Topics Covered: Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso

Share: X Facebook
48900-aliansi-bem-bersatu-tyo

Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso

Topics Covered – Aksi penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu menarik perhatian Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu. Organisasi tersebut mengungkap dugaan adanya intervensi dari aktor politik senior, yang turut memengaruhi jalannya pergerakan mahasiswa. Dalam pernyataan resmi, Aliansi BEM Bersatu menyatakan bahwa indikasi kuat keberadaan kepentingan politik tersembunyi di balik serangkaian aksi penolakan ini.

Tudingan Intervensi Aktor Politik dalam Aksi Penolakan MBG

Pimpinan aksi yang menggerakkan protes MBG diduga menerima bantuan logistik dengan standar kehidupan mewah, serta memiliki hubungan erat dengan tokoh-tokoh politik. Dugaan ini semakin kuat setelah terungkap bahwa salah satu tokoh utama dalam gerakan tersebut berada di bawah pengaruh jaringan yang terhubung dengan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Selain itu, kehadiran politisi tertentu dalam rangkaian aksi juga menjadi fokus penyelidikan.

Pimpinan Aksi Diduga Terkait dengan Jaringan Politik

Aliansi BEM Bersatu menyoroti bahwa pergerakan mahasiswa saat ini sedang terancam oleh agenda politik praktis yang difasilitasi oleh tokoh-tokoh kritis. Dugaan ini muncul dari penggunaan fasilitas mewah oleh para pemimpin aksi, termasuk mobil SUV Fortuner yang digunakan oleh Tiyo Ardianto. Menurut informasi yang diperoleh, kendaraan tersebut terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik dari Letjen Purn Setyo Sularso.

“Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso,” ujar Rahmat Djimbula, juru bicara Aliansi BEM Bersatu.

Mobil Fortuner Tiyo Ardianto dan Hubungan dengan Keluarga Letjen Purn

Dugaan keterlibatan Letjen Setyo Sularso dalam aksi tersebut semakin memperkuat setelah diketahui bahwa ia adalah besan dari Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh utama dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Hubungan ini mengisyaratkan adanya saluran kekuasaan yang memengaruhi keputusan akhir dalam gerakan mahasiswa. Siti Nuraeni, sebagai adik Letjen Sularso, menjadi bagian dari cerita ini, dengan status mobilnya yang dipakai sebagai alat mobilisasi.

Jejaring Politik yang Muncul dalam Aksi Mahasiswa

Aktor-aktor politik dari lapisan atas tampak aktif mengarahkan dinamika aksi penolakan MBG. Penyebabnya, kemunculan beberapa politisi seperti Andi Widjajanto, yang turut hadir dalam massa aksi, menimbulkan pertanyaan besar tentang tujuan gerakan tersebut. Menurut Rahmat Djimbula, keberadaan tokoh-tokoh politik ini mengisyaratkan bahwa aksi mahasiswa bukan lagi semata-mata bentuk kekecewaan akar rumput, melainkan dipakai untuk kepentingan tertentu.

“Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi,” ujar Rahmat saat membacakan pernyataan sikap.

Penelusuran Aliansi BEM Bersatu dan Keterlibatan Letjen Sularso

Aliansi BEM Bersatu menemukan bukti-bukti tambahan yang menghubungkan Tiyo Ardianto dengan jaringan politik. Salah satu indikasi kuat adalah kehadiran Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso dalam sebuah forum di Bandung, yang juga diisi oleh tokoh-tokoh kritis lainnya. Pertemuan ini menjadi benang merah yang mengungkap hubungan antara gerakan mahasiswa dengan kelompok oposisi formal.

Dalam forum yang sama, Tiyo Ardianto juga ditemukan hadir, menunjukkan bahwa ia tidak hanya berdiri sendiri dalam aksi, tetapi berada dalam lingkaran yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan. Selain itu, Aliansi BEM Bersatu menyoroti bahwa kehadiran Letjen Sularso dalam dialog nasional kebangsaan pada 18 Juni 2026 memperkuat kecurigaan terhadap jejaring politik yang tersembunyi.

Jejaring Bandung dan Dialog Nasional Kebangsaan

Aliansi BEM Bersatu melaporkan bahwa Tiyo Ardianto sempat berpartisipasi dalam sebuah pertemuan di Bandung, yang dihadiri oleh Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso serta sejumlah tokoh kritis lainnya. Keberadaan mereka dalam acara yang sama menjadi alasan untuk memperdebatkan apakah aksi ini benar-benar murni berasal dari keinginan mahasiswa, atau hanya merupakan bagian dari rencana strategis.

Di sisi lain, peran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan yang berlangsung pada 18 Juni 2026 semakin menjadi sorotan. Dalam acara tersebut, ia berada di bawah payung sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa. Kehadiran Letjen Sularso dalam forum yang sama dianalisis sebagai bentuk konvergensi kepentingan antara jajaran militer dan elemen politik.

Dampak pada Keberlanjutan Gerakan Mahasiswa

Aliansi BEM Bersatu menegaskan bahwa keberlan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *