Komdigi dan Universitas Brawijaya Bangun Sistem AI Pendukung Sekolah Rakyat

Share: X Facebook
97721-kemensos

Komdigi dan Universitas Brawijaya Bangun Sistem AI Pendukung Sekolah Rakyat

Pondokkebaikan.com – Pemerintah, melalui Kementerian Sosial, bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB), sedang mengerjakan sistem manajemen dan pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efektivitas Sekolah Rakyat. Proyek ini bertujuan menyediakan solusi teknologi yang mampu mendukung penyelenggaraan program pendidikan sosial tersebut. Proses pengembangan dijalankan dalam kerangka Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dikelola oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi.

Penyelenggaraan Sekolah Rakyat Dikuasai AI

Program AITF menghasilkan teknologi AI yang dirancang khusus untuk diterapkan di ratusan Sekolah Rakyat. Sebagai bagian dari inisiatif ini, sistem tersebut telah diuji coba dalam acara Demo Day & Graduation AITF 2026 yang diadakan di Auditorium Algoritma, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada Selasa (30/6/2026). Selama acara tersebut, Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, menjelaskan bahwa AI akan menjadi alat penting dalam membantu para pendidik.

“AI berperan dalam seluruh tahapan pengelolaan Sekolah Rakyat, mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Kami sudah menyetujui penggunaan aplikasi ini di 178 lembaga pendidikan yang beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027,” kata Robben.

Robben Rico menegaskan bahwa teknologi ini akan mempermudah kepala sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum, menyajikan materi pembelajaran, serta menciptakan soal ujian awal dan akhir. Dengan adanya AI, proses pendidikan diharapkan lebih terstruktur dan efisien. Selain itu, sistem akan memfasilitasi pengumpulan data pelajar untuk analisis lebih lanjut, seperti kemampuan akademik atau pola belajar.

Pengembangan teknologi ini tidak hanya bergantung pada inovasi alat, tetapi juga didukung oleh pelatihan langsung kepada para pengajar. Robben menyatakan bahwa Kemensos akan memberikan pendampingan teknis kepada 178 Sekolah Rakyat. Keterlibatan tenaga pendidik menjadi kunci utama agar sistem AI benar-benar bermanfaat dalam dunia nyata. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan program ini agar berjalan optimal.

Integrasi Sistem AI dengan Learning Management System

Kemensos menargetkan integrasi Sistem AI hasil AITF dengan Learning Management System (LMS) yang sudah ada di Sekolah Rakyat. Tujuannya adalah memastikan semua aktivitas belajar-mengajar dapat dilacak dan dianalisis secara digital. Dengan adanya LMS yang terhubung ke AI, kecerdasan digital (Digital Quotient) di kalangan pelajar dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Robben Rico menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi ini akan memastikan distribusi manfaat yang merata. “Kami akan memaksimalkan anggaran yang tersedia agar program ini bisa dilaksanakan secara luas,” ujarnya. Ia menekankan bahwa prototype yang dihasilkan perlu diimplementasikan menjadi aplikasi nyata yang bisa digunakan oleh masyarakat secara langsung.

“Kami di Kemensos akan memastikan pelaksanaan program ini bisa dibantu dan di-cover dengan anggaran yang proper. Ini kan prototype kemudian harus diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang sebenarnya,” tambah Robben.

Program AITF sendiri merupakan kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Digital dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Selain UB, institusi seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) turut terlibat. Masing-masing kampus diberi fokus pengembangan yang berbeda sesuai kebutuhan spesifik di lapangan.

Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala BPSDM Komdigi, menjelaskan bahwa AITF dirancang untuk menjawab tantangan pendidikan di Indonesia. “Kolaborasi ini melibatkan tim peneliti dari berbagai universitas, sehingga solusi yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan nyata,” katanya. Program ini diharapkan bisa menjadi contoh inovasi teknologi yang dapat berdampak jangka panjang.

Sekolah Rakyat, sebagai salah satu bentuk pendidikan alternatif, berperan penting dalam mengatasi masalah kemiskinan di kalangan anak-anak. Namun, kinerjanya masih bergantung pada sumber daya manusia dan metode konvensional. Dengan adanya sistem AI, diharapkan proses pendidikan bisa lebih terukur, terstandarisasi, dan menjangkau lebih banyak siswa.

Target Pemanfaatan dan Tantangan yang Dihadapi

Kemensos menargetkan seluruh inovasi dari AITF dapat diimplementasikan secara lengkap pada akhir 2026. Tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan paradigma dari pengajar yang terbiasa menggunakan metode tradisional ke sistem digital. Untuk mengatasi hal ini, pihak Kemensos mengajak talenta pengembang AITF untuk terlibat aktif dalam sosialisasi teknologi ke lebih dari 5.000 guru di seluruh Indonesia.

Robben Rico menjelaskan bahwa pemanfaatan AI tidak sekadar memberikan alat, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. “AI bisa membantu identifikasi kebutuhan siswa secara real-time, sehingga guru bisa menyesuaikan strategi pengajaran dengan lebih tepat,” katanya. Proyek ini juga diharapkan memperkuat kerja sama antar instansi pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi.

Program AITF telah menunjukkan kemampuannya dalam menghasilkan sistem yang bisa dipakai langsung. Namun, ada tantangan lain, seperti ketersediaan infrastruktur internet dan perangkat komputer di sekolah-sekolah terpencil. Untuk itu, Kemensos dan Kementerian Komunikasi dan Digital akan berkoordinasi guna memastikan teknologi bisa diakses oleh seluruh peserta program. “Kami akan mengoptimalkan sumber daya agar tidak ada sekolah yang tertinggal,” jelas Robben.

Dengan adanya sistem AI ini, Sekolah Rakyat diharapkan bisa menjadi sarana pendidikan yang lebih inklusif dan efektif. Selain itu, proyek ini juga berpotensi menjadi model pembelajaran berbasis teknologi yang bisa diterapkan di tingkat SD, SMP, dan SMA. Pemprov Jawa Timur, sebagai mitra, akan memanfaatkan sistem tersebut untuk mendukung program bantuan sosial yang ada di wilayahnya.

Menjadi Solusi untuk Kemiskinan atau Hanya Temporer?

Program Sekolah Rakyat selama ini dianggap sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan di kalangan anak-anak. Namun, ada pertanyaan apakah teknologi AI bisa memperkuat dampaknya atau hanya menjadi proyek jangka pendek. Bonifasius Wahyu Pudjianto menjelaskan bahwa AITF adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.

Dengan adanya AI, proses pendidikan bisa menjadi lebih terukur dan berkelanjutan. Selain itu, teknologi ini berpotensi mengurangi beban guru dalam pengelolaan kelas. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan penyesuaian kurikulum dan pelatihan yang berkelanjutan. “Sistem AI ini akan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih maju,” kata Bonifasius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *