Kebakaran Lahan Gambut di Aceh Selatan Meluas Jadi 25 Hektare, Api Masih Menyala

Share: X Facebook
khrisna-edit-1783546271-40af48e3dc

Kebakaran Gambut Aceh Selatan 25 Hektare: Facing Challenges Pemadaman

Pondokkebaikan.com – Kawasan Seuneubok Pusaka di Kabupaten Aceh Selatan kini tengah menghadapi situasi darurat akibat kebakaran lahan gambut yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Berdasarkan data terbaru, luas area yang tersapu api mencapai 25 hektare, mengalami penambahan signifikan sebesar lima hektare dibandingkan dengan kondisi awal saat kejadian pertama kali terdeteksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa Facing Challenges dalam pengendalian api masih berlangsung intensif.

Respons cepat telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait. Tim gabungan yang terdiri dari personel Manggala Agni, petugas BKSDA Aceh, serta karyawan perusahaan perkebunan setempat dikerahkan secara intensif untuk mengatasi api yang membakar baik lapisan permukaan maupun lapisan bawah tanah. Proses pemadaman ini tidak berjalan mulus karena menghadapi berbagai kendala geografis dan logistik yang menjadi bagian dari Facing Challenges sehari-hari di lapangan.

Perkembangan Luas Kebakaran Setiap Hari

Kebakaran yang terjadi di kawasan Seuneubok Pusaka, tepatnya di Kecamatan Trumon Timur, terus menunjukkan tren peningkatan luas area terbakar. Ferdian Krisnanto, yang menjabat sebagai Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera di bawah Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, menyampaikan bahwa pemantauan perkembangan luas kebakaran dilakukan secara berkala setiap hari. Setiap hari menjadi momen penting dalam Facing Challenges ini.

“Hingga hari ketiga kebakaran, luas lahan yang terbakar meluas. Luas lahan terbakar hari pertama sekitar 20 hektare, kemudian meluas menjadi 23 hektare pada hari kedua. Hari ini, hari ketiga, lahan yang terbakar meluas dua hektare, sehingga total lahan terbakar mencapai 25 hektare,” katanya saat dihubungi dari Banda Aceh, Rabu.

Penjelasan Ferdian memberikan gambaran jelas mengenai progresivitas api yang semakin menyebar. Dari 20 hektare di hari pertama, api berhasil dikendalikan sebagian namun kembali meluas hingga 23 hektare pada hari kedua. Peningkatan dua hektare pada hari ketiga menunjukkan bahwa api masih aktif dan memerlukan penanganan berkelanjutan. Ini adalah bagian dari Facing Challenges yang harus dihadapi oleh seluruh tim pemadam.

Tim dan Sumber Daya yang Dikerahkan

Untuk mengatasi situasi ini, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera telah menempatkan satu regu Manggala Agni Daops Sumatera I/Sibolangit langsung di lokasi kejadian. Selain itu, satu regu tambahan juga disiapkan sebagai cadangan apabila diperlukan untuk memperkuat upaya pemadaman yang sedang berlangsung. Keberadaan tim cadangan ini menjadi kunci dalam menghadapi Facing Challenges yang tidak terduga.

Di samping personel Manggala Agni, proses pemadaman juga melibatkan petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta karyawan perusahaan perkebunan yang beroperasi di sekitar kawasan terdampak. Kolaborasi multipihak ini diharapkan dapat mempercepat penanganan api secara efektif. Setiap pihak memiliki peran penting dalam Facing Challenges bersama-sama.

Karakteristik Lahan dan Tantangan Pemadaman

Ferdian menjelaskan bahwa lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut dengan fungsi hak guna usaha (HGU) yang memiliki batas langsung dengan kawasan konservasi. Kondisi ini menambah kompleksitas penanganan karena api tidak hanya membakar permukaan tetapi juga menembus ke lapisan bawah tanah, sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit dan memerlukan waktu lebih lama. Karakteristik lahan gambut ini menjadi tantangan tersendiri dalam Facing Challenges pemadaman.

“Lahan yang terbakar tersebut merupakan kawasan gambut dengan fungsi hak guna usaha yang berbatasan dengan kawasan konservasi. Sedangkan tipe kebakaran di permukaan dan bawah lahan. Vegetasi lahan terdiri anakan kayu, semak belukar, tanaman pakis, sawit, dan lainnya,” katanya.

Keberagaman vegetasi di kawasan tersebut, mulai dari anakan kayu, semak belukar, tanaman pakis, hingga tanaman sawit, turut mempengaruhi pola penyebaran api. Kondisi cuaca selama operasi pemadaman pada hari kedua dinilai relatif mendukung karena langit cerah sejak pagi hingga sore hari. Kecepatan angin tercatat mencapai sembilan kilometer per jam, sementara sumber air untuk pemadaman diperoleh dari saluran-saluran yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

Meskipun cuaca mendukung, medan menuju titik kebakaran masih menjadi tantangan tersendiri. Tim pemadam membutuhkan waktu sekitar satu jam 20 menit dari Posko CRU Trumon untuk mencapai lokasi. Akses yang cukup jauh ini mempengaruhi efisiensi pengiriman personel dan peralatan ke titik api. Jarak tempuh ini menambah dimensi baru dalam Facing Challenges operasional.

Sebagaimana disampaikan Ferdian, kondisi kebakaran saat ini api masih menyala dan tim akan kembali besok untuk melakukan pemadaman lanjutan. Upaya ini akan terus dilakukan hingga api benar-benar padam dan tidak ada risiko penyalaan kembali di kawasan gambut tersebut. Facing Challenges ini akan terus berlanjut hingga seluruh area 25 hektare berhasil dikendalikan sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *