WHO: Penumpang kapal terdampak hantavirus kontak “berisiko tinggi”
WHO: Semua Penumpang Kapal Terdampak Hantavirus Diklasifikasikan sebagai Kontak “Berisiko Tinggi”
WHO – Jenewa, 9 Mei – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan bahwa seluruh individu yang berada di dalam kapal pesiar yang terpapar hantavirus perlu dianggap sebagai kontak “berisiko tinggi”. Menurut laporan terbaru, para penumpang dan awak kapal harus dipantau secara intensif selama 42 hari untuk memastikan tidak ada penyebaran penyakit yang tersembunyi. Dalam konferensi pers terbaru, Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi serta pandemi WHO, mengatakan bahwa klasifikasi ini diberlakukan karena kapal pesiar menjadi ruang terbatas di mana risiko kontak antar manusia sangat tinggi.
“Kami menilai semua orang yang berada di dalam kapal sebagai kontak berisiko tinggi, terlepas dari apakah mereka menunjukkan gejala atau tidak,” jelas Kerkhove. “Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan hantavirus secara massal.”
Kapal MV Hondius, yang dikabarkan menjadi sumber wabah, dijadwalkan akan berlabuh di Kepulauan Canary pada hari Minggu (10/5). Dalam waktu yang sama, WHO menginformasikan bahwa hingga saat ini, tidak ada penumpang atau awak kapal yang melaporkan gejala. Namun, mereka tetap meminta pemantauan aktif selama 42 hari setelah tanggal 2 Mei, ketika kasus pertama penyakit pernapasan parah tercatat. Angka ini dipilih karena waktu inkubasi hantavirus bisa mencapai hingga 42 hari, meski dalam banyak kasus gejala muncul lebih cepat.
Pada awal wabah, terdapat 147 orang yang berada di kapal pesiar tersebut, dengan 34 di antaranya telah turun lebih dahulu sebelum epidemi memicu isolasi penuh. Dengan jumlah ini, WHO memastikan bahwa setiap individu yang pernah terlibat dalam aktivitas di kapal tetap diawasi. Organisasi kesehatan internasional menekankan pentingnya koordinasi lintas negara untuk memutus rantai penularan, terutama karena kapal pesiar sering mengangkut penumpang dari berbagai belahan dunia.
Gejala dan Potensi Penularan
Gejala awal infeksi hantavirus mencakup sakit kepala, pusing, menggigil, demam, nyeri otot, serta gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Kerkhove menambahkan bahwa gejala yang tidak terdeteksi pada tahap awal dapat berdampak serius, sehingga pemantauan secara aktif menjadi langkah kritis. Pada hari Jumat (8/5), delapan kasus bergejala telah tercatat, termasuk tiga kematian, dengan enam di antaranya telah dikonfirmasi sebagai infeksi hantavirus Andes (ANDV) melalui pemeriksaan laboratorium.
WHO memperingatkan bahwa penularan pragejala dalam wabah ANDV sebelumnya tidak sepenuhnya bisa diabaikan. Dengan kecenderungan hantavirus menyebarkan diri melalui percikan udara atau kontak langsung, para penumpang yang berisiko tinggi dianjurkan untuk mengambil langkah pencegahan tambahan. Ini mencakup penggunaan masker, evaluasi medis rutin, dan pelacakan gejala setiap hari. Kerkhove menyebutkan bahwa meskipun risiko bagi masyarakat umum masih tergolong rendah, langkah-langkah ini diperlukan untuk meminimalkan kejadian penularan baru.
Pelacakan Kontak dan Kolaborasi Internasional
WHO telah memberi instruksi kepada seluruh titik kontak di negara-negara terkait untuk melaksanakan pelacakan kontak secara internasional. Proses ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari setiap penumpang yang turun dari kapal, baik yang berasal dari Kepulauan Canary maupun daerah lain. Selain itu, organisasi tersebut mendesak negara-negara yang terlibat untuk terus berkoordinasi dalam penanganan kasus, pengendalian penyebaran, serta komunikasi yang transparan kepada publik.
