Hujan deras – 317 warga mengungsi akibat banjir 80 cm di Kendari

Bencana Banjir Mengguyur Kendari, 317 Penduduk Terpaksa Mengungsi

Kota Kendari Terjebak Banjir Luapan Kali Wanggu, Jumlah Korban Meningkat

Hujan deras – Kota Kendari di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali terpuruk akibat bencana banjir yang melanda daerah Kelurahan Lepo-Lepo. Banjir dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter tersebut muncul dari luapan Kali Wanggu, Kecamatan Baruga, yang memaksa ratusan warga mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat adanya 317 orang yang terdampak, dengan distribusi keempat RT (Rukun Tetangga) di area tersebut. Penyebab utamanya adalah hujan deras yang telah mengguyur kota tersebut selama beberapa hari terakhir, membuat air sungai meluap dan mengancam pemukiman warga.

“Ada 126 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 317 orang yang terdampak banjir tersebar di empat RT,” kata Cornelius Padang, Kepala BPBD Kota Kendari, saat diwawancarai di Kendari, Minggu. Ia menambahkan bahwa banjir tersebut mulai terjadi sejak Senin (10/5) pagi, dengan intensitas air yang terus meningkat seiring hujan mengguyur wilayah Kota Kendari sejak beberapa hari terakhir.

Dalam upaya mengatasi situasi darurat, Pemkot Kendari dan Dinas Sosial Sultra telah menyiapkan empat tenda darurat sebagai tempat pengungsian. Namun, sebagian warga memilih bertahan di rumah keluarga mereka, terutama yang memperkirakan banjir tidak akan terus bertambah. Cornelius Padang menjelaskan bahwa tim yang diterjunkan telah melakukan pemantauan serta evakuasi bagi penduduk yang terancam. Menurutnya, semua warga yang terdampak telah berhasil dievakuasi, dan Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.

Lihat Juga :   Strategi Penting: Populer, dugaan pelecehan verbal di UI hingga RI beli minyak di Rusia

Kelurahan Lepo-Lepo menjadi titik terparah akibat banjir yang menghujam area tersebut. Banjir setinggi 80 sentimeter merendam ratusan rumah warga, termasuk dua gedung sekolah. Kerusakan infrastruktur dan lingkungan terus berkembang, dengan banyak bangunan terendam air dan akses jalan terganggu. Selain itu, kondisi cuaca buruk juga memperparah situasi, karena hujan terus mengguyur kawasan kota selama lebih dari seminggu, membuat aliran air di Kali Wanggu semakin deras.

Untuk mendukung warga yang terdampak, Pemkot Kendari melalui Dinsos Sultra telah menyalurkan berbagai bantuan. Kebutuhan air bersih, makanan siap saji, dan pakaian pengganti menjadi prioritas dalam upaya memastikan kebutuhan dasar penduduk. “Ini memastikan masyarakat di sekitar Kali Wanggu tertangani dengan baik,” ujar Cornelius Padang, yang menekankan bahwa ketersediaan bantuan logistik adalah bagian dari respons darurat yang diberikan pemerintah daerah.

Bencana banjir ini bukanlah pertama kalinya mengenai Kota Kendari. Sebelumnya, pihak BPBD telah mengimbau warga untuk tetap waspada karena musim hujan masih berlangsung. Cornelius Padang menjelaskan bahwa luapan Kali Wanggu terjadi karena debit air sungai melebihi kapasitas saluran. “Kota Kendari telah mengalami hujan lebat sejak beberapa hari terakhir, sehingga air sungai terus meninggi dan akhirnya meluap,” tambahnya. Ia menyarankan masyarakat untuk mengantisipasi potensi banjir lebih awal, terutama di daerah yang rawan genangan.

Camat Baruga: Jumlah Korban Terus Bertambah

Sementara itu, Camat Baruga, Bustam, menegaskan bahwa dampak banjir semakin luas seiring intensitas hujan yang meningkat. “Hingga Sabtu siang, tercatat sebanyak 126 KK atau 317 jiwa yang terdampak di RT 4, 12, 13, dan 14,” jelas Bustam, yang menyebutkan bahwa angka ini meningkat dari pendataan awal yang hanya mencakup 43 KK. Menurutnya, banjir berlangsung sejak Jumat (8/5) malam, dengan hujan yang terus mengguyur kawasan kota hingga hari Minggu.

Lihat Juga :   Main Agenda: Pemkot Batam pertahankan kampung tua dalam revisi RTRW Kepri 2026

Bustam menyoroti bahwa wilayah Kecamatan Baruga menjadi salah satu yang paling parah terkena luapan Kali Wanggu. Terdapat puluhan rumah yang hanyut atau terendam air, sementara dua gedung sekolah menjadi sasaran banjir, mengganggu aktivitas belajar-mengajar. Ia juga menyebutkan bahwa kondisi air sungai tidak hanya meluap, tetapi juga menggerus tanah sekitar, berpotensi menimbulkan bahaya lebih lanjut bagi warga.

Dalam situasi darurat ini, para pengungsi membutuhkan penanganan segera. BPBD dan Pemkot Kendari telah berupaya memastikan bahwa warga yang terdampak memiliki tempat berlindung, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya. Bustam mengatakan bahwa tim pemantau terus bekerja keras untuk mengecek kondisi sekitar dan menyiapkan langkah evakuasi tambahan jika diperlukan. “Kita berharap bantuan yang diberikan bisa mengurangi beban masyarakat yang terkena dampak banjir,” tuturnya.

Bencana banjir di Kendari menimbulkan perhatian lebih luas, terutama karena menggambarkan kemampuan pemerintah dalam merespons bencana alam. Cornelius Padang menegaskan bahwa kesiapan tanggap darurat menjadi prioritas, dengan berbagai sumber daya yang dikoordinasikan untuk meminimalkan risiko dan kerugian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa cuaca buruk masih akan berlanjut hingga akhir musim hujan, sehingga masyarakat harus tetap berhati-hati terutama di daerah yang rawan banjir.

Banyak warga yang terdampak banjir mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap keadaan rumah dan barang-barang miliknya. Sebagian besar rumah terendam air, menyebabkan kerusakan pada dinding, lantai, dan barang-barang elektronik. Selain itu, banjir juga merusak pertanian dan perkebunan sekitar, mengganggu mata pencaharian sejumlah penduduk. Meskipun situasi saat ini terkendali, BPBD mengingatkan bahwa perlu ada upaya jangka panjang untuk memperbaiki sistem drainase dan mengurangi risiko banjir di masa depan.