian acak, melainkan tren yang berulang sejak tahun 2024. Dalam tahun tersebut, deflasi pangan mencapai 0,31 persen di April 2024, kemudian 0,88 persen di April 2025. Pada April 2026, deflasi kembali tercatat, dengan penurunan sebesar 0,88 persen. “Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam mengelola harga pangan berhasil memperkuat ketersediaan pasokan di berbagai wilayah,” katanya.

Lihat Juga :   Garuda kerahkan 1.085 awak pesawat untuk penerbangan haji 2026

Program SPHP jagung pakan diestimasikan akan menjangkau lebih dari 5 ribu peternak, baik skala mikro, kecil, maupun menengah, dengan total populasi unggas mencapai 53 juta ekor di 26 provinsi. Selama tahapan ini, stok jagung pakan akan disalurkan sebanyak 213,1 ribu ton. Selain itu, Bapanas mengungkapkan bahwa upaya pengendalian harga akan terus dimaksimalkan, termasuk menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha di tahun ini.

Dari perspektif permintaan, deflasi pada April 2026 menunjukkan respons pasar terhadap ketersediaan bahan pangan yang lebih stabil. Deflasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga pengaruh pasca HBKN memudar. “Deflasi bulanan mencapai 0,88 persen, yang terjadi karena kenaikan permintaan di awal tahun tidak lagi signifikan seperti sebelumnya,” kata Ateng Hartono. Ia menjelaskan bahwa deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau memang menjadi pola yang terjadi sejak periode pasca Lebaran.

Menurut Ateng, deflasi pada April 2026 juga dipengaruhi oleh perbaikan kinerja produsen dalam menghasilkan bahan pangan. Dengan menstabilkan harga di tingkat produsen, pemerintah memastikan bahwa penurunan harga tidak terlalu drastis hingga masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pokok secara terjangkau. “Pemerintah terus mengoptimalkan intervensi untuk mengendalikan inflasi, termasuk dalam rangka menjaga keberlanjutan pasokan pangan,” imbuhnya.

Upaya ini tidak hanya berfokus pada harga, tetapi juga pada keberlanjutan produksi. Dengan menjaga keseimbangan antara harga produsen