Main Agenda: BI pastikan cadev lebih dari cukup meski susut sejak awal tahun
BI pastikan cadev lebih dari cukup meski susut sejak awal tahun
Main Agenda – Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa cadangan devisa (cadev) tetap memadai meskipun mengalami penurunan sejak awal tahun 2026. Peningkatan frekuensi intervensi valas menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut, dengan tujuan mempertahankan stabilitas tukar mata uang rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa penurunan tersebut tidak menggambarkan krisis, karena BI tetap memastikan cadangan devisa mencukupi berdasarkan indikator yang digunakan oleh IMF.
Kondisi Cadangan Devisa pada Tengah 2026
Berdasarkan data yang diterbitkan BI, posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 mencapai 146,2 miliar dolar AS, mengalami penurunan sebesar 8,4 miliar dolar AS dibandingkan 154,6 miliar dolar AS pada akhir Januari 2026. Namun, pada akhir Desember 2025, cadangan devisa masih tercatat lebih tinggi, yakni 156,5 miliar dolar AS. Perry menjelaskan bahwa penurunan yang terjadi selama kuartal pertama tahun ini terkait dengan intensitas intervensi yang meningkat di pasar dalam negeri dan luar negeri.
“Penurunan cadev yang sekitar 10 miliar dolar AS itu baru sebagian dari intervensi tunai. Karena sebagian besar, lebih dari dua per tiga, dilakukan melalui swap dan hedging agar tidak menguras cadangan secara keseluruhan,” ujar Perry Warjiyo.
Pelaksanaan Intervensi Valas
Perry Warjiyo menambahkan bahwa BI tidak hanya mengandalkan transaksi tunai di pasar spot, tetapi juga mengoptimalkan berbagai instrumen keuangan seperti swap, hedging, serta forward. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi dampak penurunan cadangan devisa terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menekankan bahwa strategi ini membantu mengendalikan tekanan yang timbul akibat fluktuasi global.
Intervensi valas dilakukan dengan cara membeli mata uang asing di pasar domestik dan luar negeri. Meski demikian, BI tetap mempertahankan ketersediaan cadangan devisa yang cukup untuk menghadapi kebutuhan transaksi eksternal. Perry menjelaskan bahwa intervensi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesetimbangan pasar, terutama dalam situasi ketidakpastian ekonomi internasional.
Peran Kebijakan SRBI dalam Menarik Modal Asing
Untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, BI juga memperkuat bauran kebijakannya dengan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perry menunjukkan bahwa kenaikan yield SRBI telah mendorong arus modal asing kembali masuk. Pada April 2026, inflow SRBI mencapai Rp48,26 triliun, sementara hingga 8 Mei 2026, total inflow mencapai Rp75,31 triliun.
Secara kumulatif sejak awal tahun, inflow SRBI mencapai Rp105,16 triliun. Jumlah ini dianggap cukup untuk mengimbangi tekanan outflow yang terjadi pada instrumen pasar keuangan lainnya. Pada kuartal I 2026, terdapat arus modal keluar sebesar Rp26,06 triliun dari pasar saham dan Rp25,10 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Namun, di bulan April, inflow SRBI mulai memperbaiki kondisi tersebut.
“Kenaikan yield SRBI telah mulai berdampak positif, sehingga mendorong aliran modal asing kembali masuk,” kata Perry Warjiyo.
Kenaikan Pembelian SBN oleh Investor Asing
Menurut Perry, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh investor asing juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada April 2026, pembelian SBN mencapai Rp13,36 triliun, menandakan adanya perubahan arah dalam perilaku investor. Sementara itu, pasar saham masih mencatat arus keluar modal, meski pada pekan pertama Mei 2026, terjadi inflow sebesar Rp10,9 triliun.
Langkah penguatan SRBI tidak hanya bertujuan menarik modal asing, tetapi juga meningkatkan pasokan valas di dalam negeri. Perry menambahkan bahwa inflow yang diperoleh melalui instrumen ini memberikan dampak stabilisasi pada kondisi pasar keuangan. Dengan demikian, BI memastikan bahwa cadangan devisa tetap memadai meskipun mengalami penurunan selama periode awal tahun.
Proyeksi Peningkatan Kebutuhan Valas
Perry Warjiyo juga memproyeksikan bahwa kebutuhan valas secara musiman akan mulai menurun pada Juli-Agustus 2026. Hal ini diharapkan dapat mengurangi intensitas intervensi yang dilakukan BI, sehingga memudahkan pengelolaan cadangan devisa. Pada saat ini, BI terus memantau dinamika pasar global dan internal untuk menyesuaikan langkah-langkah yang diperlukan.
Menurutnya, BI tidak hanya berfokus pada pemeliharaan nilai tukar rupiah, tetapi juga mengupayakan penguatan pasar keuangan domestik. Dengan strategi yang lebih terpadu, BI yakin dapat memastikan bahwa cadangan devisa tetap mencukupi meskipun mengalami penurunan sepanjang tahun 2026. Pertumbuhan inflow SRBI serta kenaikan pembelian SBN oleh investor asing menjadi indikator bahwa kebijakan tersebut efektif dalam menghadapi tekanan eksternal.
Dalam konteks ini, Perry memastikan bahwa BI tidak perlu kekhawatiran besar mengenai ketersediaan cadangan devisa. Meski terjadi penurunan, kebijakan yang dijalankan bank sentral masih mampu mempertahankan keseimbangan pasar. Selain itu, penggunaan instrumen swap dan hedging membantu mengurangi dampak langsung dari transaksi tunai, sehingga cadangan devisa tetap bisa dijaga.