PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025
Special Plan – Komite PBB melaporkan bahwa hampir seribu warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel setelah perjanjian gencatan senjata di bulan Oktober. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan dalam jumlah korban yang meninggal sejak konflik meletus kembali. PBB menyatakan bahwa tindakan-tindakan ini terjadi dalam kurun waktu singkat, menunjukkan intensitas kekerasan yang terus meningkat.
Blokade bantuan kemanusiaan dan penindasan tanah di Tepi Barat menjadi faktor penyumbang utama dalam memperburuk situasi darurat. Masyarakat sipil, yang mayoritas tidak memiliki senjata, menjadi sasaran utama serangan yang berlangsung tanpa henti. Ketidakadilan dalam penyaluran bantuan internasional memicu ketegangan tambahan, sebab infrastruktur pendukung kehidupan warga terus terancam.
Volker Türk: Kebijakan Pengusiran Warga Ilegal
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengungkapkan bahwa rencana pengusiran massal dan penghapusan kemungkinan keberadaan negara Palestina melanggar hukum internasional. Menurut pihaknya, langkah-langkah ini dijalankan secara sistematis, memicu krisis keadilan yang semakin dalam.
“Sejumlah pejabat senior Israel terang-terangan berbicara soal pengusiran seluruh warga Palestina dari Gaza, dan penghapusan kemungkinan berdirinya negara Palestina yang layak. Semua ini sepenuhnya ilegal,” kata Türk dikutip dari WAFA, Selasa (16/6/2026).
Kebijakan ini tidak hanya mengancam kehidupan warga Palestina, tetapi juga mengurangi ruang hidup mereka secara bertahap. PBB mencatat bahwa kondisi tersebut diperparah oleh pembatasan logistik, sehingga bantuan internasional sulit mencapai wilayah yang terisolasi. Penindasan ini dianggap sebagai bagian dari strategi untuk mengontrol wilayah pendudukan dan mereduksi kekuatan politik Palestina.
Kebijakan Pangan dan Kesehatan sebagai Senjata
Dalam beberapa bulan terakhir, kebijakan pembatasan pasokan pangan serta obat-obatan menjadi senjata sekunder dalam menekan ketahanan masyarakat Gaza. Kebijakan ini menyebabkan kelaparan massal, dengan kelompok rentan seperti anak-anak menjadi korban utama. Tekanan terhadap kehidupan harian warga menjadi semakin nyata, terutama di luar jalur pertempuran utama.
Blokade juga menyebabkan penghancuran infrastruktur sipil yang tidak terduga. Penggusuran tanah dan peningkatan aksi pemukiman ilegal membuat komunitas Arab lokal semakin terancam. PBB mencatat bahwa kebijakan aneksasi sepihak ini secara efektif mempercepat kepunahan budaya dan identitas Palestina di wilayah yang dikuasai.
Kondisi Darurat di Wilayah Pendudukan
Alih-alih menciptakan ketenangan, gencatan senjata yang diumumkan pada bulan Oktober gagal mencegah eskalasi serangan udara dan operasi darat. Kehadiran pasukan keamanan dan pemukim ilegal semakin mengkhawatirkan, karena menunjukkan upaya terstruktur untuk mengontrol wilayah dengan kekuatan. Penjajahan ini membuat ratusan penduduk terdampak, dengan hampir 1.300 orang terluka dalam operasi terakhir.
Kebijakan pembatasan logistik memaksa warga menghabiskan hari-hari dalam keterbatasan, bahkan memicu kondisi krisis yang melibatkan penahanan tanpa proses hukum yang jelas. PBB menilai bahwa tindakan ini merugikan hak-hak dasar manusia, termasuk hak atas keamanan dan kelangsungan hidup.
Iran dan AS: Upaya Damai dalam Konflik Global
Sementara itu, negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat mengenai kesepakatan damai menegaskan bahwa Israel tidak boleh menjadi provokator utama. PBB mengkritik upaya negara tersebut untuk memperkuat dominasi di wilayah pendudukan dan mengabaikan resolusi yang telah diambil sebelumnya. Kebijakan ini membawa konflik kembali meletus, menimbulkan ketegangan antara kedua pihak.
Menurut Volker Türk, ambisi Israel untuk menghapus eksistensi bangsa Palestina tidak hanya merugikan kelangsungan hidup warga, tetapi juga menambah kecemasan global terhadap resolusi perdamaian. Dia menekankan bahwa tindakan pemerintahan Israel yang terus menerus dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional, termasuk kebijakan pertahanan yang tidak seimbang.
Krisis Kemanusiaan yang Berkelanjutan
Kebijakan aneksasi dan penindasan berkelanjutan menyebabkan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk. PBB mencatat bahwa wilayah pendudukan tidak hanya menjadi tempat pertempuran, tetapi juga menjadi zona konflik yang mengancam keberlanjutan peradaban. Perluasan pemukiman ilegal dan penyitaan tanah berulang kali dilakukan, mengakibatkan 23 perintah penyitaan baru dalam waktu singkat.
Situasi ini menunjukkan bahwa kekuasaan Israel terus memperkuat dominasi di wilayah yang diakui sebagai wilayah pendudukan. Korban yang tidak berdaya, seperti anak-anak dan wanita hamil, semakin terpinggirkan. PBB menilai bahwa upaya internasional untuk menghentikan penindasan ini masih kurang efektif, sehingga krisis berkelanjutan terus berlangsung.
Langkah-Langkah Mendesak untuk Perdamaian
Dunia internasional kini dituntut untuk mengambil tindakan lebih tegas, terlepas dari sekadar retorika kecaman. PBB menegaskan bahwa resolusi yang telah ditetapkan sebelumnya harus dihormati, dan pengusiran warga tidak boleh menjadi kebijakan yang berkelanjutan. Kepunahan budaya, penghapusan negara, dan penggusuran tanah menjadi isu utama yang memerlukan perhatian khusus dari pihak internasional.
Kondisi keamanan yang memburuk dan kekurangan bantuan kemanusiaan mengharuskan langkah-langkah darurat. Negara-negara anggota PBB diharapkan bersatu untuk menghentikan aneksasi dan mengamankan hak-hak warga Palestina. Selama ini, serangan yang terus menerus memperlihatkan bahwa Israel belum mengubah pola kekerasan, sehingga krisis kemanusiaan bisa berlarut-larut.
Kebijakan yang diterapkan oleh Israel menunjukkan kesengajaan untuk memperparah penderitaan warga Palestina. Dengan memblokir bantuan kemanusiaan dan mengusir penduduk secara sistematis, negara itu berusaha meredam kekuatan politik Palestina. Masyarakat internasional diharapkan tidak hanya mengkritik, tetapi juga mengambil tindakan konkret untuk melindungi hak-hak warga setempat.
Dalam waktu kurang dari setahun, lebih dari 57 nyawa telah berp



