Pemkot Surabaya gencar periksa hewan kurban di 31 kecamatan
Pemkot Surabaya Intensif Lakukan Pemeriksaan Hewan Kurban di 31 Kecamatan
Pemkot Surabaya gencar periksa hewan kurban – Menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah mendesak untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di berbagai lapak penjualan yang tersebar di 31 kecamatan. Tujuan utama dari serangkaian inspeksi ini adalah memastikan bahwa hewan yang akan disembelih sebagai kurban memenuhi standar kesehatan dan kebersihan, sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat. Pemeriksaan ini dilakukan secara bertahap, dengan penekanan pada proses pengawasan yang terstruktur dan terpusat untuk mencegah penyebaran penyakit pada hewan yang dipasarkan secara spontan.
Proses Pemeriksaan yang Sistematis
Setiap hari, tim kesehatan dari Dinas Peternakan dan Perikanan Surabaya bersama dengan petugas dari kecamatan terkait mengunjungi lokasi penjualan hewan kurban. Proses pemeriksaan mencakup pemeriksaan fisik terhadap hewan, termasuk pengamatan terhadap kondisi kulit, mata, dan saluran pernapasan. Selain itu, para petugas juga memastikan bahwa hewan tersebut tidak mengalami trauma atau stres berlebihan akibat perjalanan dari tempat penangkaran ke lokasi penjualan. “Kita mengharapkan hewan kurban bisa memberikan kepastian nutrisi dan kebersihan bagi masyarakat, jadi pemeriksaan ini sangat penting,” ujar salah satu petugas yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
“Kita mengharapkan hewan kurban bisa memberikan kepastian nutrisi dan kebersihan bagi masyarakat, jadi pemeriksaan ini sangat penting,” kata salah satu petugas yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Pemeriksaan ini tidak hanya memfokuskan pada kesehatan hewan, tetapi juga memastikan kebersihan lingkungan sekitar. Lapak-lapak penjualan yang dipilih diperiksa secara menyeluruh, termasuk kebersihan tempat penyimpanan, kelembapan udara, dan ketersediaan air minum untuk hewan. “Kita ingin menghindari kondisi yang memungkinkan pertumbuhan bakteri atau jamur yang bisa memengaruhi kualitas daging,” tambah petugas lain yang ikut dalam tim.
Dalam beberapa hari terakhir, ditemukan sejumlah hewan kurban yang menunjukkan gejala penyakit flu, seperti pilek dan demam. Para petugas segera memberi peringatan kepada pemilik lapak penjualan agar mengisolasi hewan tersebut sementara waktu. Selain itu, juga ada satu hewan yang terdiagnosis menderita scabies, suatu penyakit kulit yang menular. Hewan ini telah dipindahkan ke area terpisah untuk dipantau lebih dekat. “Pencegahan lebih baik daripada penyebaran, jadi kita langsung isolasi hewan yang terinfeksi agar tidak berdampak pada hewan lainnya,” jelas petugas.
Respons Masyarakat dan Penyedia Layanan
Keberhasilan pemeriksaan hewan kurban juga bergantung pada kerja sama dari masyarakat dan penyedia layanan. Banyak pemilik lapak penjualan memahami pentingnya prosedur ini dan proaktif melaporkan kondisi hewan kepada tim. “Saya sudah biasa mengawasi kesehatan hewan sejak awal musim Idul Adha, jadi kita siap bantu pemeriksaan ini,” kata seorang pedagang yang telah lama berjualan hewan kurban di Surabaya.
Di sisi lain, petugas juga memberikan edukasi kepada calon pembeli tentang cara memilih hewan yang sehat. “Hewan yang memiliki mata bersih, kulit terlihat lembut, dan tidak terlihat ada luka di tubuhnya lebih disarankan untuk dibeli,” papar seorang anggota tim kesehatan. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kualitas hewan kurban, terutama di tengah tingginya permintaan hewan pada masa penyembelihan.
Proses pemeriksaan ini juga melibatkan penggunaan alat bantu seperti termometer dan alat pemeriksaan kesehatan dasar. Sebagian besar hewan yang diperiksa dinyatakan sehat, tetapi ada sekitar 10% yang ditemukan memiliki penyakit ringan atau gejala yang mungkin tidak terlihat sehari-hari. “Hewan dengan penyakit ringan bisa disembelih selama tidak menimbulkan risiko bagi konsumen, asalkan diawasi secara terus-menerus,” terang seorang petugas veteriner yang bertugas.
Upaya Mencegah Penyebaran Penyakit
Dalam beberapa hari terakhir, penyakit scabies yang menyerang hewan kurban menjadi sorotan. Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu, dan jika tidak segera diatasi, bisa menyebar ke hewan lain atau bahkan manusia. Hewan yang terinfeksi tersebut dipindahkan ke area terpencil untuk diberi perawatan intensif. “Hewan ini akan diisolasi selama tiga hari, lalu diperiksa kembali sebelum dipasarkan kembali,” jelas salah satu petugas yang mengelola penanganan hewan sakit.
Tim juga mengerahkan beberapa alat untuk memudahkan proses pemeriksaan. Beberapa lapak dadakan menggunakan sistem registrasi online agar memudahkan pengawasan. “Sistem ini membantu kita melacak setiap hewan dari awal hingga akhir, jadi tidak ada yang terlewat,” kata seorang petugas teknis. Selain itu, tim juga memberikan bantuan kecil kepada pedagang yang kesulitan mengawasi hewan secara mandiri.
Hasil Pemeriksaan dan Rekomendasi
Sampai saat ini, total hewan kurban yang telah diperiksa mencapai lebih dari 2.000 ekor. Dari jumlah tersebut, sekitar 150 ekor ditemukan memiliki gejala penyakit, termasuk 10 ekor yang mengidap scabies. Hewan-hewan ini diberi perawatan khusus dan akan dipasarkan kembali setelah dinyatakan sembuh. “Hasil pemeriksaan ini akan menjadi dasar bagi rekomendasi kebijakan selanjutnya, seperti peningkatan pelatihan petugas atau penggunaan teknologi pemantauan,” kata salah satu kepala seksi di Dinas Peternakan Surabaya.
Inspeksi hewan kurban ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pengawasan yang sudah berjalan. Petugas menyatakan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan peningkatan kualitas hewan kurban dibandingkan tahun lalu, terutama karena adanya peningkatan kesadaran pemilik hewan tentang pentingnya perawatan sebelum penyembelihan. “Ada perubahan positif, banyak pemilik hewan mulai merawat hewan secara lebih intensif,” ujar salah satu petugas yang telah melibatkan diri dalam proses ini selama beberapa tahun.
Sebagai langkah tambahan, Dinas Peternakan Surabaya berencana mengadakan pelatihan untuk pedagang lapak dadakan agar mereka bisa melakukan pemeriksaan dasar secara mandiri. “Kita ingin mengembangkan kapasitas masyarakat agar bisa terlibat lebih aktif dalam menjaga kesehatan hewan kurban,” kata seorang pejabat yang mengkoordinasi kegiatan tersebut. Selain itu, tim juga berencana memperkenalkan sistem perekaman data digital untuk memudahkan pelacakan hewan dari awal sampai akhir proses penyembelihan.
Pemeriksaan hewan kurban ini