Program Terbaru: Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memuncak setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa berujung pada kekacauan serius. Langkah tersebut, menurut Trump, diambil sebagai bentuk tekanan terhadap Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis. Namun, respons dari Iran justru memperlihatkan kritik terhadap kebijakan militer AS.

Respons Iran terhadap Ultimatum Trump

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, secara tajam menuduh kebijakan Trump berpotensi menyebabkan kerusakan besar bagi warga Amerika Serikat. Dalam pernyataannya di Senin (6/4/2026), Qalibaf menekankan bahwa serangan militer AS terhadap Iran tidak hanya memperburuk situasi Timur Tengah, tetapi juga membawa risiko bagi negara sendiri.

“Tindakan-tindakan impulsif Anda menempatkan Amerika Serikat ke dalam neraka yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu,” tulis Qalibaf.

Qalibaf mengkritik langkah Trump yang mengancam akan menyerang infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Dia menegaskan bahwa strategi militer tidak akan memberikan keuntungan bagi AS.

Kritik Rusia terhadap Pendekatan Washington

Kritik terhadap kebijakan AS juga datang dari Rusia. Duta besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menyatakan pemerintah AS gagal memahami posisi Iran dalam proses negosiasi. Menurut Ulyanov, Iran hanya akan menerima kesepakatan yang didasarkan pada kompromi, bukan tekanan atau ultimatum sepihak.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terjadi setelah serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari kemarin. Sejak operasi militer dimulai, Teheran mengumumkan bahwa perairan itu akan ditutup bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai musuh. Pemerintah Iran menegaskan bahwa akses ke Selat Hormuz akan dibatasi selama periode yang diperpanjang.

Lihat Juga :   Strategi Penting: TOP 5: Petinggi Iran Ali Khamenei Tewas hingga MUI Desak Indonesia Keluar BoP

Selat Hormuz merupakan jalur energi kritis di dunia. Sebanyak 20% dari total pengiriman minyak global melalui perairan sempit ini. Selain itu, 20% perdagangan gas alam cair (LNG) juga bergantung pada jalur tersebut. Gangguan di selat itu kini mulai memengaruhi pasar energi internasional, termasuk harga minyak yang meningkat di AS.