Gara-Gara Keyboard Palsu – Puluhan Karyawan Bank Dipecat

Karyawan Dipecat Gara-Gara Keyboard Palsu

Jakarta, CNBC Indonesia — Sejumlah besar karyawan bank diberhentikan secara massal karena menggunakan perangkat keyboard palsu, menurut laporan yang dibagikan oleh Quartz pada Minggu (8/3/2025). Perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa mereka menemukan adanya simulasi aktivitas keyboard yang menghasilkan ilusi kerja aktif. Dalam pengajuan ke Otoritas Regulasi Industri Keuangan (FINRA), mereka menjelaskan alasan pemecatan berkaitan dengan tuduhan tersebut.

“Wells Fargo memiliki standar tinggi untuk karyawan dan tidak menoleransi perilaku tidak etis,” tutur juru bicara perusahaan.

Perangkat yang digunakan disebut mouse jigglers. Alat ini membuat mouse seolah-olah bergerak meski tidak ada interaksi nyata, sehingga komputer tetap terjaga. Karyawan yang memanfaatkan perangkat ini bisa membuat layar komputer aktif tanpa melakukan tugas sebenarnya. Menurut sumber, alat serupa banyak ditemukan di pasaran dan sangat populer di kalangan pekerja jarak jauh selama masa pandemi Covid-19.

Banyak orang khawatir mengenai efektivitas sistem kerja dari rumah (WFH). Sebuah laporan dari State of the Global Workplace Gallup mencatat 62% pekerja di seluruh dunia tidak terlibat sepenuhnya dalam tugas mereka. Sementara 15% di antaranya dianggap tidak aktif bekerja, meski tetap berada di posisi jabatan. Mereka menyatakan diri mereka memiliki manajer yang tidak efektif atau mencari pekerjaan baru.

Dalam beberapa kesempatan, sistem kerja jarak jauh memicu perdebatan. Alat keyboard palsu menjadi salah satu cara untuk memanipulasi pengawasan langsung dari atasan. Dengan penggunaan mouse jigglers, pegawai bisa berpura-pura bekerja tanpa diawasi secara langsung, seperti saat bekerja di kantor. Baca: PHK Massal Pecah Rekor di 2025, Ini Alasan Ramai-ramai Pecat Karyawan.

Alat Keyboard Palsu Menjadi Tren di Masa Pandemi

Mouse jigglers, yang berfungsi menggerakkan pointer mouse secara otomatis, semakin digunakan dalam era kerja jarak jauh. Produk ini memungkinkan pekerja menunjukkan aktivitas yang seolah-olah nyata, meski mereka sedang istirahat atau melakukan tugas lain. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kejujuran dalam sistem kerja fleksibel.