Key Discussion: Bali, NTB, dan NTT Pimpin Transisi Energi Surya Indonesia
Pondokkebaikan.com – Ketiga wilayah strategis di Indonesia bagian tengah dan timur—Bali, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Tenggara Timur—sedang dipandang sebagai kawasan dengan prospek luar biasa untuk menjadi motor penggerak pengembangan energi surya di tanah air. Namun, realisasi potensi ini tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, penguatan industri panel surya dalam negeri, serta keterlibatan aktif pemerintah daerah dalam setiap tahap perencanaan. Key Discussion ini menjadi sorotan utama dalam forum-forum energi nasional terkini.
Isu ini menjadi salah satu fokus utama pembahasan pada acara Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) di Pulau Dewata. Dalam forum tersebut, IESR juga resmi merilis dokumen Peta Jalan Pengembangan Industri Rantai Pasok Fotovoltaik Surya Domestik di Indonesia. Dokumen strategis ini menyoroti bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun industri panel surya yang terintegrasi secara menyeluruh, meskipun masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Key Discussion tentang pengembangan energi terbarukan semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim global.
Tantangan dan Peluang Pengembangan Energi Surya
Beberapa tantangan utama yang diidentifikasi meliputi perkembangan pasar domestik yang masih terbatas, ketidakonsistenan regulasi yang menghambat investasi, serta keterputusan dalam rantai pasok komponen fotovoltaik. Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer IESR, menekankan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik unik yang memerlukan pendekatan berbeda dalam pengembangan energi surya. Key Discussion ini juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
“Setiap daerah perlu diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai potensi, kebutuhan, dan struktur ekonominya masing-masing. Pemerintah daerah juga perlu dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, perizinan, identifikasi lokasi, pengembangan proyek, hingga pelibatan masyarakat dan dunia usaha,” ujarnya dalam sesi diskusi.
Berdasarkan analisis IESR, Bali memiliki peluang besar untuk menjadi model destinasi wisata berbasis energi bersih. Target ambisius yang ditetapkan adalah mencapai 100 persen energi terbarukan di Nusa Penida pada tahun 2030. Sementara itu, Nusa Tenggara Barat dinilai memiliki keunggulan dalam mengembangkan ekosistem energi surya yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan listrik, yang akan mendukung pertumbuhan industri hijau di wilayah tersebut. Key Discussion tentang Bali sebagai destinasi wisata hijau semakin menguat.
Di sisi lain, Nusa Tenggara Timur menawarkan potensi energi surya yang sangat besar, mencapai sekitar 369 gigawatt-peak (GWp). Angka ini menempatkan NTT sebagai salah satu calon pusat energi terbarukan nasional. Selain itu, pengembangan PLTS di NTT juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan signifikan pada pembangkit listrik tenaga diesel yang selama ini menjadi sumber utama listrik di banyak pulau kecil. Key Discussion tentang NTT sebagai pusat energi surya semakin menarik perhatian investor.
Komitmen Pemerintah Daerah untuk Target 100 GW
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menyatakan komitmen penuh provinsinya untuk mendukung target pembangunan PLTS nasional berkapasitas 100 gigawatt. Ia menjelaskan bahwa NTB dapat fokus menyiapkan pembangkit listrik tenaga surya dengan potensi kontribusi sekitar 10 GW. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga diperlukan agar pengembangan ini terintegrasi dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional secara keseluruhan. Key Discussion tentang peran NTB dalam transisi energi semakin intensif.
Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menilai bahwa pengembangan PLTS dapat menjadi solusi strategis untuk menggantikan pembangkit diesel yang selama ini memasok listrik di banyak pulau kecil. Transisi ini tidak hanya akan mengurangi biaya operasional, tetapi juga menurunkan emisi karbon secara signifikan. Key Discussion tentang NTT sebagai pemimpin transisi energi semakin mendapat dukungan luas.
IESR menekankan bahwa percepatan energi surya tidak cukup hanya dengan membangun pembangkit. Pemerintah juga perlu memastikan regulasi lebih konsisten, mempercepat proses perizinan, memperkuat industri panel surya dalam negeri, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan riset. Langkah-langkah ini akan memastikan bahwa pengembangan energi surya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Key Discussion ini menjadi fondasi penting untuk masa depan energi Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.



