Korban Ketiga Operasi Narkoba Katingan: Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal

Share: X Facebook
98334-ilustrasi-tragedi-penggerebekan-bandar-narkoba-di-katingan-berujung-satu-anggota-polisi-gugur

Korban Ketiga Operasi Narkoba Katingan: Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal

Pondokkebaikan.com – Important News – Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, kembali menggemparkan publik setelah pemandu sekaligus anggota Polri bernama Aiptu Sumaryanto ditemukan tewas di Sungai Desa Rantau Asem. Kejadian ini menambah daftar korban dalam operasi penindakan bandar narkoba yang berlangsung di daerah tersebut. Sebelumnya, dua anggota polisi telah gugur, yaitu Aipda Yudhie Perdana Putra dan Bripda Nopandri Ramadhana, sehingga total jumlah personel kepolisian yang tewas mencapai tiga.

Operasi Berkelanjutan dan Penemuan Jenazah

Penemuan jenazah Aiptu Sumaryanto terjadi Minggu (5/7/2026), sekitar empat kilometer dari lokasi operasi. Tim pencarian yang terdiri dari personel Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, serta warga sekitar telah melaksanakan upaya penyelaman sejak pagi hari. Menurut informasi yang diterima, tim berhasil menemukan jenazah setelah menerima laporan dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam.

“Sekitar pukul 08.42 WIB, didapatkan informasi dari Babinsa Rantau Asem atas nama Kopda Imam bahwasanya ada mayat di Sungai Desa Rantau Asem, kemudian Babinsa memberitahukan tim pencarian dan tim menuju ke lokasi,” ungkap Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Proses Identifikasi dan Evakuasi

Setelah ditemukan, jenazah Aiptu Sumaryanto dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya untuk proses evakuasi. Tim gabungan memastikan identitas korban melalui pencocokan data dan pemantauan dari warga setempat. Proses ini memakan waktu sekitar tiga jam, sebelum akhirnya jenazah dinyatakan sepenuhnya teridentifikasi.

Kepala Polres Katingan mengatakan, kondisi jenazah terlihat mengalami cedera serius, dengan luka di bagian kepala dan dada. Hal ini menunjukkan bahwa korban kemungkinan besar mengalami perlawanan saat operasi berlangsung. Meski begitu, petugas belum menemukan bukti jelas mengenai penyebab kematian yang pasti, termasuk apakah terjadi tembakan atau luka akibat perangkap yang disiapkan oleh pelaku.

Detail Operasi Penindakan Bandar Narkoba

Operasi penangkapan terhadap bandar narkoba berinisial BIO berlangsung di Desa Tumbang Kalemei. Saat tim kepolisian melakukan pengejaran, massa yang diduga terlibat dalam perlawanan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan. Tindakan ini mengakibatkan kekacauan di sekitar lokasi, dengan beberapa petugas terluka dan satu dari mereka tewas.

Aiptu Sumaryanto menjadi korban ketiga dalam operasi ini. Menurut laporan, korban sempat dinyatakan hilang sejak operasi dimulai. Upaya pencarian di sungai yang berair deras sempat mengalami hambatan, karena arus sungai yang cepat. Namun, tim berhasil menemukan jasad korban setelah melakukan penyelaman intensif.

Penyebab Kematian dan Tantangan Operasi

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menjelaskan, operasi ini bertujuan untuk mengungkap jaringan peredaran narkoba yang telah lama beroperasi di wilayah Katingan. Dalam operasi tersebut, petugas menemukan beberapa barang bukti berupa kemasan narkoba dan senjata api. Namun, perlawanan dari massa menjadi tantangan utama yang mengakibatkan tiga anggota kepolisian gugur.

Korban ketiga, Aiptu Sumaryanto, dilaporkan terkena peluru saat bertarung dengan para pelaku. Meski kondisi jenazah belum sepenuhnya jelas, kepolisian memastikan bahwa korban tidak mengalami cedera sebelum tewas. Proses penyelaman di sungai juga memperlihatkan bahwa tim gabungan harus menghadapi kondisi yang sulit, termasuk kegelapan dan arus yang deras.

Reaksi Masyarakat dan Keterlibatan Komunitas

Kemajuan dalam operasi ini tidak hanya ditunjang oleh kepolisian, tetapi juga masyarakat setempat. Sejumlah warga berpartisipasi dalam pencarian jenazah, membantu mengumpulkan informasi tentang arah aliran air dan keberadaan korban. Direktur Bareskrim menyebutkan, kerja sama dari masyarakat mempercepat proses identifikasi dan pengamanan jenazah.

Seorang warga Desa Rantau Asem, Dedi Surya, mengatakan bahwa masyarakat merasa prihatin atas kejadian tersebut. “Kami merasa sedih karena salah satu anggota polisi yang selama ini membantu kami dalam membasmi kejahatan narkoba kini telah gugur,” ujarnya. Ia menambahkan, warga juga berharap operasi ini bisa membawa hasil yang lebih besar, termasuk penangkapan pelaku utama.

Penyelidikan Lanjutan dan Harapan Masyarakat

Tim gabungan masih terus berupaya menemukan pelaku penyerangan yang menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan. Penelusuran sedang difokuskan pada daerah sekitar Desa Tumbang Kalemei, di mana operasi berlangsung. Direktur Bareskrim menyatakan, seluruh barang bukti yang ditemukan akan dianalisis untuk memperkuat kasus terhadap bandar narkoba BIO.

Kasus ini menjadi sorotan karena menggambarkan keberanian petugas kepolisian dalam menghadapi ancaman dari massa. Seorang pengamat keamanan, Dr. Rizal Pratama, mengatakan bahwa kejadian ini memperlihatkan kompleksitas perangkat anti-narkoba di Indonesia. “Penyerangan terhadap petugas bisa terjadi karena ada konspirasi dari pelaku, atau mungkin karena ketakutan akan pembongkaran jaringan narkoba mereka,” terangnya.

Peran Babinsa dan Koordinasi Tim

Penggunaan Babinsa (Bintara Pembina Desa) dalam operasi ini menunjukkan upaya koordinasi antara kepolisian dan TNI. Kopda Imam, Babinsa yang pertama kali menemukan jenazah, menjelaskan bahwa ia mendapat informasi dari warga setempat bahwa ada mayat yang terapung di sungai. “Saya langsung menghubungi tim pencarian, dan mereka segera bergerak ke lokasi untuk melakukan identifikasi,” katanya.

Koordinasi antarunit kepolisian dan TNI juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi. Personel dari berbagai satuan seperti Polairud dan Kodim 1019/Katingan dikerahkan untuk membantu pencarian. Meski operasi ini berjalan intens, kondisi cuaca yang buruk dan kondisi geografis yang sulit tetap menjadi tantangan dalam evakuasi dan penyelaman jenazah.

Penyebab Kematian dan Keterlibatan Senjata Rakitan

Penggunaan senjata api rakitan oleh pelaku diperkirakan memicu perlawanan terhadap petugas. Sejumlah saksi menyatakan bahwa para pelaku mengambil senjata dari dalam hutan saat operasi berlangsung. Kebocoran informasi mengenai lokasi penangkapan membuat massa bergerak cepat untuk menghent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *