What Happened During: Kemensos percepat penanganan sosial warga Suku Togutil di Tidore
Kemensos Percepat Penanganan Sosial Warga Suku Togutil di Tidore
What Happened During – Kepulauan Tidore, Maluku Utara (ANTARA) – Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan upaya intensif untuk memperkuat dukungan sosial kepada masyarakat Suku Togutil yang tinggal di wilayah hutan Tayawi, Desa Coli, Kecamatan Oba Kota. Langkah ini diambil setelah hasil pemetaan oleh Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) menunjukkan kebutuhan spesifik yang harus dipenuhi oleh warga suku tersebut, khususnya dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hidup mereka.
Pada hari Rabu, 6 Mei, bantuan sosial yang diberikan oleh Sentra Wasana Bahagia Ternate dihadiri secara langsung oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Kehadirannya menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga hubungan erat dengan komunitas adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur. Dalam pidatonya, Sherly menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar suku Togutil dapat berkembang sejalan dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan identitas budaya mereka.
“Suku Togutil harus kita dampingi dan diberdayakan sesuai potensi yang dimilikinya. Mereka harus maju sesuai perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan tradisi,” ujar Sherly.
Kemensos melalui Sentra Wasana Bahagia Ternate menyediakan berbagai bentuk bantuan, termasuk edukasi tentang pola hidup sehat dan penguatan nutrisi. Pemimpin lembaga ini, Osep Mulyani, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar warga suku yang mengalami perubahan akibat hubungan dengan lingkungan luar. “Setelah dilakukan pemetaan di lapangan, kami fokus pada penguatan kesehatan, perawatan diri, serta penyediaan kebutuhan pokok seperti pakaian dan layanan medis,” kata Osep.
Suku Togutil, yang sebelumnya hidup berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu dan meramu, kini diberi bimbingan untuk beradaptasi secara lebih baik. Program pendampingan sosial yang rutin dijalankan oleh Sentra Wasana Bahagia bertujuan membangun kapasitas masyarakat adat tersebut, sehingga mereka bisa mengakses layanan kehidupan modern tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional yang mereka pegang. Osep menyebutkan bahwa bantuan ini tidak hanya berupa bahan makanan, tetapi juga pelatihan untuk meningkatkan kemandirian mereka.
Dalam kunjungan ke lokasi yang berlangsung di kawasan hutan Tayawi, selain Gubernur Sherly, juga dihadiri oleh pihak-pihak terkait yang turut memperkuat komitmen penanganan sosial. Pemetaan yang dilakukan KAT menjadi dasar utama bagi upaya Kemensos dalam menyusun strategi penanganan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Togutil perlu bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, termasuk akses ke pangan yang bergizi dan sanitasi yang memadai.
Pengaruh Program Pendampingan Sosial
Pemerhati adat di Ternate, Abdurahman Munim, mengungkapkan bahwa kehadiran Kemensos dan pihak pemerintah daerah telah memicu perubahan signifikan dalam struktur sosial masyarakat Togutil. Menurutnya, bantuan berkelanjutan telah membuat sebagian besar warga suku tersebut mulai terbuka terhadap pengaruh luar, seperti adopsi agama Islam dan Kristen, serta partisipasi dalam kegiatan masyarakat luas.
“Konsistensi pendampingan dari berbagai pihak telah membuat perubahan besar pada pola komunikasi dan struktur tempat tinggal warga suku Togutil,” jelas Abdurahman. Ia menambahkan bahwa adanya pendampingan teratur mengurangi keterasingan masyarakat adat dari kehidupan modern, sehingga mereka bisa menjaga tradisi sekaligus mengikuti perubahan zaman.
Peluang Masa Depan Suku Togutil
Seorang perwakilan warga Suku Togutil, Yosep, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, program penanganan sosial yang dilakukan Kemensos membawa dampak positif, terutama dalam memperbaiki kualitas komunikasi dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat luar. “Ini kali pertama ada Gubernur yang datang ke pemukiman kami. Berkat bimbingan Kemensos, saat ini kami bisa berkomunikasi dengan warga di luar suku dan memiliki tempat tinggal yang menetap,” ujarnya.
Osep Mulyani menjelaskan bahwa sentra tersebut memperkuat intervensi sosial berbasis kebutuhan langsung. Misalnya, program pemberdayaan berupa edukasi pola hidup sehat dan penyediaan sandang serta pemeriksaan kesehatan menjadi fokus utama. Pemberdayaan ini tidak hanya memperbaiki kondisi fisik warga suku, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan kehidupan di luar lingkungan asli.
Menurut Osep, masyarakat Togutil membutuhkan dukungan untuk mengadaptasi kehidupan di lingkungan perkotaan. “Pendampingan terjadwal ini memastikan mereka tidak kehilangan identitas sebagai suku adat, sekaligus mempercepat peningkatan kualitas hidup mereka,” tambahnya. Pemetaan yang dilakukan KAT sebelumnya menjadi dasar untuk merancang program yang sesuai dengan kondisi lokal dan kebutuhan spesifik warga suku.
Program penanganan sosial ini juga membuka peluang untuk pengembangan ekonomi lokal. Dengan adanya bantuan dalam bidang kesehatan dan nutrisi, warga suku Togutil diharapkan bisa menjaga kesejahteraan mereka sekaligus menjaga kelestarian tradisi. Osep berharap program ini akan berkelanjutan dan menjadi contoh untuk komunitas adat lainnya di Indonesia.
Pemerintah Maluku Utara menyambut baik upaya Kemensos dalam memperkuat kehadiran mereka di tengah masyarakat suku Togutil. Dengan adanya dukungan dari pihak pusat, pembangunan berbasis adat bisa lebih cepat tercapai. Sherly Tjoanda menegaskan bahwa penanganan sosial ini menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan komunitas adat dengan sistem sosial yang lebih luas.