Special Plan: Dinkes: 18 anak korban daycare di Yogyakarta alami masalah gizi

Dinkes: 18 Anak Korban Daycare di Yogyakarta Alami Masalah Gizi

Special Plan – Yogyakarta, Selasa – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta melaksanakan skrining terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang terdampak kekerasan serta penelantaran di Daycare Little Aresha Sorosutan. Hasil evaluasi menunjukkan sebanyak 18 anak mengalami kondisi gizi yang tidak optimal, khususnya berat badan di bawah normal. Informasi ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Yogyakarta, Aan Iswanti, dalam wawancara terkait kasus tersebut.

Proses Evaluasi dan Langkah Pemantauan Awal

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi potensi gangguan nutrisi yang dialami anak-anak. Dinkes mengatakan total 149 anak menjalani skrining pertumbuhan. Dari jumlah tersebut, 18 anak terbukti mengalami masalah gizi, termasuk kondisi berat badan kurang dan gizi kurang. “Kita menemukan 18 anak yang mengalami kekurangan gizi pada tahapan awal,” jelas Aan Iswanti.

“Dari sebanyak 149 anak yang menjalani skrining pertumbuhan, ditemukan 18 anak mengalami masalah gizi pada tahapan berat badan kurang dan gizi kurang,” kata Aan Iswanti.

Menurut Aan, anak-anak yang ditemukan dalam kondisi kekurangan gizi harus segera diberikan intervensi oleh puskesmas setempat. Pemantauan ini bertujuan memastikan anak-anak menerima asupan nutrisi yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. “18 anak dilakukan rujukan ke puskesmas untuk validasi status gizinya oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas, dan sembilan anak telah ke puskesmas,” tambahnya.

Lihat Juga :   Key Strategy: Zulkifli Hasan: Rakyat sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional

Kolaborasi Lintas Instansi dalam Skrining Kesehatan

Upaya skrining pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut tidak hanya dilakukan oleh Dinkes Yogyakarta, tetapi juga melibatkan berbagai instansi terkait. Bekerja sama dengan puskesmas, UPT Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPA), serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Yogyakarta, proses ini dilakukan untuk menjamin data yang lebih akurat dan menyeluruh.

Dinkes Yogyakarta menjelaskan bahwa skrining pertumbuhan anak peserta daycare merupakan bagian dari program pemantauan kesehatan awal. Selain itu, skrining perkembangan juga dilakukan untuk mengevaluasi kemajuan anak dari segi sosial, emosional, dan kognitif. “Dari 153 anak yang menjalani skrining perkembangan, hasil pemeriksaan menunjukkan 12 anak mengalami penyimpangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak dalam perkembangan normal,” ujar Aan Iswanti.

“Intervensinya adalah 12 anak dan 19 anak dilakukan rujukan serta kunjungan ulang ke puskesmas untuk pemeriksaan perkembangan secara komprehensif,” tutur Aan.

Aan Iswanti menambahkan bahwa skrining perkembangan dilakukan oleh psikolog klinis sesuai pedoman SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang). Metode ini dirancang untuk memantau kemajuan anak secara sistematis, termasuk aspek motorik, kognitif, dan bahasa. “Kita memastikan anak-anak dalam usia balita mendapatkan pengawasan kesehatan yang terpadu,” jelasnya.

Pelaksanaan dan Tujuan Program Pemantauan

Program skrining ini bertujuan mendeteksi dini masalah gizi dan perkembangan yang mungkin memengaruhi kualitas hidup anak. Aan Iswanti menekankan bahwa hasil skrining akan menjadi dasar untuk tindakan lebih lanjut. “Setelah hasil skrining dirilis, anak-anak yang memerlukan intervensi akan diberikan bantuan oleh puskesmas,” kata dia.

Dinkes Yogyakarta juga mengungkapkan bahwa skrining ini menjadi bagian dari upaya pengawasan sosial terhadap kondisi anak-anak yang tinggal di daycare. Dengan melibatkan PPA dan DP3AP2KB, pemerintah ingin memastikan perlindungan anak tidak hanya berupa bantuan fisik tetapi juga dukungan psikologis. “Kolaborasi ini membantu kita memahami dinamika pengasuhan yang berdampak pada tumbuh kembang anak,” tutur Aan.

Lihat Juga :   Satu calon haji Embarkasi Banjarmasin wafat di tanah suci

Kondisi Anak Korban Daycare dan Strategi Pemulihan

Menurut Aan Iswanti, anak-anak yang ditemukan dalam kondisi gizi kurang membutuhkan perhatian intensif. Ia menjelaskan bahwa kekurangan gizi pada tahapan awal bisa berdampak serius jika tidak ditangani tepat waktu. “Pemantauan rutin dan intervensi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih parah,” ujarnya.

Skrining pertumbuhan dan perkembangan dilakukan dengan metode yang terstandarisasi, meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, serta evaluasi perkembangan emosional dan sosial. Dinkes Yogyakarta menekankan bahwa data yang dihimpun akan digunakan sebagai bahan referensi dalam program perlindungan anak. “Kita juga mengevaluasi kelayakan lingkungan daycare terhadap kebutuhan anak,” kata Aan.

“18 anak dilakukan rujukan ke puskesmas untuk validasi status gizinya oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas, dan sembilan anak telah ke puskesmas,” katanya.

Menurut Aan, hasil skrining perkembangan akan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan tambahan dari anak-anak. “Kita berupaya menyelaraskan program kesehatan dengan program perlindungan anak agar semua aspek tumbuh kembang mendapatkan perhatian,” jelasnya.

Keterlibatan Berbagai Pihak dalam Pemulihan Kesehatan Anak

Dinkes Yogyakarta menekankan pentingnya kolaborasi antar instansi dalam menjaga kesehatan anak. Selain puskesmas, PPA, dan DP3AP2KB, program ini juga didukung oleh tenaga kesehatan dan psikolog yang bekerja sama untuk memastikan pemeriksaan berjalan lancar. “Kolaborasi ini memungkinkan kita mengakses sumber daya yang lebih luas untuk mengatasi masalah yang muncul,” kata Aan.

Aan Iswanti menambahkan bahwa skrining ini akan terus dilakukan secara berkala. “Kita berencana memperluas program ini ke lebih banyak daycare di Kota Yogyakarta untuk menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan bantuan,” ujarnya. Selain itu, Dinkes juga menggencarkan sosialisasi pentingnya asupan gizi seimbang kepada para pengasuh anak dan orang tua.

Lihat Juga :   New Policy: KSP BUMN tak gelar aksi massa untuk peringati Hari Buruh Internasional

Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan, Dinkes Yogyakarta juga berkomitmen untuk memperbaiki kondisi anak korban daycare. “Program ini bukan hanya evaluasi, tetapi juga upaya pencegahan untuk memastikan anak-anak tumbuh optimal,” tegas Aan