Cegah Stunting Dimulai dari Deteksi Dini Anemia, Puskesmas Didorong Perkuat Skrining Ibu dan Anak
Pondokkebaikan.com – Di tengah upaya menurunkan angka stunting, APKESMI meluncurkan inisiatif baru pada 29 Juni 2026 dengan nama Program Puskesmas Siap SEDIA. Program ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer untuk mengurangi risiko stunting melalui pendekatan pencegahan berbasis skrining anemia dan gangguan pertumbuhan.
Konteks Stunting di Indonesia: Data dan Fakta
Stunting, atau keterlambatan pertumbuhan anak, masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, sekitar 19,8 persen balita masih mengalami gangguan pertumbuhan kronis. Angka ini menunjukkan bahwa satu dari lima anak di bawah lima tahun masih berisiko mengalami stunting, yang dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Kusnadi, Ketua Umum DPP Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI), menjelaskan bahwa upaya mengatasi stunting harus dimulai dari penguatan layanan kesehatan primer. “Puskesmas memiliki peran krusial sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani masalah gizi sejak dini,” katanya. Anemia defisiensi besi (ADB) menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan, karena bisa memengaruhi perkembangan fisik dan mental anak.
Program Puskesmas Siap SEDIA: Strategi Terpadu untuk Pencegahan
Program ini dirancang untuk mendorong skrining lebih efektif terhadap anemia dan gangguan pertumbuhan pada ibu hamil serta anak. Puskesmas yang terlibat didorong mengadopsi metode standar antropometri dan kalkulator zat besi, yang dapat membantu mengidentifikasi risiko defisiensi besi secara lebih akurat. Selain skrining, program ini juga menyediakan edukasi nutrisi dan intervensi berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.
Kusnadi menekankan bahwa pendekatan terpadu dalam layanan kesehatan primer menjadi kunci untuk mengurangi angka stunting secara berkelanjutan. “Dengan skrining awal, pencegahan anemia dan stunting bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” ujarnya. Ia berharap program ini mendorong kolaborasi antara puskesmas dan masyarakat untuk menjaga kesehatan ibu dan anak sejak dini.
Peluncuran Bersamaan dengan Hari Keluarga Nasional
Peluncuran Program Puskesmas Siap SEDIA dilakukan pada momentum Hari Keluarga Nasional, sebagai bentuk peningkatan kapasitas layanan kesehatan primer. Inisiatif ini didukung oleh Danone Indonesia, yang berperan dalam memberikan bantuan teknis dan sumber daya untuk implementasi skrining, edukasi, serta intervensi dini.
Menurut Kusnadi, penguatan layanan primer bukan hanya tentang deteksi dini, tetapi juga tentang memastikan akses yang merata kepada masyarakat. “Dengan memperkuat kapasitas puskesmas, kita bisa memastikan bahwa setiap keluarga memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi masalah gizi sebelum berkembang menjadi kondisi berat,” tuturnya. Hal ini menjadi langkah strategis untuk membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif dan efektif.
Konteks Anemia: Dampak pada Perkembangan Otak Anak
Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi pada anak tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak signifikan pada perkembangan otak. “Kekurangan zat besi bisa mengganggu kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan proses belajar anak secara jangka panjang,” ujarnya.
Studi oleh Institut Kesehatan dan Kebutuhan Dasar (IHDC) menunjukkan bahwa hampir satu dari lima anak di Jakarta mengalami gangguan memori akibat anemia. Fakta ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan pencegahan sejak usia dini. “Dengan pendekatan ilmiah, intervensi yang dilakukan lebih tepat dan berkelanjutan,” tambah dr. Ray. Ia menekankan bahwa kesehatan dan nutrisi di masa awal kehidupan adalah fondasi bagi pertumbuhan anak yang optimal.
Integrasi Layanan: Skrining, Edukasi, dan Intervensi
Program Puskesmas Siap SEDIA mencakup tiga komponen utama: skrining, edukasi, dan intervensi. Tenaga kesehatan diharapkan melakukan pemeriksaan rutin menggunakan alat antropometri dan kalkulator zat besi, sehingga bisa mendeteksi risiko anemia atau gangguan pertumbuhan lebih dini. Selain itu, program ini juga menyediakan materi edukasi tentang pentingnya asupan zat besi, gizi seimbang, dan pola makan sehat bagi ibu dan anak.
Menurut dr. Ray, peningkatan kesadaran masyarakat tentang nutrisi dan anemia sangat penting. “Edukasi yang terstruktur bisa membantu orang tua memahami bagaimana mencegah masalah gizi, terutama pada tahap perkembangan anak,” katanya. Intervensi yang dilakukan akan disesuaikan dengan hasil skrining dan rekomendasi para tenaga kesehatan, baik melalui suplemen zat besi maupun perubahan pola makan.
Kolaborasi dan Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya Program Puskesmas Siap SEDIA, APKESMI berharap lebih banyak ibu dan anak mendapatkan akses ke layanan kesehatan primer yang komprehensif. “Implementasi program ini bisa menjadi langkah awal dalam membangun sistem pencegahan stunting yang lebih efektif,” kata Kusnadi. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara puskesmas dan mitra seperti Danone Indonesia adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan kesehatan yang mendukung pertumbuhan anak.
Program ini juga diharapkan meningkatkan kualitas pelayanan di puskesmas, termasuk memperkuat keahlian tenaga kesehatan dalam menangani masalah gizi. Dengan pendekatan integratif, pencegahan anemia dan stunting bisa dilakukan secara lebih sistematis, sebelum berdampak signifikan pada kesehatan anak. “Kami yakin bahwa deteksi dini dan intervensi tepat waktu akan berkontribusi besar pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia,” ujar Kusnadi.
“Puskesmas memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani masalah gizi sejak dini,” kata Kusnadi dalam peluncuran Program Puskesmas Siap SEDIA.
“Upaya pencegahan



