Latest Program: PSI Lempar Isu Prabowo-Gibran 2 Periode, PDIP Beri Sindiran Pedas: Emang Pak Prabowo Mau?

Share: X Facebook
50829-prabowo-gibran

Latest Program: PSI Teruskan Isu Dukungan Dua Periode Prabowo-Gibran, PDIP Beri Sindiran Pedas

Latest Program menjadi sorotan utama dalam perdebatan politik saat ini, terutama setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memperkuat isu dukungan dua periode untuk pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Kritik pedas dari Ketua DPP PDIP, Deddy Yevri Sitorus, muncul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (23/6/2026), ketika ia menyoroti strategi PSI yang dinilai kurang mandiri dan lebih mengandalkan isu luar untuk menarik perhatian publik. Deddy menegaskan bahwa ini adalah langkah strategis yang terkesan terburu-buru, sebelum jangka waktu pemilu 2029 yang masih jauh.

Strategi PSI Dinilai Menggantungkan pada Nama Besar

Dedy menyatakan bahwa PSI cenderung memanfaatkan popularitas tokoh besar sebagai dasar untuk membangun strategi politik. Menurutnya, partai ini lebih sering menggantungkan diri pada isu yang sedang hangat, seperti isu dukungan dua periode, daripada memperkuat basis internalnya. “PSI itu selalu mencari jalan mudah. Mereka mempergunakan nama-nama besar atau isu viral untuk menarik simpati, bukan karena kekuatan partai sendiri,” jelas Deddy. Ini terjadi saat upaya memperkuat posisi PSI dalam persaingan pemilu mendatang.

“Mereka tidak membangun partai secara konsisten, melainkan menggerakkan publik dengan cara menyerang pihak lain dan membangun narasi tertentu,” kata Deddy. Kritiknya menunjukkan bahwa isu ini dibuat secara tiba-tiba untuk mendongkrak popularitas, bukan berdasarkan analisis yang matang.

Isu Dua Periode Jadi Pemikat, Tapi Apakah Konsisten?

Deddy menekankan bahwa isu dukungan dua periode Prabowo-Gibran harus diimbangi dengan kekuatan partai yang mumpuni. Ia mempertanyakan apakah PSI benar-benar memiliki konsistensi dalam mengusung isu ini, atau hanya sebagai bagian dari strategi jangka pendek. “Latest Program ini justru memperlihatkan bahwa PSI belum siap menghadapi tantangan politik yang lebih dalam. Mereka mengambil jalan pintas dengan membicarakan masa depan sebelum menyelesaikan masalah saat ini,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, isu dua periode dianggap sebagai cara untuk menciptakan momentum sebelum pemilu 2029. Deddy mengingatkan bahwa isu ini seharusnya tidak hanya tergantung pada narasi luar, tetapi juga mencerminkan rencana strategis yang matang. “Apakah PSI sudah memastikan dukungan Prabowo-Gibran untuk dua periode? Atau ini hanya retorika tanpa dasar yang jelas?” tanyanya kepada para pengurus partai.

PDIP Minta Fokus pada Isu Mendesak

Ketua DPP PDIP tersebut menekankan pentingnya fokus pada isu-isu yang lebih mendesak, seperti inflasi, keterbatasan akses layanan kesehatan, dan ketegangan politik di berbagai daerah. “Latest Program ini justru membuat masyarakat melupakan krisis yang mereka hadapi sehari-hari. Jangan hanya memikirkan masa depan, selesaikan dulu isu internal dan eksternal yang memengaruhi kesejahteraan rakyat,” imbuh Deddy. Ia menilai PSI perlu mengubah pendekatan untuk menunjukkan komitmen yang lebih tulus.

“Jika PSI ingin bersaing secara adil, mereka harus memiliki kekuatan internal yang kuat, bukan hanya memanfaatkan isu yang sedang viral. Mereka terkesan selalu mengikuti arus, bukan memimpinnya,” jelas Deddy. Kritik ini menyoroti bahwa partai harus memiliki strategi yang konsisten, bukan hanya muncul dalam isu yang dibuat tiba-tiba.

Isu Dua Periode Dinilai Kurang Tepat

Deddy juga menyoroti bahwa momentum isu dukungan dua periode terasa kurang tepat, terutama saat masyarakat sedang terpukul oleh berbagai krisis. “Latest Program ini seolah ingin mempercepat proses pemilu, tapi seharusnya kita fokus pada pemerintahan saat ini, bukan langsung ke masa depan,” tegasnya. Ia menilai PSI perlu memikirkan langkah-langkah jangka panjang yang lebih matang, bukan hanya memanfaatkan isu yang sedang hangat.

Dalam konteks pemilu 2029, Deddy berharap PSI bisa lebih konsisten dalam menyampaikan visi dan misi. “Jangan hanya menggantungkan diri pada isu luar, tapi buatlah program yang jelas dan terukur. Jika tidak, isu dua periode akan terasa seperti penipuan,” katanya. Ini menjadi sorotan utama dalam kritiknya terhadap kebijakan politik PSI.

Upaya Memperkuat Branding Partai

Latest Program menjadi alat untuk memperkuat branding partai, tetapi Deddy menilai bahwa PSI belum mampu menghadirkan nilai tambah yang signifikan. Ia meminta partai tersebut untuk memperhatikan aspirasi warga yang terus meningkat, terutama dalam bidang ekonomi dan sosial. “PSI harus berani menunjukkan kekuatan, bukan hanya menggantungkan diri pada isu yang diproduksi orang lain,” jelas Deddy. Kritik ini menunjukkan bahwa strategi politik PSI perlu diubah agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, kritik PDIP terhadap isu dukungan dua periode Prabowo-Gibran menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa Latest Program yang diusung PSI benar-benar mampu menggiring perhatian publik secara bermakna. Deddy menilai bahwa isu ini bisa menjadi bagian dari strategi politik yang lebih luas, asalkan didukung oleh program yang konkret dan konsisten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *