Topics Covered: Diskusi di UGM Digeruduk Mahasiswa! Menteri Nusron dan Sudaryono Dievakuasi Mobil Patroli

Share: X Facebook
24663-nusron-wahid-dan-sudaryono

Diskusi Pemerintah di UGM Diserang Mahasiswa, Tiga Menteri Dievakuasi dengan Mobil Patroli

Topics Covered – Sekitar ratusan mahasiswa turut memecah kegiatan diskusi yang berlangsung di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Yogyakarta, pada Senin (16/6/2026) malam. Aksi mereka memicu kondisi memanas, mengakibatkan pengepungan massal dan ketegangan antara peserta diskusi dengan mahasiswa.

Pemicu Kekacauan: Kebijakan Pemerintah yang Disanggah

Ketegangan awal muncul dari penolakan mahasiswa terhadap beberapa kebijakan pemerintah, khususnya terkait alih fungsi lahan di Papua. Ratusan peserta aksi memperlihatkan spanduk dengan tajuk seperti “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim,” yang menggambarkan kekecewaan mereka terhadap keputusan pemerintah. Sejumlah mahasiswa juga menuntut dialog langsung dengan pejabat pemerintah, bukan hanya melalui media sosial.

Kebijakan yang Diserang dan Respons Pejabat

Dalam forum yang semula berjalan kondusif, tiga narasumber utama hadir: Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Awalnya, mereka memberi pidato dari atas panggung sebelum membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik. Namun, situasi berubah setelah puluhan mahasiswa tiba-tiba melompat ke panggung, menutupinya dengan spanduk dan menuntut pertanggungan jawab.

Beberapa spanduk yang dibawa mahasiswa bersifat tajam, seperti “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim.” Kritik mereka terutama terarah pada kebijakan alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua, yang dinilai mengakibatkan penggusuran terhadap masyarakat lokal. Mahasiswa menyerang Nusron, yang memimpin pembicaraan, dengan pertanyaan langsung tentang dampak kebijakan tersebut. Meski Nusron berusaha merespons, mahasiswa menganggap jawabannya tidak memadai dan menggambarkan sikap tidak peduli terhadap aspirasi mereka.

Pengepungan dan Evakuasi Pejabat

Sekitar jam 20.00, ketiga pejabat pemerintah—Nusron, Sudaryono, dan Budiman—dihimpit mahasiswa yang berkerumun di area GIK. Dengan pengawalan ketat, mereka ditarik keluar menggunakan mobil patroli setelah situasi memanas. Proses evakuasi ini berlangsung dalam kondisi tidak tenang, terdengar suara pelemparan gelas mineral air di dalam ruangan sebagai tanda perlawanan.

Di luar Joglo GIK, ratusan mahasiswa ternyata telah berkumpul dan menghadang kendaraan yang akan membawa pejabat pemerintah meninggalkan kampus. Mereka menghambat gerakan para pejabat, menuntut dialog terbuka sebelum kepergian. “Budiman, mana Budiman! Katanya mau diskusi,” teriak para mahasiswa. “Kalau Budiman dan Sudaryono tidak mau keluar, kita nggak akan pergi!” pekik mahasiswa lainnya.

Pertanyaan Spontan dan Tuntutan yang Jelas

Ketegangan memuncak saat satu mahasiswa mempertanyakan kebijakan alih fungsi lahan di Papua, mengungkapkan dampak sosial yang dirasakan masyarakat setempat. Pertanyaan itu diarahkan langsung kepada Nusron, yang menjadi target utama kritik mahasiswa. Meski Nusron mencoba menjelaskan, mahasiswa merasa responsnya kurang tajam dan tidak menjawab inti dari keseluruhan aksi.

Budiman Sudjatmiko, yang sebelumnya dijanjikan hadir, tidak muncul di hadapan massa. Hal ini memicu ketidakpuasan lebih lanjut, dengan mahasiswa menuntut kehadiran semua pejabat yang terlibat. Sementara itu, Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara yang seharusnya ikut berpartisipasi, tidak terlihat muncul di lokasi acara. Hal ini memperkuat kesan bahwa pemerintah tidak cukup responsif terhadap isu yang dibawa mahasiswa.

Kontrol Massa dan Kepemimpinan Aksi

Sekitar pukul 21.00, Nusron dan Sudaryono akhirnya keluar dari GIK setelah konsensus tercapai. Namun, mereka terus didampingi oleh massa yang menekan untuk melanjutkan diskusi. Dalam forum spontan yang terbuka, seorang mahasiswa mempertanyakan sikap pemerintah terhadap penggusuran lahan, dengan harapan mendapat penjelasan jelas. Respons Nusron yang menyarankan mahasiswa pergi langsung ke Papua dinilai tidak efektif, karena dianggap tidak menjawab kekecewaan mereka.

Pelaku aksi utama, eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, sempat diikuti oleh alat pelacak oleh pihak keamanan. Namun, hal ini justru menimbulkan sorotan netizen yang memperhatikan mobil Fortuner mewah yang digunakan oleh para pejabat. Beberapa pengguna media sosial mengkritik kehadiran mobil tersebut sebagai simbol ketidaksetaraan antara pemimpin pemerintah dan rakyat biasa.

Proses Evakuasi dan Dampak Aksi

Setelah lama terjebak dalam pengepungan, Nusron dan Sudaryono akhirnya diangkut menggunakan mobil patroli. Namun, Budiman tetap berada di lokasi, meski diberi kesempatan untuk berbicara lebih lanjut. Proses evakuasi ini dianggap sebagai bentuk penyelesaian sementara, tetapi tidak menghilangkan ketegangan yang muncul sepanjang acara.

Aksi ini menggambarkan keinginan mahasiswa untuk memperoleh kepastian dari pemerintah. Dengan menempatkan diri di tengah kerumunan, mereka menekankan bahwa tuntutan mereka tidak hanya sekadar sekumpulan protes, tetapi juga ajakan untuk menjaga transparansi dalam pengambilan kebijakan. Mereka berharap dialog terbuka bisa menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, menghindari konflik yang bisa muncul karena kesenjangan informasi.

Respons Pemerintah dan Kehadiran Media

Pasca-aksi, pihak pemerintah berusaha menenangkan massa dengan menawarkan dialog lebih lanjut. Namun, ketidakpuasan terhadap respons awal tetap menghangatkan suasana. Aksi ini juga menarik perhatian media, yang melaporkan kejadian ini sebagai bukti ketegangan antara generasi muda dan kebijakan pemerintah.

Sejumlah mahasiswa menyatakan bahwa aksi mereka merupakan langkah untuk memastikan kebijakan yang diambil pemerintah benar-benar mewakili kepentingan rakyat. Mereka menilai bahwa adanya penolakan terhadap kebijakan alih fungsi lahan di Papua menggambarkan ketidakadilan dalam pemerintahan. Sementara itu, budiman Sudjatmiko tetap tinggal di lokasi untuk menjawab pertanyaan mahasiswa, meski dianggap sebagai pengorbanan karena kehadirannya tidak sesuai dengan jadwal semula.

Konflik yang Tidak Mudah Terpecahkan

Ketegangan antara mahasiswa dan pejabat pemerintah terus berlanjut, meski aksi selesai setelah sejumlah kebijakan dianggap sebagai bentuk penyelesaian. Namun, kekecewaan terhadap respons yang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *