Key Issue: Ekonom soroti kualitas penyerapan kerja saat pertumbuhan 5,61 persen
Ekonom Soroti Kualitas Penyerapan Kerja Saat Pertumbuhan 5,61 Persen
Penurunan Angka Pengangguran Tercatat, Tapi Struktur Ekonomi Masih Banyak Tantangan
Key Issue – Jakarta – Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kualitas pekerjaan. Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, mengingatkan bahwa struktur pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan yang signifikan, meskipun pertumbuhan ekonomi memberikan dampak positif. Menurutnya, penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi sekitar 4,68 persen per Februari 2026 membuktikan bahwa ekonomi domestik masih cukup kuat di tengah tekanan perlambatan global dan faktor eksternal yang menghimpit.
“Dalam kondisi global yang sedang melambat dan tekanan eksternal yang terus berlangsung, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan,” kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Dalam wawancara, Yusuf menjelaskan bahwa penurunan angka pengangguran tersebut terutama didorong oleh keberhasilan sektor-sektor tertentu dalam menyerap tenaga kerja, namun kekuatan ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah struktural. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercatat selama beberapa bulan terakhir masih menunjukkan kemampuan untuk menjaga stabilitas pasar tenaga kerja, meskipun tingkatnya mulai menurun dari sisi kualitas. Menurut Yusuf, setiap peningkatan 1 persen pertumbuhan ekonomi saat ini hanya mampu menciptakan jumlah pekerjaan yang lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya.
Penyerapan Kerja Justru Menjadi Tantangan
Yusuf menyoroti bahwa meskipun perekonomian tumbuh, daya serap tenaga kerja terhadap pertumbuhan tersebut mulai melemah. Faktor ini tercermin dalam elastisitas pertumbuhan yang berkurang, yang menunjukkan bahwa kontribusi pertumbuhan ekonomi terhadap penciptaan lapangan kerja tidak lagi sekuat dulu. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini belum cukup efektif dalam menghasilkan pekerjaan yang bermutu, baik secara formal maupun produktif.
“Ekonomi memang tetap tumbuh, tetapi kemampuan pertumbuhan untuk menyerap tenaga kerja mulai melemah,” ujarnya.
Menurut Yusuf, kekuatan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun masih didorong oleh faktor-faktor musiman, seperti momentum libur Ramadhan dan Lebaran, serta akselerasi belanja pemerintah. Namun, meskipun faktor tersebut membantu memperkuat konsumsi dan aktivitas ekonomi secara jangka pendek, mereka belum mampu memicu transformasi struktural yang berkelanjutan. “Faktor musiman dan belanja pemerintah memang penting, tetapi tidak cukup untuk mengubah struktur pasar tenaga kerja secara mendasar,” tambahnya.
Sektor Informal Masih Dominan, Masalah Produktivitas dan Daya Beli
Yusuf juga menyampaikan bahwa dominasi sektor informal dalam perekonomian masih menjadi hambatan. Ia mencatat, sektor informal masih menyumbang sekitar 59 persen dari total pekerja nasional, yang cenderung terkait dengan tingkat produktivitas rendah, pendapatan tidak stabil, serta kurangnya perlindungan sosial bagi para pekerja. Meskipun sektor informal berperan sebagai ‘bantalan ekonomi’ dengan kemampuan menyerap tenaga kerja yang cepat, Yusuf menilai hal ini tidak berdampak signifikan pada peningkatan kualitas pekerjaan secara makro.
“Dalam jangka pendek, sektor informal memang menjadi penopang utama karena mampu menyerap tenaga kerja secara massal, tetapi dalam jangka panjang, dominasi sektor ini justru menghambat kemajuan produktivitas dan daya beli masyarakat,” kata Yusuf.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama beberapa bulan terakhir tidak sepenuhnya menciptakan perubahan positif di sektor-sektor formal. Justru, sebagian besar peluang kerja baru terus berada di sektor informal, yang seringkali tidak memiliki sistem pengupahan yang terstruktur dan perlindungan sosial yang memadai. “Sektor informal jadi indikator bahwa kualitas penyerapan kerja belum membaik, meskipun angka pengangguran menurun,” jelasnya.
Agenda Struktural Perlu Dipercepat untuk Mengubah Paradigma
Yusuf menekankan bahwa tantangan utama Indonesia saat ini tidak hanya terletak pada mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga pada kemampuan untuk mengubah cara penyerapan kerja menjadi lebih bermutu dan produktif. Ia berpandangan bahwa pemerintah harus segera menindaklanjuti sejumlah agenda struktural, seperti penguatan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, serta percepatan proses formalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Agenda seperti ini penting untuk memastikan pekerjaan yang dihasilkan berdampak positif pada kemajuan ekonomi,” ujarnya.
Di sisi lain, Yusuf menyoroti perlunya memperkuat sektor manufaktur sebagai penopang utama lapangan kerja formal. Ia menjelaskan bahwa sektor ini sebelumnya menjadi penggerak utama dalam menciptakan pekerjaan yang berkualitas, terutama dalam skala besar. Kembali memperkuat sektor manufaktur, menurutnya, bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada sektor informal dan mendorong transformasi ekonomi yang lebih inklusif. “Penguatan manufaktur akan membantu menyerap tenaga kerja secara terstruktur dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan,” katanya.
Strategi untuk Mendorong Transformasi Ekonomi
Yusuf juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah-langkah konkret dalam meningkatkan kualitas pekerjaan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi hingga saat ini masih bersifat sementara, dan sektor-sektor yang lebih produktif perlu diberi perhatian khusus. “Pemerintah harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berdampak pada jumlah pekerjaan, tetapi juga pada mutu pekerjaan itu sendiri,” ujarnya.
Di samping itu, Yusuf menyoroti pentingnya inovasi dalam sektor-sektor kritis seperti pendidikan dan pelatihan keterampilan. Ia menilai bahwa pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja bisa menjadi kunci untuk memastikan pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan ekonomi. “Keterampilan yang diperoleh harus relevan dengan permintaan di sektor-sektor yang sedang berkembang, seperti manufaktur dan teknologi,” kata Yusuf.
Yusuf menambahkan bahwa penguatan ekonomi harus diiringi dengan perbaikan struktur distribusi pendapatan dan peningkatan akses ke pelatihan profesional. “Tanpa perubahan struktural, pertumbuhan ekonomi akan sulit menghasilkan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara signifikan,” jelasnya. Ia menekankan bahwa tugas pemerintah adalah menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas pekerjaan, agar tidak hanya menghasilkan angka-angka yang menarik, tetapi juga kemajuan yang berkelanjutan.