Key Strategy: Wamendukbangga: MBG 3B digencarkan untuk cegah stunting

Wamendukbangga: MBG 3B digencarkan untuk cegah stunting

Key Strategy – Kota Tanjungpinang menjadi tempat pembicaraan strategis Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam upaya memperkuat tindakan pencegahan stunting di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Ia menyampaikan bahwa angka stunting di daerah itu telah menunjukkan penurunan, yaitu 14 persen, dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 19,8 persen. “Saya berharap angka ini terus bergerak ke arah yang lebih baik, karena berbagai program penanganan stunting sedang kita lakukan,” tuturnya usai memberikan bantuan MBG 3B kepada masyarakat, Selasa lalu.

“Prevalensi stunting di Kepri saat ini telah mencapai 14 persen, yang lebih rendah dibandingkan angka nasional 19,8 persen. Dengan terus menerus menggencarkan program, kita harapkan dapat meminimalkan risiko stunting di masa depan,” ujar Wamendukbangga Isyana.

Salah satu program utama yang digariskan pemerintah adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B, yang ditujukan untuk ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Tujuan dari inisiatif ini adalah memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), fase kritis perkembangan anak. Dalam fase ini, diperlukan keterlibatan aktif dari pihak-pihak terkait untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi, yang menjadi fondasi mencegah stunting.

Dalam menjalankan program tersebut, Wamendukbangga Isyana menekankan pentingnya kerja sama antarlembaga dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa selain MBG 3B, pemerintah juga menggalakkan Gerakan Orang tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang menargetkan keikutsertaan semua lapisan masyarakat, termasuk perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Program ini berfokus pada pemberian bantuan bersifat kritis, seperti penambahan gizi, pembangunan jamban, perbaikan kondisi rumah tidak layak huni (RTLH), dan penyediaan air bersih.

“Pencegahan stunting membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Kami menekankan pendekatan pentahelix, di mana semua komponen saling mendukung untuk mencapai hasil yang optimal,” kata Wamendukbangga Isyana.

Dalam upaya memetakan keluarga yang rentan terhadap stunting, Wamendukbangga Isyana menjelaskan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) turut terlibat dalam pendataan. Keterlibatan BPS membantu mengidentifikasi keluarga yang masuk kategori prioritas, terutama yang termasuk dalam Keluarga Risiko Stunting (KRS). KRS menjadi fokus utama pemerintah, karena mereka memiliki potensi lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan keluarga lainnya.

Lihat Juga :   Penangkapan pelaku kasus Pati momentum putus kekerasan seksual ponpes

Wamendukbangga Isyana menyoroti kondisi lingkungan sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pencegahan stunting. Ia mengatakan bahwa rumah yang layak huni, akses ke fasilitas sanitasi, dan ketersediaan air bersih menjadi aspek penting yang perlu diedukasi kepada masyarakat. “Kebutuhan ini tidak hanya terkait kesehatan fisik, tetapi juga kondisi lingkungan sekitar. Dengan memperbaiki faktor-faktor tersebut, kita dapat mencegah stunting secara lebih menyeluruh,” tambahnya.

Dalam konteks keluarga, Wamendukbangga Isyana menyoroti keluarga yang termasuk dalam kategori “4 Terlalu,” yaitu terlalu muda (usia ibu hamil di bawah 18 tahun), terlalu tua (usia ibu hamil di atas 35 tahun), terlalu banyak anak (mempertahankan kelahiran berulang secara cepat), dan jarak kelahiran yang terlalu dekat. Keluarga-keluarga ini diprioritaskan dalam program penanganan stunting karena memiliki risiko lebih tinggi terhadap anak yang mengalami pertumbuhan terhambat.

Program MBG 3B, selain menjangkau ibu hamil dan balita, juga berperan dalam memastikan asupan gizi yang memadai bagi calon ibu hamil. “Dengan memberikan bantuan gizi secara gratis, kita membantu mereka memenuhi kebutuhan nutrisi sebelum kehamilan, sehingga siapkan kondisi tubuh yang optimal untuk melahirkan anak sehat,” jelas Wamendukbangga Isyana. Ia menambahkan bahwa program ini berjalan secara bertahap, dengan fokus pada kelompok rentan yang paling membutuhkan.

Sebagai bagian dari upaya nasional, Wamendukbangga Isyana menyebutkan bahwa Kepri menjadi salah satu daerah yang menjadi contoh penerapan kebijakan pencegahan stunting. Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diambil telah berdampak positif pada penurunan angka stunting, tetapi masih perlu ditingkatkan. “Pencegahan stunting bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” imbuhnya.

Wamendukbangga Isyana menekankan bahwa keterlibatan masyarakat dalam program Genting sangat vital. Dengan mendorong perusahaan swasta dan BUMN/BUMD untuk berpartisipasi dalam penyaluran bantuan, pemerintah memperkuat upaya mengurangi kesenjangan gizi dan lingkungan. “Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan memberikan dampak jangka panjang, karena memperbaiki kondisi sosial ekonomi dan lingkungan merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi sehat,” ujarnya.

Lihat Juga :   New Policy: BGN: Enam juta liter jelantah dari MBG berpotensi jadi energi hijau

Dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting, Wamendukbangga Isyana juga menyinggung pentingnya pendidikan kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa edukasi tentang pentingnya makanan bergizi, kebersihan lingkungan, dan kesehatan reproduksi menjadi faktor penentu. “Dengan meningkatkan kesadaran, kita bisa mendorong perubahan kebiasaan sehari-hari, yang pada akhirnya meminimalkan risiko stunting di masyarakat,” lanjutnya.

Kebijakan ini juga sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Pencegahan stunting merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan kualitas SDM, terutama pada anak-anak,” kata Wamendukbangga Isyana. Ia berharap melalui program-program yang digencarkan, Kepri bisa menjadi model bagi daerah lain dalam menurunkan stunting.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah dalam upaya ini harus diiringi