Latest Program: BPH Migas dorong CNG jadi alternatif energi rumah tangga

BPH Migas Dorong CNG Jadi Alternatif Energi Rumah Tangga

Latest Program – Jakarta – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) secara aktif mendorong penggunaan compressed natural gas (CNG) serta pengembangan mini-liquefied natural gas (LNG) sebagai solusi pengganti liquefied petroleum gas (LPG) dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga. Penekanan ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG, yang saat ini mencapai 81 persen dari total kebutuhan masyarakat. Fathul Nugroho, anggota Komite BPH Migas, menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dan memperluas pilihan sumber energi yang lebih ekonomis serta ramah lingkungan.

Potensi CNG dan LNG untuk Pemenuhan Energi Domestik

Dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu, Fathul mengungkapkan bahwa optimalisasi stasiun induk CNG dan penguatan infrastruktur mini-LNG dapat menjadi kunci dalam memperkaya variasi energi. Ia menekankan bahwa adopsi teknologi ini tidak hanya mengurangi dominasi LPG dalam konsumsi rumah tangga, tetapi juga memberikan fleksibilitas penyaluran gas yang lebih efektif. “Dengan menggunakan CNG dan LNG, masyarakat tidak lagi terbatas pada LPG, tetapi memiliki alternatif lain yang bisa diakses secara lebih luas,” ujarnya.

“Jadi, tidak terbatas LPG saja, tetapi ada pilihan menggunakan CNG dan LNG. Pilihan energi ini juga dapat meningkatkan efektivitas penyaluran gas dan mendukung target pemerintah dalam konversi energi ke energi yang lebih aman, bersih, dan efisien,” kata Fathul saat menjadi pembicara di acara “11th LNG Supply, Transport, & Storage Forum 2026” yang digelar bersamaan dengan “3rd Small LNG Shipping & Distribution Forum” di Bali, Rabu (6/5).

Fathul menyoroti bahwa kebutuhan energi rumah tangga Indonesia masih didominasi oleh LPG bersubsidi. Meski LPG merupakan sumber energi yang terjangkau, penggunaannya yang berlebihan telah menguras anggaran pemerintah dan meningkatkan ketergantungan pada impor. Dengan kebutuhan LPG mencapai 81 persen dari total konsumsi, Fathul menilai penting untuk segera memperkenalkan alternatif yang lebih sostenabel. “Pengembangan CNG dan LNG akan membuka peluang baru untuk distribusi energi, terutama di daerah yang sulit diakses melalui jaringan pipa,” tambahnya.

Lihat Juga :   Indeks Kepercayaan Industri terus ekspansi - April ini di 51,75 poin

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menetapkan target peningkatan jaringan gas bumi untuk rumah tangga hingga 350 ribu sambungan rumah (SR) pada 2029. Untuk mencapai ambisi ini, BPH Migas menilai perlu percepatan regulasi terkait infrastruktur CNG dan mini-LNG. “Regulasi yang lebih cepat akan mendorong masuknya investasi, sehingga pembangunan jaringan gas bisa berjalan lebih efisien,” jelas Fathul.

Menurutnya, penggunaan CNG dalam sektor rumah tangga juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto tentang swasembada energi. Fathul menambahkan bahwa presiden memperkuat upaya konversi energi ke sumber yang lebih mandiri, dan ini menjadi momentum untuk mengintegrasikan CNG dan LNG ke dalam kebutuhan energi harian masyarakat. “Sektor komersial seperti hotel dan restoran sudah mulai menerapkan CNG, sehingga potensi teknologi ini bisa diperluas ke segmen rumah tangga,” terangnya.

Peluang Ekonomi dan Pengurangan Ketergantungan Impor

Di sisi lain, Fathul menjelaskan bahwa pemanfaatan CNG dan LNG dapat berdampak signifikan pada kebijakan ekonomi energi. Kebutuhan LPG yang tinggi membuat Indonesia terus menghabiskan dana besar untuk impor, sementara cadangan gas alam dalam negeri belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Dengan memperkenalkan CNG dan LNG, pemerintah bisa mengurangi beban fiskal akibat impor, sekaligus memastikan sumber energi yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Fathul juga menyoroti peran model pembiayaan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam mendorong pengembangan infrastruktur. Menurutnya, KPBU sangat penting untuk mempercepat pembangunan stasiun induk CNG dan terminal mini-LNG, terutama di wilayah Indonesia timur yang menghadapi tantangan geografis. “Dengan pendekatan ini, pembangunan jaringan gas bisa lebih cepat terwujud, baik di daerah pesisir maupun daerah terpencil,” ujarnya.

Lihat Juga :   Latest Program: Menteri UMKM dorong pembiayaan berbasis pendampingan usaha

Perbandingan Fungsi CNG dan LPG

Selain itu, Fathul menyinggung peran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam memperjelas karakteristik CNG. Ia mengatakan bahwa meski CNG dan LPG memiliki fungsi serupa sebagai bahan bakar, keduanya berbeda dalam aspek teknologi dan pemanfaatan. “CNG merupakan bentuk gas yang dikompresi, sedangkan LPG berbentuk cair dan lebih mudah disimpan di tangki,” jelasnya.

Fathul menambahkan bahwa pemanfaatan CNG saat ini sudah terlihat di sektor komersial, seperti restoran dan kawasan industri, yang menunjukkan kelayakan teknis dan ekonomis. “Dengan pengalaman ini, BPH Migas optimis bahwa CNG bisa segera diterapkan di tingkat rumah tangga, terutama di daerah yang memiliki cadangan gas alam melimpah,” tegasnya.

Langkah Strategis untuk Mewujudkan Kemandirian Energi

Fathul juga menggarisbawahi bahwa perluasan jangkauan jaringan gas bumi melalui CNG dan mini-LNG akan membantu mengejar target 350 ribu SR pada 2029. Ia menjelaskan bahwa konversi stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) menjadi stasiun induk akan memudahkan akses masyarakat ke energi bersih. “Di sisi lain, mini-LNG bisa digunakan untuk wilayah yang tidak mampu terhubung dengan jaringan pipa, sehingga semua daerah bisa merasakan manfaat dari kekayaan sumber daya alam Indonesia,” kata Fathul.

Dalam kesimpulannya, Fathul memastikan bahwa pengembangan CNG dan LNG tidak hanya berdampak pada keberlanjutan energi, tetapi juga mendorong perekonomian lokal. “Penggunaan teknologi ini akan menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat industri dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan pada impor,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan lembaga terkait bisa mempercepat implementasi proyek tersebut, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dalam produksi dan distribusi energi.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Menurut Fathul, penggunaan CNG dan LNG dalam sektor rumah tangga bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga investasi jangka panjang. “Kebijakan ini sejalan dengan visi nasional untuk mengurangi emisi karbon dan menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan,” katanya. Selain itu

Lihat Juga :   Topics Covered: Pelindo-DPRD percepat Pelabuhan Sorong jadi hub logistik di KTI