Dalam konferensi pers yang sama, Kerkhove menegaskan bahwa warga Kepulauan Canary, tempat kapal MV Hondius akan berlabuh, tidak secara otomatis berisiko tinggi. Meski begitu, wilayah ini dianggap sebagai tempat potensial penyebaran karena keramaian di sana dapat meningkatkan peluang kontak antar individu. Untuk mengantisipasi kemungkinan ini, WHO memberikan panduan tentang cara mengidentifikasi gejala dan mengambil tindakan segera bila diperlukan.
Kondisi Saat Ini dan Langkah Mendatang
Kapal MV Hondius menjadi pusat perhatian karena kasus hantavirus yang terjadi di dalamnya menunjukkan perubahan kecil dalam pola penularan. Sebelumnya, penyakit ini lebih sering menyerang orang-orang yang hidup di lingkungan berupa habitat tikus, tetapi wabah di kapal pesiar menunjukkan kemungkinan penyebaran ke luar lingkungan alami. Hal ini mendorong WHO untuk merekomendasikan penggunaan masker bahkan bagi kontak berisiko rendah, bila gejala seperti demam atau sakit kepala muncul.
Sebagai respons terhadap situasi ini, WHO juga berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis kepada negara-negara yang terlibat. Langkah-langkah seperti pelacakan gejala, penanganan kasus, dan penyuluhan masyarakat akan terus ditingkatkan. Dalam pernyataannya, Kerkhove mengingatkan bahwa wabah hantavirus dapat terjadi secara tiba-tiba, sehingga sistem pemantauan harus siap 24 jam sehari. “Kami perlu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk penyebaran ke wilayah lain,” ujarnya.
Konteks Penyebaran Hantavirus
Hantavirus adalah penyakit yang termasuk dalam keluarga virus yang juga menyebabkan kondisi seperti hantavirus hemorrhagic fever. Penyebaran biasanya terjadi melalui serangga hantavirus, seperti tikus, yang menyebarkan virus ke manusia melalui saluran pernapasan. Namun, dalam kasus kapal pesiar, penyebaran bisa terjadi melalui percikan udara dari orang yang terinfeksi ke orang lain. Sementara itu, gejala seperti demam dan sakit kepala sering kali menjadi tanda awal infeksi, tetapi juga bisa tersembunyi hingga beberapa hari setelah paparan.
Sejak wabah pertama kali dilaporkan pada 2 Mei, WHO telah mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk memastikan respons yang tepat. Dalam waktu kurang dari seminggu, delapan kasus bergejala muncul, dengan tiga di antaranya berujung pada kematian. Sementara itu, enam kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium sebagai ANDV, yang dikenal lebih ganas dibandingkan varian hantavirus lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa wabah tersebut memerlukan pengawasan ketat selama periode inkubasi.
Peran Pemantauan dalam Pencegahan Penularan
Kapal pesiar memang menjadi tempat yang rawan penyebaran penyakit karena kepadatan penumpang dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Pemantauan aktif selama 42 hari akan membantu mendeteksi kasus-kasus yang mungkin terlewat. Kerkhove menegaskan bahwa para penumpang yang terpapar harus tetap berada di bawah pengawasan, terutama bila mereka berada di lingkungan yang tidak terlalu bersih atau memiliki riwayat kontak dengan orang yang menunjukkan gejala.
Dalam upaya memutus rantai penularan, WHO merekomendasikan langkah-langkah tambahan seperti pelacakan riwayat perjalanan penumpang, pemeriksaan kesehatan teratur, dan penggunaan alat pelindung diri. Organisasi kesehatan juga memberi penekanan pada pentingnya transparansi informasi untuk membangun kepercayaan publik. “Dengan menyebarkan informasi secara jujur, masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat dan meminimalkan risiko,” tambah Kerkhove.
Langkah-langkah ini tidak hanya terbatas pada penumpang yang berada di kapal, tetapi juga mencakup awak kap