Topics Covered: Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat
Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat
Topics Covered - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah memfinalisasi tempat penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung bulan Agustus 2026 mendatang. Dalam proses ini, PBNU melakukan evaluasi mendalam terhadap berbagai kemungkinan lokasi yang bisa menjadi tuan rumah acara besar ini. Berdasarkan informasi terkini, lima provinsi menjadi kandidat utama, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatra Barat. Proses pemilihan lokasi bertujuan menemukan tempat yang mampu menampung ribuan peserta, sambil memastikan aspek kelayakan seperti aksesibilitas, biaya operasional, serta siapnya sarana dan prasarana pendukung.
Proses Evaluasi Berlangsung Intensif
Pemilihan lokasi Muktamar ke-35 tidak hanya berdasarkan kapasitas fisik, tetapi juga faktor-faktor lain seperti kemudahan transportasi, ketersediaan fasilitas, serta kemampuan mengakomodasi peserta dari berbagai latar belakang. PBNU mengungkapkan bahwa tim peninjau sudah diterjunkan ke lima provinsi untuk mengecek kondisi masing-masing calon lokasi. Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar keputusan akhir, yang akan diumumkan setelah rapat evaluasi akhir pekan depan.
Di Jawa Timur, dua pondok pesantren menjadi pilihan utama, yaitu Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang. Kedua lokasi ini dianggap memiliki potensi besar karena lokasinya strategis dan fasilitas yang memadai. Sementara itu, di Jawa Barat, DKI Jakarta, NTB, dan Sumatra Barat, PBNU juga sedang mempertimbangkan beberapa titik lain. Tim survei akan melakukan observasi menyeluruh untuk memastikan semua aspek terpenuhi, termasuk kemampuan menampung peserta hingga lebih dari sepuluh ribu orang.
Kriteria Pemilihan Lokasi
Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa beberapa kriteria utama menjadi acuan dalam menentukan lokasi. Pertama, aksesibilitas, baik dari segi transportasi darat maupun udara, untuk memudahkan para peserta dari berbagai daerah. Kedua, pembiayaan, yang mencakup biaya sewa gedung, pengaturan logistik, serta kebutuhan lainnya. Ketiga, siapnya sarana dan prasarana, seperti kapasitas tempat, ketersediaan tempat parkir, fasilitas kesehatan, dan kemudahan penginapan.
Menurut Gus Ipul, PBNU juga memperhitungkan daya dukung setempat, termasuk kemampuan masyarakat setempat untuk mendukung acara besar. "Kita memilih tempat yang tidak hanya bisa menampung peserta, tetapi juga mampu menyediakan fasilitas lengkap untuk memastikan keberhasilan acara," ujarnya. Ia menambahkan bahwa jumlah peserta diperkirakan mencapai 3.000 hingga 10.000 orang, dengan kemungkinan pengunjung tambahan hingga 5.000 hingga 10.000 lebih. Hal ini membuat kesiapan infrastruktur menjadi sangat penting.
Proses Seleksi di Jawa Timur
Dalam konteks Jawa Timur, Gus Ipul menyebutkan bahwa dua pondok pesantren, yaitu Lirboyo dan Tambakberas, akan menjadi fokus utama tim survei. "Di Jawa Timur ada beberapa titik yang mengajukan, tapi kita akan melihat hasil penilaian tim," kata Gus Ipul saat ditemui wartawan di Jakarta, Jumat (3/7/2026). Ia menjelaskan bahwa kedua lokasi tersebut memiliki keunggulan masing-masing, dengan Lirboyo dikenal sebagai pusat aktivitas NU yang sudah teruji, sementara Tambakberas memiliki ruang yang lebih luas dan aksesibilitas yang memadai.
Terlepas dari itu, PBNU juga sedang meninjau tiga pondok pesantren di DKI Jakarta sebagai calon lokasi. "Di DKI ini ada tiga yang akan dilihat di beberapa pondok pesantren," pungkas Gus Ipul. Ia menjelaskan bahwa DKI Jakarta memiliki keunggulan sebagai kota besar dengan infrastruktur yang lengkap, meski lokasi di sana mungkin memerlukan biaya tambahan untuk menjamin kenyamanan peserta.
Proyeksi Partisipasi dan Persiapan
Gus Ipul menegaskan bahwa keputusan akhir akan diambil setelah tim survei menyampaikan laporan mereka. "Minggu depan, insyaallah, akan diadakan rapat untuk mendengarkan laporan-laporan tim survei. Kalau memungkinkan, nanti akan diputuskan tempatnya di mana," ujarnya dalam wawancara dengan media. Ia menambahkan bahwa PBNU berharap lokasi yang dipilih tidak hanya memenuhi syarat teknis, tetapi juga memiliki nilai sejarah atau simbolis yang relevan dengan peran NU sebagai organisasi keagamaan.
Kemudahan akses menjadi salah satu faktor krusial. Proses transportasi, baik untuk peserta maupun pengunjung, akan menjadi perhatian utama tim peninjau. Sementara itu, biaya pembiayaan dianggap penting karena acara ini diperkirakan memakan anggaran besar. Gus Ipul mengatakan bahwa tim survei juga mengevaluasi kapasitas ruangan, daya tampung, serta kemungkinan pemanfaatan ruang ekstra jika diperlukan. "Lokasi yang dipilih harus memiliki ruang yang bisa menampung peserta lebih dari 3.000 orang, termasuk pengunjung dan peninjau," tambahnya.
Persaingan dan Harapan untuk Lokasi Ideal
Dalam pertimbangan tersebut, PBNU menyadari bahwa setiap provinsi memiliki kelebihan dan kekurangan. Jawa Timur, misalnya, dianggap memiliki ketersediaan fasilitas yang memadai, namun mungkin memerlukan perbaikan pada infrastruktur transportasi. Sementara itu, DKI Jakarta ditawarkan sebagai lokasi yang lebih mudah dijangkau, tetapi bisa lebih mahal dalam hal biaya operasional.
Gus Ipul menjelaskan bahwa selain faktor teknis, PBNU juga mempertimbangkan aspek kelembutan, seperti kesesuaian lokasi dengan visi dan misi NU. "Kita ingin lokasi yang bisa menjadi pusat perhatian dan kebanggaan bagi umat Islam," ujarnya. Ia menekankan bahwa keputusan akhir akan diambil setelah semua pertimbangan matang. Dalam beberapa hari ke depan, PBNU akan mengumpulkan data lengkap dan memutuskan lokasi yang paling memenuhi syarat.
Kesiapan untuk Acara Besar
Persiapan untuk penyelenggaraan Muktamar ke-35 terus berjalan intensif. PBNU sedang mengkoordinasikan berbagai aspek, termasuk penataan ruangan, penyebaran informasi, dan logistik. Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah provinsi lain, seperti NTB dan Sumatra Barat, memiliki potensi untuk menjadi lokasi karena ketersediaan ruang yang luas dan kemudahan transportasi darat.
Sebagai organisasi keagamaan besar, NU membutuhkan lokasi yang tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memiliki nilai simbolis. "Kita juga memperhatikan sejarah dan prestasi setempat, karena itu bisa menjadi alasan kuat untuk dipilih," kata Gus Ipul. Ia berharap keputusan yang diambil akan memperkuat posisi NU