Pernah Beri Abolisi dan Amnesti
Dasco Ucapkan Ultah ke Nadiem Makarim, Netizen Terpecih
Dasco Ucapkan Ultah ke Nadiem Makarim – Di tengah sorotan publik terhadap kasus korupsi yang menimpa Nadiem Makarim, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengambil langkah yang memicu spekulasi. Dalam sebuah unggahan di akun Instagram resmi miliknya, Dasco membagikan pesan ulang tahun untuk mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut, pada Sabtu (4/7/2026). Pernyataan ini segera menjadi bahan perdebatan di media sosial, dengan sebagian netizen menyebutnya sebagai bentuk kode politik untuk amnesti atau abolisi.
Nadiem Makarim telah dihukum 10 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook dan perangkat pendukungnya selama periode 2020 hingga 2022. Pemerintah menetapkan hukuman ini setelah menemukan fakta bahwa ia memperoleh keuntungan finansial melalui pengadaan yang tidak transparan. Selain itu, ia juga dikenai denda sebesar Rp1 miliar serta kewajiban membayar uang pengganti Rp809,5 miliar. Jika uang pengganti tersebut tidak dibayarkan, hukuman penjara bisa diperpanjang selama lima tahun.
Perubahan dalam unggahan Dasco terjadi dalam beberapa jam. Awalnya, ia membagikan foto Nadiem Makarim yang sedang melambaikan tangan, lalu menghapusnya. Setelah itu, Dasco kembali mengunggah pesan yang sama, namun kali ini hanya disertai gambar buket bunga bertuliskan “Happy Birthday”. Perbedaan ini membuat sejumlah pengguna media sosial memperdebatkan maksud dari tindakan tersebut.
“Pesannya terlalu tepat, seperti kode keras amnesti atau abolisi,” tulis seorang warganet. “Tanda-tanda Nadiem akan terlepas dari hukuman,” tambah pengguna lainnya.
Kasus Nadiem Makarim kini menjadi bahan perdebatan besar. Meski sudah divonis, masih ada yang mempertanyakan apakah keputusan itu sudah final atau masih bisa dibantah. Pernyataan Dasco, sebagai anggota dewan yang juga berperan dalam proses hukum, memicu penafsiran bahwa ia ingin mendukung pembebasan Nadiem melalui kewenangan presiden.
Banyak orang menyebut bahwa hukuman terhadap Nadiem masih bisa dipertahankan jika ada upaya amnesti atau abolisi. Kedua bentuk penghapusan hukuman ini bisa diberikan oleh presiden, dengan alasan tertentu. Amnesti biasanya diberikan untuk menghapus kesalahan masa lalu, sementara abolisi berupa penghapusan hukum yang berlaku. Dengan memperingati hari ulang tahun Nadiem, Dasco dinilai sedang mencoba menunjukkan dukungan terhadap upaya pembebasan tersebut.
Heboh Gembok ‘Sakti’ Rp92,5 Miliar di Kemenimipas
Kasus korupsi Nadiem Makarim juga dianggap berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan anggaran di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenimipas). Penyelidikan menemukan bahwa ada pengadaan laptop Chromebook yang nilai totalnya mencapai Rp92,5 miliar. Nilai ini dinilai terlalu besar, dengan sejumlah anggota DPR menemukan indikasi penyalahgunaan dana.
Dalam persidangan, Majelis Hakim menyatakan Nadiem bersalah melakukan korupsi sebagaimana dakwaan subsider. Namun, terdapat pendapat yang berbeda dari salah satu anggota majelis hakim, Andi Saputra. Ia menyampaikan dissenting opinion, menyatakan bahwa dakwaan jaksa belum terbukti secara memadai dan berpendapat Nadiem seharusnya dibebaskan.
Persidangan tersebut menimbulkan perdebatan mengenai keadilan dalam proses hukum. Sebagian pihak mengkritik hukuman yang dijatuhkan, sementara yang lain mendukung tindakan pemerintah dalam menegakkan hukum. Sementara itu, Nadiem Makarim telah mengatakan akan mengajukan banding terhadap putusan ini. Ia berharap bisa membuktikan bahwa tindakannya tidak terbukti secara lengkap, sehingga hukuman bisa diperbaiki.
Peran Dasco dalam kasus ini semakin terlihat jelas. Sebagai anggota DPR yang mengawasi proses hukum, ia mungkin ingin mendukung upaya pembatalan hukuman melalui kewenangan presiden. Tapi, tindakan tersebut juga bisa dianggap sebagai bentuk tekanan politik, karena Nadiem merupakan tokoh yang memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan.
