782 calon haji Pamekasan masuk kategori berisiko tinggi

782 Calon Haji Pamekasan Masuk Kategori Berisiko Tinggi

782 calon haji Pamekasan masuk kategori – Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Dari jumlah total 1.384 peserta ibadah haji yang berasal dari daerah ini, sebanyak 782 orang dikategorikan sebagai kelompok berisiko tinggi. Angka tersebut menjadi perhatian serius dari panitia penyelenggara haji, karena memerlukan pendampingan khusus guna memastikan keberhasilan ibadah mereka. Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai puskesmas di seluruh Kabupaten Pamekasan, sebanyak 782 calon haji masuk dalam kategori berisiko tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan: Fokus pada Lansia dan Penderita Penyakit

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Saifudin, menjelaskan bahwa calon haji yang masuk kategori berisiko tinggi sebagian besar terdiri dari lansia yang menderita penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus. “Data yang kami terima dari puskesmas menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang lebih intensif selama perjalanan ke Tanah Suci,” ujarnya di Pamekasan, Selasa. Ia menegaskan bahwa persiapan khusus telah dipersiapkan untuk mencegah risiko kesehatan yang mungkin terjadi selama ibadah haji.

“Kami telah menyampaikan data tersebut kepada panitia penyelenggara agar mereka bisa memberikan perhatian maksimal, terutama dalam hal fasilitas kesehatan dan pemantauan kesehatan selama keberangkatan,” tambah Saifudin.

Menurut Saifudin, pendampingan khusus ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan komplikasi medis yang bisa mengganggu keberangkatan atau pelaksanaan ibadah haji. Ia juga menjelaskan bahwa penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus sering kali memerlukan pengawasan lebih ketat, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem yang sering terjadi di Mekah. “Kami harap dengan pendampingan ini, para calon haji bisa menjalani ibadah secara aman dan lancar,” katanya.

Lihat Juga :   New Policy: Usai gangguan teknis, pesawat haji mendarat aman di Madinah

Pihak Haji: Perhatian Khusus untuk Kelompok Berisiko

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Pamekasan, Abdul Halim, mengatakan bahwa laporan hasil pemeriksaan kesehatan calon haji telah diterima oleh pihaknya. “Kami menilai bahwa calon haji berisiko tinggi memerlukan perhatian khusus dari tim medis maupun panitia penyelenggara haji,” jelas Abdul Halim. Ia menambahkan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan kesehatan dan kenyamanan peserta haji, terutama yang memiliki riwayat medis.

“Mereka yang masuk kategori berisiko tinggi akan mendapatkan penanganan yang lebih intensif, baik dalam aspek perawatan kesehatan maupun pengawasan selama berada di Tanah Suci,” tutur Abdul Halim.

Abdul Halim juga menyebutkan bahwa selain fokus pada kesehatan, tim medis akan melakukan pemantauan berkala guna memastikan kondisi para calon haji tetap stabil. “Kami berupaya meminimalkan risiko kesehatan selama perjalanan, termasuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan di tempat-tempat ibadah haji,” katanya. Ia menekankan bahwa pihak haji dan kesehatan bekerja sama untuk menciptakan sistem pendukung yang optimal bagi para peserta.

Persebaran Calon Haji ke Empat Kloter

Calon haji asal Pamekasan dibagi dalam empat kelompok terbang (kloter), masing-masing dengan jumlah peserta yang berbeda. Kloter 73 mengirimkan 309 orang, Kloter 74 sebanyak 325 orang, Kloter 75 sejumlah 376 peserta, dan Kloter 76 terdiri dari 374 calon haji. “Dari keempat kloter tersebut, semua peserta akan berangkat ke Tanah Suci pada 10 Mei 2026,” kata Abdul Halim.

Dalam persiapan keberangkatan, pihak haji juga menyelenggarakan upacara pelepasan secara simbolis. Acara tersebut dilakukan hari ini di Masjid Agung As-Syuhada Pamekasan. “Pelepasan simbolis ini bertujuan untuk memotivasi para calon haji sebelum memulai perjalanan, sambil tetap memastikan bahwa semua persyaratan kesehatan telah terpenuhi,” ujar Abdul Halim. Ia menjelaskan bahwa simbolisasi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual bagi peserta haji.

Lihat Juga :   Rencana Khusus: UIN Ar-Raniry siap jadi pelopor zona KHAS perguruan tinggi di Aceh

Kelompok Berisiko Tinggi: Tantangan dalam Perjalanan Ibadah

Calon haji berisiko tinggi memiliki tantangan khusus dalam menjalani ibadah haji. Saifudin menjelaskan bahwa lansia dan penderita penyakit penyerta sering kali mengalami kelelahan lebih cepat, atau bahkan kelelahan akut akibat perjalanan jarak jauh. “Karena itu, kami berharap tim medis dan panitia haji dapat siap menjalankan tugas dengan responsif dan sigap,” katanya. Selain itu, kondisi cuaca di Mekah yang bisa berubah drastis, seperti panas berlebihan atau hujan deras, juga menjadi faktor penting dalam pemantauan kesehatan.

“Penyakit penyerta yang mereka alami bisa memicu komplikasi jika tidak terawat dengan baik. Oleh karena itu, kami menitikberatkan pada pemberian fasilitas kesehatan yang memadai dan sistem pemantauan yang terintegrasi,” ujar Saifudin.

Menurut Saifudin, kelompok berisiko tinggi ini diperlakukan secara terpisah dalam pengaturan keberangkatan. “Kami sudah menyiapkan rencana khusus untuk mereka, termasuk pengaturan waktu pemberangkatan dan penggunaan transportasi yang lebih nyaman,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa pihak kesehatan melakukan pendekatan holistik, tidak hanya sekadar memastikan kondisi fisik tetap sehat, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis selama perjalanan.