BPS: Avtur-bahan pangan picu inflasi 0,02 persen di Jatim pada April
BPS: Avtur dan Bahan Pangan Menjadi Penyumbang Inflasi 0,02 Persen di Jatim April 2026
BPS – Dalam laporan terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa Jawa Timur mengalami kenaikan harga barang (inflasi) sebesar 0,02 persen pada bulan April 2026 dibandingkan periode Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga avtur dan sejumlah bahan pangan, seperti tahu mentah, tempe, beras, tomat, serta nasi dengan lauk. Dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Senin (tanggal 15 April 2026), Debora Sulistya Rini, Statisti Ahli Madya BPS Jawa Timur, menjelaskan bahwa berbagai dinamika harga memengaruhi indeks harga konsumen (IHK) di daerah tersebut.
Penyebab Utama Kenaikan Harga
Debora menuturkan, kenaikan inflasi di Jawa Timur April 2026 terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama: kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan meningkatnya biaya transportasi. BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami lonjakan, yang kemudian memengaruhi harga avtur. Dengan peningkatan harga minyak global, biaya transportasi, tiket pesawat, serta logistik juga naik, mendorong kenaikan harga berbagai komoditas.
Di sisi lain, melemahnya nilai tukar rupiah dan gangguan pasokan global turut berkontribusi pada kenaikan harga bahan baku impor, seperti kedelai, plastik, serta komponen elektronik (chipset). Efek domino ini menyebabkan kenaikan harga produk pangan olahan, kemasan, dan barang elektronik. Selain itu, kenaikan harga crude palm oil (CPO) juga menjadi faktor, terutama karena permintaan yang tinggi untuk kebutuhan biodiesel dan risiko potensi El Nino yang mengancam pasokan minyak goreng.
“Setelah mengalami kenaikan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri akibat tingginya permintaan, harga sejumlah bahan pangan mulai menunjukkan tren penurunan dan kembali ke tingkat yang lebih stabil,” kata Debora Sulistya Rini dalam pernyataannya.
Menurut data yang diumumkan, beberapa komoditas mencatatkan kenaikan signifikan. Angkutan udara mengalami inflasi terbesar dengan kenaikan 18,38 persen, berkontribusi 0,23 persen terhadap total inflasi. Sementara itu, minyak goreng naik 4,12 persen, dengan andil 0,05 persen. Kenaikan harga nasi dengan lauk sebesar 1,39 persen dan laptop/notebook 3,15 persen juga menjadi penyumbang kecil, masing-masing sebesar 0,03 persen.
Bahan pangan seperti tahu mentah, tempe, dan beras juga mengalami kenaikan, meski tidak sebesar komoditas lain. Tahu mentah naik 2,54 persen, sementara tempe kena 2,26 persen. Beras mengalami inflasi 0,28 persen, dengan kontribusi 0,01 persen. Bensin, sebagai komoditas yang juga berpengaruh, naik 0,25 persen, berkontribusi 0,01 persen terhadap kenaikan IHK.
Wilayah yang Mengalami Deflasi
Di sisi lain, terdapat beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur yang mengalami penurunan harga (deflasi). Dari total 11 wilayah yang diteliti, sembilan di antaranya menunjukkan tren penurunan. Kota Probolinggo mencatat deflasi terbesar sebesar 0,65 persen, diikuti oleh Jember dengan penurunan 0,44 persen, Gresik 0,4 persen, Sumenep 0,4 persen, Bojonegoro 0,35 persen, Banyuwangi 0,28 persen, Tulungagung 0,18 persen, Kediri 0,12 persen, dan Madiun 0,02 persen.
Kenaikan harga yang terjadi sebelumnya pada akhir Ramadhan dan Idul Fitri akhirnya berdampak pada normalisasi harga beberapa bahan pangan. Daging ayam ras turun 10,45 persen, cabai rawit menurun 27,36 persen, emas perhiasan juga mengalami deflasi 4,65 persen, dan telur ayam ras turun 7,85 persen. “Kenaikan harga yang terjadi selama masa puasa dan hari raya mulai stabil setelah kebutuhan permintaan berkurang,” tambah Debora.
Berdasarkan data BPS, inflasi bulan April 2026 memiliki dampak yang berbeda pada tingkat tahunan dan tahun kalender. Inflasi tahunan (yoy) April 2026 dibandingkan April 2025 mencapai 2,85 persen, sedangkan inflasi tahun kalender, yaitu April 2026 terhadap Desember 2025, sebesar 1,15 persen. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga di Jawa Timur pada April 2026 tidak terlalu signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski ada tekanan dari komoditas tertentu.
Kenaikan Harga Spesifik di Jatim
Berdasarkan rincian komoditas, angkutan udara menjadi sektor paling rentan inflasi, dengan kenaikan hampir 18,38 persen. Hal ini berdampak langsung pada biaya perjalanan dan aksesibilitas barang. Di sisi lain, minyak goreng mencatatkan kenaikan 4,12 persen, yang terkait erat dengan harga CPO yang meningkat. Nasi dengan lauk mengalami inflasi 1,39 persen, sementara laptop/notebook naik 3,15 persen.
Bahan pangan seperti tahu mentah dan tempe menunjukkan kenaikan terbatas, yaitu 2,54 persen dan 2,26 persen, masing-masing. Beras mengalami inflasi 0,28 persen, sedangkan bensin naik 0,25 persen. Meski demikian, kontribusi masing-masing komoditas terhadap total inflasi masih jauh lebih kecil dibandingkan angkutan udara. Inflasi 0,02 persen di Jatim April 2026 menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga tidak merata, terutama di wilayah tertentu.
Dalam laporan terperinci, BPS menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal dan internal turut berkontribusi pada fluktuasi harga. Dari sisi eksternal, gangguan pasokan global dan melemahnya nilai rupiah memengaruhi harga bahan baku impor. Sementara dari sisi internal, kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur menjadi pendorong utama. Perubahan harga ini memicu