Ekonom: Nilai tukar kembali Rp16 ribuan tak cukup hanya intervensi BI
Ekonom: Rupiah Kembali ke Rp16 Ribu Memerlukan Lebih dari Intervensi BI
Ekonom – Jakarta – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai bahwa hanya mengandalkan intervensi bank sentral tidak memadai untuk mendorong rupiah kembali ke level Rp16.000 per dolar AS. Menurutnya, pencapaian kurs tersebut memerlukan kombinasi faktor eksternal dan internal, seperti peningkatan penguatan fiskal, aliran modal asing, keberhasilan ekspor, serta kepercayaan pasar terhadap sektor ekonomi dalam negeri. Rizal menjelaskan bahwa keberhasilan penguatan rupiah tidak bisa terjadi secara isolasi, karena terdapat dinamika global yang berdampak signifikan.
Menurut Rizal, meskipun BI memiliki peran penting dalam mengatur kurs, upaya tersebut harus didukung oleh kebijakan yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa stabilitas rupiah di kisaran Rp16 ribuan perlu melibatkan koordinasi antara pemerintah dan lembaga keuangan, serta perbaikan kinerja sektor produksi. “Penguatan rupiah tetap bisa tercapai jika tekanan global mulai berkurang, dan permintaan mata uang asing menurun,” jelas Rizal, saat diwawancara ANTARA di Jakarta, Selasa.
“Terkait proyeksi rupiah kembali ke Rp16.200-16.800 per dolar AS secara tahunan, secara matematis masih mungkin, tetapi sangat berat mengingat posisi saat ini sudah berada di level Rp17.600,” ujar Rizal.
Di sisi lain, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk menguat jika ekspor berjalan optimal. Menurutnya, eksportir yang tidak menahan dolar AS di tengah pelemahan rupiah akan memperkuat permintaan devisa, yang berpotensi menstabilkan kurs. Myrdal menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak berasal dari aktivitas perdagangan atau sektor manufaktur, melainkan dominan dipengaruhi aliran modal asing jangka pendek yang mengalir keluar dari pasar keuangan.
Myrdal menyoroti bahwa tekanan pada rupiah juga dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti pembayaran dividen dan kebutuhan valas untuk kegiatan ibadah haji. Ia mengatakan, pelemahan mata uang domestik justru memberi ruang bagi surplus neraca perdagangan yang semakin lebar. “Penguatan dolar AS membuat importir lebih hati-hati dalam mengambil kredit, sehingga impor cenderung menurun,” tambahnya.
Analisis Myrdal: Faktor Struktural dan Eksternal Menentukan Kurs Rupiah
Myrdal berpendapat bahwa kenaikan nilai tukar rupiah tidak bisa terjadi hanya dengan intervensi bank sentral, tetapi juga bergantung pada dinamika eksternal. Ia menyebutkan bahwa aliran modal asing jangka pendek (hot money outflow) menjadi faktor utama yang menggerakkan pergerakan kurs. “Jika aliran modal asing bisa diubah arah, rupiah akan lebih stabil,” kata Myrdal.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan devisa dari sektor-sektor strategis seperti ekspor komoditas, manufaktur, hilirisasi, dan pariwisata. Myrdal mengungkapkan bahwa peningkatan output dari sektor ekspor akan memberikan pasokan dolar yang lebih besar, sehingga memperkuat cadangan devisa dan mendukung penguatan rupiah. “Ekspor yang efisien akan mengurangi tekanan pada kurs, terutama jika nilai tukar stabil di Rp16.000 per dolar,” jelas Myrdal.
“Surplus neraca perdagangan justru memperkuat kemampuan negara untuk menarik investasi asing,” kata Myrdal.
Menurutnya, pelemahan rupiah sejauh ini lebih terkait dengan kondisi pasar keuangan global, terutama karena kebijakan moneter keterbukaan yang dijalankan oleh bank-bank sentral utama. “Kebijakan suku bunga rendah di AS dan Eropa mendorong aliran modal ke Indonesia, tetapi juga membuat spekulasi terhadap valas meningkat,” ujar Myrdal.
Keberlanjutan Kurs Rupiah: Tantangan dan Peluang
Rizal menyoroti bahwa untuk mencapai level Rp16.000 per dolar, ekonomi Indonesia harus meningkatkan daya tariknya bagi investor. Ia menekankan bahwa kepercayaan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi lokal perlu ditingkatkan melalui kebijakan yang konsisten. “Stabilitas kurs memerlukan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan eksternal,” jelas Rizal.
Di samping itu, Rizal mengingatkan bahwa kinerja sektor-sektor ekonomi menjadi penentu utama. Ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekspor dan investasi asing harus diimbangi dengan peningkatan produksi dalam negeri. “Jika ekonomi Indonesia mampu menekan inflasi dan meningkatkan pertumbuhan, maka rupiah akan lebih kuat,” katanya.
Myrdal menambahkan bahwa penguatan rupiah perlu melibatkan strategi jangka panjang. Ia menilai bahwa keberhasilan ekspor bukan hanya bergantung pada volume, tetapi juga pada keberlanjutan harga komoditas. “Kinerja harga minyak dan perak sangat memengaruhi pendapatan devisa dari sektor komoditas,” ujarnya.
Menurut Rizal, kebijakan pemerintah dalam memperkuat ekspor dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri adalah kunci utama.