Latest Program: Kemenkes Pasok Pakar Gizi ke BGN, Nanik: MBG Fokus Kualitas Bukan Kuantitas!

Share: X Facebook
75245-potret-dapur-mbg-bgngoid

Penyesuaian Strategi Program Makan Bergizi Gratis

Latest Program – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan tenaga ahli gizi untuk memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini bertujuan memastikan efektivitas distribusi makanan bergizi di wilayah penerima manfaat, khususnya pada 3T (Terpencil, Terluar, dan Terbelakang). Dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan, BGN menetapkan empat langkah strategis yang diharapkan bisa menjadi pedoman utama bagi penyelenggaraan program tahun ini.

Penyesuaian Sasaran dan Pendekatan Baru

Menurut Nanik Sudaryati Deyang, kepala BGN, fokus program MBG tahun 2026 akan bergeser dari peningkatan jumlah penerima manfaat ke peningkatan kualitas layanan. “Kami ingin program ini tidak hanya mengutamakan jumlah, tapi juga kepastian distribusi yang tepat kepada sasaran yang paling membutuhkan,” terangnya. Nanik menjelaskan bahwa rencana ini mencakup pengalihan pelaksanaan MBG dari sekolah elit ke daerah-daerah yang lebih kurang mendapat perhatian, terutama wilayah 3T.

“Saya yakin, dengan pendekatan ini, layanan akan lebih tepat sasaran dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang terlantar,” kata Nanik kepada media pada Rabu (6/6/2026).

Dalam konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Nanik mengungkapkan bahwa empat langkah strategis ini telah disusun untuk merevisi kebijakan yang sebelumnya dijalankan oleh BGN. “Selama ini program MBG lebih menekankan pada target jumlah, tetapi sekarang kami ingin mengutamakan keberlanjutan dan kualitas distribusi,” tambahnya. Langkah tersebut, menurut Nanik, akan membuka peluang untuk mengevaluasi kinerja BGN dan memastikan program tidak hanya berjalan sesuai anggaran, tetapi juga memberikan manfaat yang optimal.

Kolaborasi dengan Kemenkes

Kemenkes akan memberikan dukungan penuh dalam mewujudkan rencana BGN. Menteri Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kementerian siap menyediakan ahli gizi anak serta tenaga ahli kesehatan untuk membantu penyelenggaraan MBG. “Kami akan menyiapkan sumber daya terbaik agar program ini bisa berjalan lebih baik,” ujarnya usai menerima kunjungan Nanik dan dua wakilnya, Agustina Arumsari serta Mayjen TNI Trenggono, di Jakarta.

“Silakan siapa pun yang dipilih, kami menyiapkan yang terbaik. Silakan Ibu yang memutuskan,” katanya kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Kemenkes juga menyetujui rencana BGN untuk memperbaiki kualitas dapur yang sudah beroperasi. “Kami ingin program ini tidak hanya menciptakan keberhasilan kuantitatif, tetapi juga kualitatif,” imbuh Menkes Budi. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan Kemenkes dalam memastikan sasaran MBG sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang paling rentan, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Transformasi Struktur Pemimpinan

Nanik menyatakan bahwa dalam kepemimpinan barunya, BGN akan menerapkan sistem kolektif kolegial. “Saya hanya bertindak sebagai ‘ketua kelas’, sementara dua wakil saya akan memberikan masukan dan persetujuan dalam setiap keputusan,” jelasnya. Nanik menjelaskan bahwa sistem ini dirancang agar kebijakan MBG tidak lagi ditentukan secara sentral, tetapi melalui diskusi bersama yang lebih transparan.

Dalam penerapan strategi ini, BGN menekankan pentingnya kolaborasi antaranggota tim. “Semua keputusan akan kami baca dan evaluasi bersama, agar program ini bisa sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya. Nanik juga menyebut bahwa kepemimpinan baru akan memastikan MBG tidak hanya menjadi program pembagian makanan, tetapi juga menjadi upaya pemberdayaan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Perdebatan dari Lembaga Swadaya

Sebelumnya, YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) memberikan kritik terhadap perubahan fokus program MBG. Lembaga ini mengingatkan bahwa sudah terjadi 37 ribu anak keracunan akibat MBG di tahun 2026. “Kami menantang Nanik untuk memastikan bahwa dalam 100 hari pertama, tidak ada kasus keracunan yang terjadi,” kata YLKI dalam pernyataan resmi.

Menurut Nanik, kebijakan ini merupakan respons atas kekurangan sebelumnya. “Kami tidak ingin program MBG hanya menjadi pembagian makanan secara massal, tetapi juga menjadi upaya yang terukur dan terbukti manfaatnya,” katanya. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bukanlah penghapusan target 82 juta penerima manfaat, tetapi pergeseran prioritas agar layanan lebih tepat sasaran.

“Kemarin kami bertiga dipanggil oleh Bapak Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas,” ujar Nanik saat berbicara di Jakarta, Kamis (5/6/2026).

Dengan perubahan ini, BGN menginginkan bahwa indikator keberhasilan MBG tidak lagi bergantung pada jumlah penerima manfaat, tetapi pada seberapa efektif distribusi makanan bergizi. “Kami ingin program ini bisa memberikan dampak jangka panjang, bukan hanya untuk tahun ini,” tambah Nanik. Ia menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif dan penekanan pada kualitas akan membuka ruang untuk evaluasi lebih mendalam terhadap pelaksanaan MBG.

Kebijakan yang Berdampak

Nanik menyatakan bahwa pergeseran fokus MBG menjadi kualitas adalah langkah penting dalam memastikan program tidak hanya mencapai angka, tetapi juga menciptakan perubahan nyata. “Kami ingin masyarakat yang kurang beruntung bisa mendapat manfaat seoptimal mungkin,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa langkah ini akan memberikan waktu bagi BGN untuk melakukan perbaikan secara bertahap.

Dengan keterlibatan Kemenkes dan pengalihan sasaran ke 3T, Nanik berharap program MBG bisa menjadi lebih bermakna bagi keluarga miskin, ibu hamil, dan balita. “Kami yakin, jika fokus diarahkan ke kualitas, hasilnya akan lebih baik,” katanya. Nanik menegaskan bahwa kepemimpinan baru BGN tidak akan mengejar keberhasilan dengan cara cepat, tetapi melalui pendekatan yang lebih matang dan berkelanjutan.

Langkah ini juga akan memperkuat koordinasi antara Kemenkes dan BGN. “Kami ingin setiap kebijakan diarahkan ke kebutuhan masyarakat, bukan hanya ke angka yang menarik,” ujar Budi Gunadi Sadikin. Ia menilai bahwa pendekatan kualitas akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap MBG, serta mencegah adanya masalah serupa seperti keracunan yang terjadi di tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *