Pemkot Jakbar basmi 234 kg ikan sapu-sapu dengan dikubur

Pemkot Jakbar Mengendalikan 234 Kilogram Ikan Sapu-Sapu dengan Cara Memburukan

Pemkot Jakbar basmi 234 kg ikan – Jakarta, Rabu malam — Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Barat (Jakbar) telah melakukan upaya pengendalian terhadap populasi ikan sapu-sapu sejak 17 April lalu. Selama beberapa minggu, petugas setempat terus membasmi sebanyak 234 kilogram ikan ini dengan cara menguburkan secara langsung. Tindakan ini dilakukan guna mencegah pertumbuhan tidak terkendali yang bisa mengganggu ekosistem perairan kota. Dalam prosesnya, petugas mengatakan bahwa usaha ini masih terus berlanjut dan belum berhenti, meski jumlah yang berhasil diatasi hingga kini belum mencapai target yang lebih besar.

Langkah Terus Diambil untuk Cegah Peningkatan Populasi

Aas Asih, Kepala Seksi Perikanan dari Sudin KPKP Jakbar, menjelaskan bahwa kegiatan pengendalian ikan sapu-sapu ini telah dimulai sejak tanggal 17 April. “Hingga hari ini, kami sudah berhasil menangkap dan memburukan 234 kilogram ikan tersebut. Namun, jika dibandingkan dengan DKI Jakarta yang menangani hingga 11 ton, jumlah yang kami capai masih jauh,” ujarnya saat dihubungi ANTARA. Aas menegaskan bahwa upaya ini akan dilanjutkan secara rutin, termasuk pada hari Kamis (30/4) mendatang, di lokasi Citra 5.

“Jumlahnya sampai sekarang ada 234 kilo yang sudah kita tangkap dan kubur. Kalau DKI kan 11 ton,”

Menurut Aas, tindakan penangkapan ikan sapu-sapu dijadwalkan dilakukan setiap minggu. “Besok kita mau tangkap lagi di Citra 5 dan selanjutnya rutin setiap minggu,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah ikan sapu-sapu yang semakin melebar, terutama di daerah-daerah rawan seperti Kali Taman Semanan Indah.

Lihat Juga :   Pengamat usul Kemendikdasmen buat kurikulum keselamatan transportasi

Petugas Hadapi Tantangan dalam Mengatasi Ikan Sapu-Sapu

Proses pembasmian ikan sapu-sapu dinilai cukup sulit karena sifat reproduksi mereka yang tidak mudah terdeteksi. Aas Asih menyebutkan bahwa petugas kesulitan dalam menangani telur ikan ini karena mereka bertelur di celah-celah turap. “Selain memburu ikan sapu-sapu secara langsung, kami juga harus memastikan telur-telur yang mengancam populasi ikan lain tidak berkembang biak lagi,” kata Aas.

“Mengenai pembasmian telur sapu-sapu, Aas menyebut petugasnya cukup kesulitan lantaran sapu-sapu bertelur di lubang-lubang turap.”

Berdasarkan penjelasannya, ikan sapu-sapu memiliki kecenderungan menginvasi habitat perairan. Hal ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, khususnya di Kali Taman Semanan Indah. Selain itu, mereka juga membentuk lubang pada dinding turap, yang berdampak pada kerusakan struktur bangunan air. Dampak ini bisa menyebabkan turap menjadi rapuh dan rentan bocor.

Peran Ikan Sapu-Sapu dalam Kebutuhan Masyarakat

Sebagian masyarakat masih memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku masakan olahan, seperti siomay. Namun, Aas Asih menyoroti bahaya yang tersembunyi di balik konsumsi ikan ini secara rutin. “Meski terlihat menguntungkan, ikan sapu-sapu memiliki kandungan bakteri E. coli dan Salmonella, bahkan logam berat seperti timbal,” ujarnya.

“Dikhawatirkan kalau ada masyarakat yang mengkonsumsi itu secara terus-menerus, terakumulasi dalam tubuh manusia. Makanya (ikan sapu-sapu) mesti dibasmi,”

Aas menjelaskan bahwa logam berat yang terkandung dalam tubuh ikan sapu-sapu bisa menumpuk di dalam tubuh manusia setelah dikonsumsi dalam jangka panjang. Hal ini berisiko menyebabkan gangguan kesehatan, seperti keracunan atau penyakit saluran cerna. Oleh karena itu, kegiatan pembasmian dianggap penting untuk menjaga kualitas air dan kesehatan masyarakat sekitar.

Langkah Lain untuk Meminimalkan Dampak Negatif

Di samping penguburan, petugas KPKP Jakarta Barat juga melakukan pemeriksaan terhadap lingkungan sekitar tempat ikan sapu-sapu berkembang biak. Tindakan ini bertujuan memastikan bahwa tidak ada ikan sapu-sapu yang terlewat dan bisa kembali menyebar. Aas Asih mengatakan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di perairan rawan dapat menyebabkan penurunan jumlah ikan lain, seperti ikan mas atau ikan lele, yang biasanya menjadi sumber protein utama masyarakat.

Lihat Juga :   Latest Program: Pemkot Jaktim perkuat pengelolaan sampah lewat "Bank Sampah Ceria"

Di sisi lain, pengendalian ikan sapu-sapu juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah Jakarta Barat. Dengan populasi yang semakin meningkat, ikan sapu-sapu bisa menguras sumber daya alami dan mengurangi keanekaragaman hayati di perairan. Selain itu, keterlibatan oknum tertentu dalam menangkap ikan ini untuk dijual sebagai bahan makanan olahan juga menjadi perhatian petugas.

Upaya Terus Dilakukan untuk Membendung Perluasan Populasi

Sebagai bagian dari upaya mengendalikan ikan sapu-sapu, pihak KPKP Jakarta Barat berupaya menemukan solusi yang lebih efektif. Meski penguburan tetap menjadi metode utama, beberapa langkah tambahan seperti penebaran racun atau penggunaan perangkat deteksi diiringi dalam operasi penangkapan. Aas Asih mengatakan bahwa keberhasilan operasi ini bergantung pada kolaborasi antara petugas dan masyarakat sekitar.

Di masa depan, rencana pengendalian ikan sapu-sapu akan terus dilakukan dengan intensif. Aas berharap masyarakat bisa lebih sadar akan dampak negatif dari konsumsi ikan sapu-sapu secara berlebihan. “Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak memburu ikan ini secara liar di sekitar sungai atau kawasan air terbuka,” lanjutnya.

Peran Masyarakat dalam Konservasi Perikanan

Aas Asih menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung upaya pemerintah mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Ia menyebutkan bahwa selain petugas pemerintah, masyarakat sekitar bisa memberikan kontribusi dengan tidak membuang sampah ke perairan dan memastikan lingkungan tetap bersih. “Dengan bersihnya air, ikan sapu-sapu tidak bisa berkembang biak secara cepat,” ujarnya.

Menurut Aas, ekosistem perairan Jakarta Barat masih rentan terhadap ancaman perusakan dari spesies non-endemik seperti ikan sapu-sapu. Hal ini memerlukan kebijakan yang konsisten dan partisipasi aktif masyarakat. “Jika tidak segera dikelola, populasi ikan sapu-sapu bisa terus meningkat hingga mengancam keberlangsungan ikan lain,” pungkas Aas.

Lihat Juga :   Polisi usut pelaku curanmor diduga letuskan tembakan di Kembangan

Dengan langkah-langkah seperti ini, KPKP Jakarta Barat berharap bisa menciptakan lingkungan perairan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Meski demikian, upaya ini juga menuntut kesabaran dan kerja sama yang terus-menerus dari seluruh pihak terkait.