Reaksi warganet terhadap unggahan Dasco mencerminkan perbedaan pandangan masyarakat. Beberapa orang berpikir bahwa hukuman Nadiem sudah adil, sementara yang lain merasa ada kemungkinan bahwa pemerintah akan memberikan kelebihan wewenang untuk membebaskannya. “Ini bukan sekadar ulang tahun, tapi juga tanda kebebasan Nadiem,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Di sisi lain, ada yang menganggap bahwa ucapan Dasco adalah bentuk persahabatan. Meski begitu, dalam konteks politik, pesan ulang tahun ini dianggap sebagai isyarat kuat. Banyak netizen menyebut bahwa Dasco sedang membangun strategi untuk membantu Nadiem dalam proses hukumnya. “Ini seperti permainan politik yang dirancang untuk mengubah nasib Nadiem,” kata salah satu komentar.
Sebagai pendiri Gojek, Nadiem Makarim telah menjadi simbol keberhasilan ekonomi digital di Indonesia. Namun, saat ini ia tengah diuji dalam ranah hukum. Dengan hukuman yang dijatuhkan, masa depannya tergantung pada apakah pihak berwenang akan memberikan amnesti atau abolisi, atau apakah putusan ini akan tetap berlaku. Masyarakat terus mengawasi langkah-langkah yang diambil, termasuk peran Dasco dalam memberikan dukungan untuk Nadiem.
Persidangan dan Kritik terhadap Hukuman
Setelah mengunggah pesan ulang tahun, Dasco disebut sebagai bagian dari kekuatan politik yang mungkin berusaha membantu Nadiem. Sejumlah orang menyebut bahwa ia sedang menunjukkan sikap simpatik terhadap mantan menteri tersebut, sekaligus mengatur opini publik. “Dasco sedang mencoba mengubah persepsi masyarakat tentang kasus Nadiem,” tulis seorang warganet.
Kasus korupsi Nadiem Makarim telah menyita perhatian publik. Sejak 2020, ada dugaan bahwa ia memanfaatkan pengadaan laptop Chromebook untuk memperoleh keuntungan finansial. Hal ini terbongkar setelah audit menemukan fakta bahwa ada dana yang dialokasikan dengan jumlah melebihi kebutuhan sebenarnya. Sejumlah anggota DPR menyebut bahwa Nadiem mencoba mengalihkan uang negara ke kepentingan pribadi.
Dalam pengadilan, Nadiem tidak hanya dihukum penjara, tetapi juga dikenai denda serta kewajiban membayar uang pengganti. Pengadilan menilai bahwa ia terbukti melakukan korupsi yang memperoleh keuntungan finansial. Meski demikian, masih ada yang berpendapat bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak cukup kuat untuk mendukung hukuman tersebut. “Nadiem sudah memenuhi syarat, tapi hukumannya terlalu berat,” tulis seorang netizen.
Unggahan Dasco tentang ulang tahun Nadiem menjadi simbol perlawanan politik terhadap putusan pengadilan. Tidak hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang dianggap lebih strategis. Beberapa orang menganggap bahwa tindakan ini adalah bentuk support terhadap upaya amnesti yang mungkin akan diberikan oleh presiden. “Dasco sedang menyiapkan jalan untuk Nadiem,” tulis seorang pengguna media sosial.
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dalam sistem hukum Indonesia. Apakah hukuman yang dijatuhkan cukup adil, atau apakah ada kekuatan politik yang memengaruhi putusan tersebut? Dengan kehadiran nama Dasco dalam proses ini, masyarakat semakin waspada terhadap kemungkinan adanya intervensi dari kalangan politik dalam kasus korupsi.
Sejumlah warganet menyebut bahwa ucapan Dasco adalah bagian dari kampanye untuk mendukung Nadiem. Mereka berpendapat bahwa Nadiem memiliki kontribusi besar bagi pendidikan nasional, sehingga layak mendapatkan pembebasan. “Nadiem adalah sosok yang pantas dihormati, jadi ia harus diberikan kesempatan,” tulis salah satu komentar. Namun, ada juga yang menilai bahwa pemberian amnesti atau abolisi akan memperlemah penegakan hukum.
Dengan memperingati hari ulang tahun Nadiem, Dasco dinilai sedang mencoba



