Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Tingkat Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
Important Visit – Dalam situasi darurat udara yang memburuk, sebanyak 64 individu dari 33 unit keluarga yang terdampak dipindahkan ke lokasi pengungsian sementara akibat dampak asap pekat yang diakibatkan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Evakuasi ini dilakukan secara massal pada Kamis (2/7/2026) setelah pihak berwenang menilai kondisi kualitas udara di sekitar TPA sudah mencapai ambang bahaya bagi kesehatan masyarakat.
Respons dari Polda Banten dan Instansi Terkait
Kepolisian Daerah (Polda) Banten bersama instansi terkait mengambil langkah cepat untuk mengatasi kebakaran di TPA Jatiwaringin. Tim pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi dengan tambahan personel dari Direktorat Samapta dan Satuan Brimob, guna mempercepat upaya pemadaman. Selain itu, teknik water bombing diterapkan untuk mengurangi intensitas api yang memicu penyebaran asap.
“Kami telah melakukan koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang serta Dinas Pemadam Kebakaran,” kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol. Maruli Ahiles Hutapea. “Operasi water bombing yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, didatangkan dari Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan dengan kapasitas air 4.000 liter, terus berlangsung untuk meminimalkan risiko kesehatan warga sekitar.”
Dalam proses evakuasi, prioritas utama diberikan pada keselamatan warga. Pemadaman api dan pengungsian dilakukan secara bersamaan untuk memastikan masyarakat tidak terpapar polutan berbahaya selama operasi berlangsung. Maruli menegaskan bahwa seluruh personel di lapangan dilengkapi alat pelindung diri, seperti masker, untuk menjaga kesehatan mereka sekaligus mencegah penyebaran risiko.
Analisis Polusi Udara oleh KLH
Dalam laporan terbaru, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti peningkatan drastis kadar polutan di udara sekitar TPA Jatiwaringin. Berdasarkan pemantauan, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik, yang jauh melebihi baku mutu harian nasional sebesar 55 mikrogram. Sementara itu, PM10 tercatat mencapai 750, jauh di atas ambang batas ideal sebesar 75.
“Kami memastikan warga di sekitar TPA tetap menggunakan alat pelindung diri, terutama masker, agar dampak negatif pada kesehatan bisa diminimalkan,” jelas Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani. “Polutan seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) juga terdeteksi tinggi, yang berasal dari pembakaran sampah, termasuk bahan plastik yang berdampak signifikan pada kesehatan manusia.”
KLH menegaskan bahwa tingkat polusi udara di area tersebut sudah mencapai ambang tertinggi dalam sejarah. Konsentrasi partikulat halus yang mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik, misalnya, menunjukkan paparan asap yang sangat berisiko terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Kebakaran yang menghasilkan asap berbahaya ini dianggap sebagai ancaman serius bagi lingkungan sekitar.
Kebakaran di Prancis dan Kaitannya dengan Kualitas Udara
Sementara itu, di Prancis, kebakaran hebat terjadi di daerah dengan luas lahan 700 hektare yang dilanda cuaca ekstrem. Kebakaran ini menjadi sorotan karena dampaknya terhadap kualitas udara di sekitar wilayah tersebut, yang juga memicu evakuasi warga sebagian besar. Meski terjadi di negara berbeda, situasi serupa menunjukkan bahwa masalah polusi udara akibat kebakaran bisa berdampak luas, tidak hanya terbatas pada wilayah lokal.
Penyebab kebakaran di TPA Jatiwaringin dan Prancis menunjukkan kesamaan dalam aspek lingkungan. Di TPA Jatiwaringin, api yang membara di sampah organik dan plastik menyebarkan asap beracun, sementara di Prancis, api memakan lahan hutan atau tanah yang menghasilkan partikel berbahaya. Kedua insiden ini menegaskan pentingnya pengelolaan sampah dan pencegahan kebakaran di area pemusnahan sampah.
Langkah-langkah untuk Mengurangi Dampak Kebakaran
Menyusul evakuasi massal, berbagai langkah pencegahan dilakukan untuk mengendalikan situasi. Selain water bombing, pihak berwenang menambah jumlah personel di lokasi kebakaran dan memberikan instruksi bagi warga untuk tetap menjauhi area terbakar. Maruli menambahkan bahwa upaya ini dilakukan demi mengurangi paparan asap dan memastikan keselamatan warga sekitar.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mendekati titik kebakaran selama proses pemadaman masih berlangsung,” tegas Maruli.



