Meeting Results: YKAN dan masyarakat adat Wakatobi perkuat adaptasi iklim lewat budaya

YKAN dan Masyarakat Adat Wakatobi Perkuat Adaptasi Iklim Melalui Budaya

Meeting Results –

Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama masyarakat adat setempat serta berbagai pihak terkait sedang mengambil langkah strategis untuk meningkatkan daya tahan masyarakat pesisir terhadap dampak perubahan iklim. Upaya ini menggabungkan pendekatan budaya dengan pengembangan pengetahuan lokal sebagai alat adaptasi yang berkelanjutan. Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menjelaskan bahwa inisiatif ini diwujudkan melalui dua acara utama, yaitu Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa di Pulau Kaledupa dan pentas Bahari Hekulu-Kulu di Pulau Tomia. “Kedua kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), masyarakat adat, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim,” ujarnya saat dihubungi di Kendari, Kamis.

Menurut Ilman, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga mengubah cara hidup masyarakat. “Kondisi ini memengaruhi praktik budaya, pola hidup, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah,” tambahnya. Untuk mengatasi tantangan ini, ia menekankan pentingnya menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan, adat, dan tradisi lokal. “Ketahanan masyarakat pesisir tidak bisa hanya diukur dari infrastruktur atau teknologi. Pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur dan praktik budaya mereka adalah fondasi penting dalam menghadapi perubahan iklim,” jelasnya.

“Pengetahuan lokal, praktik budaya, dan hubungan masyarakat dengan alam merupakan modal utama dalam membangun ketahanan sosial-ekologis,” kata Muhammad Ilman.

Wakatobi, sebagai wilayah kepulauan, menghadapi berbagai ancaman akibat perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut, perubahan musim, abrasi pantai, serta kenaikan suhu laut yang mengganggu ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat. “Kondisi ini mempengaruhi ketersediaan pangan dan sumber daya obat-obatan, yang kini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah,” tambahnya. Oleh karena itu, penguatan pangan lokal, penggunaan tanaman obat, dan pelestarian nilai-nilai tradisional dianggap penting untuk memperkuat daya tahan masyarakat terhadap dampak lingkungan.

Lihat Juga :   BMKG: Sembilan wilayah di Sultra berpotensi hujan sedang hingga lebat

Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa, yang diadakan di Pulau Kaledupa, menawarkan berbagai kegiatan seperti permainan edukatif, lokakarya tentang tanaman obat, pameran herbal, dan diskusi lintas generasi mengenai cara pengobatan tradisional. Sementara itu, pentas Bahari Hekulu-Kulu di Pulau Tomia lebih menekankan pada regenerasi pengetahuan budaya dan ekologi melalui tari tradisional, lokakarya kreatif, serta edukasi lingkungan yang diperuntukkan bagi pelajar. “Kedua acara ini dirancang untuk menjadi contoh bagaimana adaptasi iklim bisa diwujudkan melalui budaya, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia,” kata Ilman.

“Ketahanan masyarakat pesisir tidak bisa dibangun hanya dengan teknologi atau investasi infrastruktur. Pengetahuan lokal, praktik budaya, dan hubungan dengan alam merupakan modal penting dalam menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Kepala Masyarakat Adat Pulau Kaledupa, La Ode Saidin, menegaskan bahwa pengetahuan tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan bagian dari sistem hidup masyarakat pesisir yang telah diwariskan sejak berabad-abad. “Tradisi dan pengetahuan leluhur kita telah mencakup cara beradaptasi dengan lingkungan sejak zaman dulu, jauh sebelum istilah perubahan iklim menjadi tren global,” ujarnya. Menurut Saidin, tanaman obat, ritus adat, dan pengetahuan turun-temurun tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga alat untuk memahami alam serta menjaga keseimbangan lingkungan. “Semua itu adalah bentuk kecerdasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Masyarakat masih mempraktikkan cara-cara yang sudah teruji untuk menjaga kehidupan,” katanya.

“Tanaman obat, ritus adat, dan pengetahuan leluhur bukan sekadar cerita lama. Semua itu adalah cara masyarakat memahami alam dan merawat kehidupan,” kata La Ode Saidin.

La Ode Ahyar Thamrin Mufti, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, menambahkan bahwa pendekatan budaya memiliki peran signifikan dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. “Pengetahuan lokal masyarakat Wakatobi lahir dari hubungan panjang dengan alam. Ketika tradisi dan budaya dijaga, nilai-nilai konservasi pun ikut hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak bisa tercapai tanpa kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam. “Dengan memperkuat budaya, kita juga memperkuat kesadaran akan lingkungan. Ini menjadi strategi yang holistik,” tambahnya.

Lihat Juga :   BMKG: Sejumlah wilayah berpotensi hujan lebat-sangat lebat pada Kamis

Menurut Mufti, masyarakat pesisir di Wakatobi memiliki pengalaman unik dalam menjaga ekosistem mereka. “Tradisi mereka sudah membuktikan bahwa adaptasi terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang efektif dan berkelanjutan. Kini, kita perlu mengintegrasikan pengetahuan tersebut dengan teknologi modern agar lebih efisien,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan adaptasi iklim tidak hanya bergantung pada inovasi teknis, tetapi juga pada pemahaman budaya yang dalam.

Dalam konteks ini, Festival Tanaman Obat Barata Kahedupa dan Bahari Hekulu-Kulu menjadi bukti nyata bagaimana budaya bisa menjadi medium untuk menghadapi tantangan lingkungan. Acara tersebut tidak hanya memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya ekosistem pesisir. “Dengan memperkenalkan kembali praktik-praktik tradisional, kita bisa mengurangi ketergantungan pada sumber daya eksternal. Masyarakat bisa lebih mandiri dalam mengelola lingkungan mereka,” kata Ilman.

“Pengetahuan lokal, praktik budaya, dan hubungan masyarakat dengan alam merupakan modal penting dalam menghadapi perubahan iklim,” kata Muhammad Ilman.

Ilman menambahkan bahwa kegiatan seperti ini bisa menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah lain. “Festival dan pentas budaya bisa menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan masyarakat tentang keberlanjutan, sambil melestarikan identitas budaya mereka,” ujarnya. Dengan menggabungkan elemen modern dan tradisional, kegiatan tersebut diharapkan mampu menginspirasi perubahan yang lebih luas.

Dalam upaya ini, masyarakat adat dianggap sebagai pilar utama. Mereka memiliki keahlian dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, termasuk memilih tanaman obat yang tahan terhadap perubahan iklim. “Keterlibatan masyarakat adat sangat krusial karena mereka memiliki kelebihan dalam memahami