What Happened During: Ikhtiar pemulihan ekonomi dan gizi setelah bencana

Ikhtiar pemulihan ekonomi dan gizi setelah bencana

Bencana dan Kehidupan yang Berubah

What Happened During – Setelah lima bulan berlalu sejak bencana besar melanda desa Batang Ara di Kabupaten Aceh Tamiang, kehidupan warga setempat masih dalam proses pemulihan. Banjir yang melanda daerah tersebut akhir tahun 2025 itu menyebabkan banyak kerusakan, termasuk hancurkan sejumlah rumah penduduk dan beberapa di antaranya terbawa arus. Saat ini, sebagian penduduk tinggal di penginapan sementara, sementara yang lain sudah kembali ke wilayah mereka, meski harus membangun tempat tinggal secara sederhana.

Desa Batang Ara terutama bergantung pada pengelolaan kebun sawit sebagai sumber penghasilan utama. Meski tanaman tersebut terkena dampak banjir dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali berproduksi, warga tetap memilih bertahan di sana karena belum ada alternatif yang lebih baik. Kepala desa setempat, Amril, adalah salah satu penduduk yang kembali ke desa setelah melalui masa kesulitan akibat bencana.

Pondok Sederhana sebagai Titik Pemulihan

Amril mengungkapkan, ia memanfaatkan bahan-bahan yang tersisa, seperti kayu yang hanyut, untuk mendirikan penginapan sederhana dekat lokasi rumah lama yang hanyut akibat banjir. “Rumah lama di sana, hanyut sudah,” katanya. Menurut Amril, keadaan ekonomi warga menjadi lebih sulit setelah bencana berlalu. Meski bantuan logistik masih diberikan, jumlahnya mulai berkurang, sementara kebun sawit yang menjadi pilar ekonomi belum bisa menghasilkan secara maksimal dalam waktu dekat.

“Di sini kami cuma bisa mengandalkan sawit, karena memang sebagian besar masyarakat kerja di kebun sawit. Tapi karena bencana ini, tanaman sawit harus diperbarui dulu, setelah tiga sampai empat tahun lagi baru bisa panen,”

Menurut pernyataan Amril, bantuan yang diberikan ke desanya seharusnya tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga membantu warga membangun sumber penghasilan baru. Ia mengharapkan bantuan berupa bibit ternak, seperti ayam atau bebek, atau pelatihan keterampilan yang bisa menumbuhkan peluang usaha.

Lihat Juga :   New Policy: Usai gangguan teknis, pesawat haji mendarat aman di Madinah

Kebutuhan yang Tetap Tidak Terpenuhi

Amril menekankan bahwa sekitar 177 kepala keluarga atau 600 jiwa masih membutuhkan perhatian serius setelah bencana. Dari jumlah tersebut, terdapat 51 balita dan beberapa anak usia sekolah yang mengalami kesulitan dalam memperoleh nutrisi. Perkebunan sawit yang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat juga terganggu, sehingga upaya pemulihan ekonomi memerlukan waktu yang cukup lama.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh warga adalah menanam sayuran menggunakan polybag di sekitar hunian mereka. Namun, hasilnya belum optimal karena tanaman yang tumbuh sempat dimakan sapi yang berkeliaran bebas di sekitar lingkungan desa. Meski demikian, beberapa warga tetap berusaha mencari alternatif sumber penghasilan lain, seperti berdagang kecil atau mengolah hasil pertanian secara sederhana.

Harapan dan Peran Pemerintah

Bencana tersebut juga memengaruhi ketersediaan bahan makanan, yang menyebabkan keluarga miskin terutama kesulitan memenuhi kebutuhan gizi. Amril berharap pemerintah dan lembaga pendukung lainnya dapat memberikan bantuan yang lebih berkelanjutan, seperti fasilitas penampungan sementara yang lebih baik, bantuan pengairan untuk kebun, atau program pemberdayaan ekonomi.

Warga desa Batang Ara terus berusaha mengembalikan kehidupan normal mereka, meski masih ada tantangan besar. Kesadaran akan kebutuhan yang lebih besar dari sekadar bantuan pangan, seperti akses ke pasar yang lebih dekat atau pelatihan pengolahan hasil pertanian, mulai terbentuk. Amril menilai, dalam jangka panjang, bantuan yang diberikan harus fokus pada pembentukan kapasitas ekonomi warga, bukan hanya pemberian bantuan semata.

Kerja Sama dan Pemulihan Berkelanjutan

Meski masih ada kekhawatiran akan ketersediaan makanan dan penghasilan, warga Batang Ara menunjukkan semangat untuk bangkit. Kepala desa Amril berharap adanya kerja sama antara masyarakat dan pihak luar dalam mempercepat pemulihan. Ia juga mengakui bahwa bantuan dana dari pemerintah masih diperlukan, tetapi harus diimbangi dengan kebijakan yang bisa membentuk perekonomian desa secara stabil.

Lihat Juga :   Historic Moment: Kemendikdasmen: TPG cair bulanan membuat guru lebih sejahtera

Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa warga sudah mulai membuka usaha kecil, seperti menjual hasil pertanian atau jasa perbaikan rumah. Meski belum sekuat sebelumnya, upaya ini menunjukkan adanya harapan untuk masa depan yang lebih baik. Amril menyatakan bahwa dengan dukungan eksternal, masyarakat Batang Ara bisa mengembalikan kondisi ekonomi mereka secara bertahap.

Perjuangan untuk Kembali Mandiri

Di sisi lain, peran lembaga swadaya masyarakat dan organisasi donor mulai terlihat. Beberapa donasi berupa alat pertanian atau peralatan rumah tangga sudah diberikan, yang membantu masyarakat mengurangi beban dalam pemulihan. Namun, Amril mengatakan bahwa kebutuhan akan berkelanjutan, karena bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu pola hidup sehari-hari.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi warga adalah ketidakpastian sumber penghasilan. Kebun sawit yang menjadi pilihan utama bagi mereka tidak hanya membutuhkan waktu panjang untuk pulih, tetapi juga investasi awal dalam perawatan dan pengelolaan. Oleh karena itu, Amril berharap ada bantuan yang lebih spesifik, seperti pelatihan pertanian modern atau dukungan ekspor hasil kebun untuk memperluas pasar.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, desa Batang Ara memperlihatkan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap mempertahankan ekonomi mereka. Meski bencana masih menyisakan luka, keinginan untuk kembali mandiri dan bangkit semangat membara. Amril yakin, dengan dukungan yang tepat, desa ini bisa menjadi contoh pemulihan yang sukses, terutama dalam mengatasi kesulitan ekonomi dan gizi pasca-bencana.