Kebijakan Baru: BRIN bidik riset strategis untuk genjot industri kosmetik dalam negeri
BRIN Fokus pada Riset Strategis untuk Mengembangkan Industri Kosmetik Lokal
Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menetapkan strategi penelitian untuk mendukung pertumbuhan industri kosmetik dalam negeri. Dalam kegiatan BRIN Goes To Industry III di Jakarta, Kamis, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa industri kosmetik Tanah Air mengalami pertumbuhan signifikan, dengan peningkatan 77% dari tahun 2020 hingga 2024-2025. Angka ini menegaskan bahwa pasar yang ada sangat menjanjikan, dan hanya dengan inovasi serta teknologi yang memadai, industri lokal dapat menjadi penggerak utama dalam sektor ini.
Menurunkan Ketergantungan pada Produk Asing
Arif Satria menekankan bahwa ketergantungan terhadap merk kosmetik luar negeri harus dikurangi. Pasar kosmetik nasional diprediksi mencapai sekitar 7,5 miliar dolar AS pada 2024-2025, sehingga industri dalam negeri perlu berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Ia berharap riset strategis dapat membantu mengurangi ketergantungan ini.
“Kita ingin nilai tambah itu di Indonesia, sehingga mau tidak mau, kita harus tetap ingin hilirisasi dan juga huluisasi. Karena apa? Huluisasi itu penting agar industri yang memerlukan bahan baku dari kita mendapatkan bahan baku yang berkualitas, bahan baku yang kontinu,” ujarnya.
Dengan memastikan kualitas dan keberlanjutan bahan baku, industri kosmetik dapat berkembang secara optimal. Arif menilai bahwa industri lokal harus mampu menguasai kedua tahap produksi, baik dari pengolahan bahan mentah hingga pemanfaatan akhirnya.
Penelitian yang Berdampak Nyata
Saat ini, BRIN telah fokus pada penelitian pengolahan minyak atsiri, yang merupakan bahan baku penting untuk parfum, serum, dan krim wajah. Melalui BRIN Goes To Industry III, diharapkan tercipta kolaborasi yang erat antara riset dan kebutuhan industri. Ini bisa menghasilkan peningkatan kapasitas riset serta pengembangan industri secara holistik.
“Jangan sampai BRIN melakukan riset, kemudian itu murni hanya imajinasi peneliti, ketika sudah selesai, industri tidak memerlukan ternyata. Itulah yang kita hindari,” kata Arif Satria.