Rencana Khusus: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto
Karir Militer Try Sutrisno: Dari Kegagalan Tes Fisik hingga Jadi Panglima ABRI
Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno meninggal dunia pada Senin, 2 Maret 2026, di usia 90 tahun. Ia wafat setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, sekitar dua minggu akibat dehidrasi. Rencananya, jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada hari yang sama. Sebelumnya, ia juga akan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta No 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Awal Karier yang Tidak Mulus
Masa muda Try Sutrisno sempat mengalami kegagalan dalam ujian fisik saat mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959. Kejadian itu menarik perhatian Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama yang memanggilnya untuk mengikuti pemeriksaan psikologis di Bandung. Di sana, ia akhirnya diterima dan memulai perjalanan karier militer.
Pada 1957, Try Sutrisno memasuki dunia militer dengan tugas berperang melawan kelompok PRRI di Sumatra. Setelah lulus dari ATEKAD, ia ditempatkan di berbagai daerah seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Tahun 1972, karirnya mengalami perubahan besar saat ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), yang memicu peningkatan posisinya.
Pengabdian yang Membawa Nama Besar
Dalam 1974, Try Sutrisno diangkat sebagai ajudan Presiden Soeharto, jabatan yang menjadi buah dari usaha dan perjuangannya. Dua tahun kemudian, ia menjabat Kepala Staf Kodam XVI/Udayana, lalu naik pangkat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya. Keberhasilannya dalam mengamankan peristiwa Tanjung Priok pada 1982 menegaskan kredibilitasnya sebagai figur andal.
Karirnya mencapai puncak saat Try Sutrisno menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993. Selama masa jabatan, ia membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk memudahkan prajurit membeli rumah. Meski sempat dianggap sebagai orang yang tidak ambisius, ia tetap mampu mengukir jejak signifikan dalam sejarah TNI.
Sosok yang Memimpin Dengan Konsisten
Menjadi Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno mengakui bahwa ia tidak pernah berniat mengambil jabatan tersebut sejak awal. Usai pensiun, ia ingin fokus pada keluarga, tetapi perjalanan hidupnya terus mencatatkan prestasi. Selama menjabat Panglima ABRI, ia pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena keterbatasan dana.
Dua anak Try Sutrisno, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, turut hadir saat ia berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD), Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan pentingnya dedikasi Try Sutrisno terhadap bangsa.
Karir Try Sutrisno dari bawah hingga menjadi jenderal tertinggi menjadi cerita inspiratif. Ia tidak hanya mengatasi tantangan awal, tetapi juga menjadi contoh bagi banyak prajurit. Jejak pengabdian sang jenderal legendaris akan terus dihormati dalam sejarah militer dan perjalanan Indonesia.