Solution For: MUNI gelar doa aspirasi agung untuk kedamaian NKRI dan dunia

MUNI gelar doa aspirasi agung untuk kedamaian NKRI dan dunia

Solution For – Majelis Agama Buddha Tantrayana Indonesia (MUNI) kembali menyelenggarakan acara doa aspirasi agung di kawasan Candi Borobudur, Magelang, dengan tujuan utama memohon keselamatan, ketenangan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Acara ini juga menyasar keharmonisan antar bangsa dan peran dunia dalam menciptakan lingkungan yang damai. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang menuju Waisak 2026, event ini menarik perhatian ribuan umat Buddha, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kegiatan dan Tujuan

Dalam wawancara di Magelang, Kamis, Ketua Perkumpulan Umat Nyingma Tantrayana MUNI, Lama Rama Santoso Liem, mengungkapkan bahwa tahun ini acara memiliki elemen khusus yang berbeda dari tahun sebelumnya. Selain doa untuk perdamaian global, MUNI menyisipkan ritual khusus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Kami menambahkan doa khusus bagi rakyat NKRI agar senantiasa meraih kedamaian dan kemakmuran,” ujarnya.

“Kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, hingga memperluas ke dunia. Ini adalah konsep yang kami coba sampaikan melalui Merti Karuna Bumi,” katanya.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga upaya memperkuat kesadaran umat Buddha tentang tanggung jawab sosial. Sebagai panitia penyelenggara, mereka berharap kegiatan ini mampu menjadi wadah dialog antar umat agama, serta mencerminkan nilai-nilai harmoni yang dipegang oleh Buddhisme.

Ritual Spesifik dan Kolaborasi

Rangkaian acara dimulai pada hari pertama dengan upacara Nyingma Monlam Indonesia, sebuah tradisi doa yang menjadi simbol persatuan umat Buddha. Pada hari kedua, Jumat malam (29/5), umat melakukan ritual Larung Pelita Purnama Siddhi di aliran Sungai Progo. Ritual ini dianggap sebagai bentuk ekspresi keimanan terhadap kekuatan cahaya dan kebijaksanaan yang diwujudkan melalui tindakan konkret.

Lihat Juga :   Key Strategy: Lindungi pekerja, pemerintah anugerahkan Paritrana Jamsos TK Award

Kemudian, pada Sabtu pagi (30/5), acara dilanjutkan dengan “Merti Karuna Bumi”, yang menggabungkan ajaran agama Buddha dengan adat istiadat lokal Jawa. “Kami menggabungkan tradisi Jawa dengan ajaran Buddha untuk menunjukkan bagaimana nilai-nilai kebhinekaan bisa dipertahankan dalam ruang spiritual,” tambah Lama Rama.

“Merti Karuna Bumi adalah ajakan bagi umat untuk peduli pada lingkungan, mulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari hingga berkontribusi pada perdamaian dunia,” jelasnya.

Menurutnya, inisiatif ini menjadi bentuk kerja sama antar sangha (komunitas pemeluk agama) Tantrayana Vajrayana dengan kelompok Buddha lainnya. Dengan mempertemukan berbagai tradisi, MUNI berharap bisa menciptakan ruang dialog yang luas dan menginspirasi kepedulian terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.

Dampak Geopolitik pada Kehadiran Delegasi

Situasi geopolitik global yang kian rumit, khususnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berdampak signifikan pada kehadiran delegasi asing. Meski sebelumnya panitia menyiapkan kapasitas tempat hingga 500-700 peserta, jumlah peserta internasional tercatat menurun akibat hambatan penerbangan internasional. “Banyak delegasi dari luar negeri membatalkan rencana kunjungan mereka meskipun telah melakukan pendaftaran dan konfirmasi,” ungkap Lama Rama.

Panitia menuturkan bahwa hal ini memengaruhi kehadiran sejumlah peserta asing, termasuk dari negara-negara Asia Tenggara dan Eropa. Namun, acara tetap berjalan lancar dengan partisipasi sekitar 400-an umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia. “Meski jumlah peserta internasional berkurang, spirit doa dan keharmonisan tetap terwujud melalui kehadiran ribuan umat di dalam negeri,” katanya.

Keanekaragaman Peserta

Kontribusi peserta domestik terlihat dari keberagaman daerah yang hadir, termasuk Medan, Pekanbaru, Jambi, Bali, Jawa, hingga Sulawesi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya lingkaran lokal, tetapi juga mewakili semangat kebersamaan di seluruh pelosok negeri. Sementara itu, delegasi mancanegara yang terpantau hadir berasal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Hongkong, Taiwan, Jepang, China, serta beberapa negara Eropa seperti Portugal, Prancis, dan Bulgaria.

Lihat Juga :   Key Issue: Kemenag bekali penyuluh agama literasi aturan KUHP

Lama Rama menambahkan bahwa kehadiran peserta dari benua Australia juga menjadi hal yang menarik. Meski jumlahnya tidak sebanyak negara-negara lain, mereka tetap menyumbang keberagaman dalam acara tersebut. “Dari sisi internasional, acara ini menunjukkan bahwa Buddhisme Indonesia bisa menjadi wadah keharmonisan global,” pungkasnya.

Menurutnya, penyelenggaraan doa aspirasi ini menjadi cerminan bagaimana keberagaman budaya dan agama bisa dipadukan dalam upaya menciptakan dunia yang lebih baik. “Dengan menggabungkan adat lokal dan ajaran Buddha, kita bisa membuktikan bahwa perdamaian adalah jalan yang bisa ditempuh oleh semua umat beragama,” katanya.

Panitia menyatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya puncak acara Waisak 2026, tetapi juga upaya kontinu dalam membangun persatuan dan kerja sama antar komunitas. Meski situasi geopolitik mengurangi partisipasi internasional, MUNI tetap berkomitmen untuk memperkuat peran Buddhisme dalam mempromosikan perdamaian di Indonesia dan dunia. Dengan doa yang terus dipanjatkan, harapan akan kehidupan yang lebih baik semakin terwujud melalui kebersamaan dan keharmonisan.