BMKG: Waspada cuaca ekstrem saat peralihan musim di Bandung Raya
BMKG: Waspada cuaca ekstrem saat peralihan musim di Bandung Raya
Kondisi atmosfer tidak stabil akibat perubahan arah angin
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca ekstrem yang muncul saat musim hujan mulai berakhir dan musim kemarau tiba. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa periode peralihan ini ditandai oleh melemahnya angin barat dan masuknya angin timur, yang memicu ketidakstabilan di lapisan atmosfer.
“Fenomena ini biasanya dimulai dengan keadaan cuaca panas dan terik, lalu berubah menjadi hujan deras secara mendadak, disertai petir dan angin kencang,” kata Teguh di Bandung, Senin.
Hujan es terjadi di sejumlah wilayah Bandung Raya
Pada Jumat (3/4), BMKG mencatat adanya hujan es di sebagian area Bandung Raya. Fenomena tersebut terjadi akibat pembentukan awan Cumulonimbus sejak pukul 12.00 WIB, yang menyebabkan angin bergerak dengan kecepatan mencapai 42,6 km/jam. Kondisi ini memicu berbagai dampak, seperti pohon tumbang di beberapa titik wilayah.
Penjelasan proses pembentukan hujan es
BMKG menjelaskan bahwa hujan es terbentuk dari uap air yang terbawa oleh udara naik ke puncak awan. Di sana, suhu sangat dingin menyebabkan air mengembun dan membeku, lalu jatuh ke bumi ketika arus udara mulai melemah. Fenomena ini berpotensi mengakibatkan bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, longsor, angin kencang, dan hujan es.
Imbauan untuk menghindari risiko saat cuaca ekstrem
Teguh Rahayu juga meminta warga mengurangi risiko cedera akibat cuaca ekstrem dengan tidak berlindung di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan yang rentan roboh. “Selain itu, kami mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati, terutama saat angin kencang dan petir muncul,” tambahnya.