PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Deddy Sitorus PDIP Semprot NasDem dan Demokrat: Fokus Urus Partai Sendiri yang Sedang Digerogoti!

Published Juni 22, 2026 · Updated Juni 22, 2026 · By Lia Maulana

Deddy Sitorus PDIP Semprot NasDem dan Demokrat: Fokus Urus Partai Sendiri yang Sedang Digerogoti!

Topics Covered - Dalam sebuah pernyataan terbaru, Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, menegaskan bahwa partainya tetap berkomitmen untuk menjadi pihak yang mengimbangi kekuasaan pemerintah. Ia menyatakan bahwa PDIP memainkan peran penting sebagai penyeimbang dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, terutama melalui fungsi pengawasan konstitusional yang dijalankan oleh DPR RI.

Deddy menyoroti tindakan beberapa partai politik koalisi yang terus-menerus mengkritik PDIP karena dianggap tidak konsisten. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai bentuk serangan yang tidak etis dan terkesan mengada-ada. Menurutnya, partai koalisi ini justru terlihat kurang fokus pada perbaikan internal mereka sendiri, sebaliknya malah mencampuri urusan rumah tangga PDIP.

"Saya bertanya, mengapa partai-partai ini begitu khawatir dengan keberadaan kami? Apakah karena kurang percaya diri atau ada kegalauan internal koalisi sehingga mencari kambing hitam?"

Kritik Deddy terutama ditujukan kepada Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Demokrat, yang dianggap sering menyerang PDIP secara terbuka. Ia menekankan bahwa kinerja partai koalisi yang lebih baik adalah kunci untuk mempertahankan kepercayaan publik. "Lebih baik perbaiki kinerja menteri-menteri mereka di kabinet daripada sibuk menggurui partai lain," tambahnya.

Peringatan ke Partai Pendatang Baru

Deddy memperingatkan bahwa partai-partai yang baru masuk ke koalisi pemerintah harus siap menghadapi tantangan dari partai pendatang baru. Ia menilai, jika NasDem dan Demokrat tidak mampu memperkuat keberadaan mereka sendiri, mereka berisiko kalah dalam persaingan politik. "Jangan sampai nanti partai seperti PDIP menjadi target utama kegalauan internal mereka," ujarnya.

Kritik terhadap PDIP juga disampaikan Deddy dalam konteks pemilu yang masih jauh. Ia menilai, saat ini rakyat lebih menginginkan partai politik yang mampu menghadirkan solusi nyata untuk masalah-masalah seperti harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik, bantuan sosial (bansos), dan persoalan pangan serta ekonomi. "Rakyat ingin melihat partai bekerja, bukan sibuk membuat gaduh," jelasnya.

Role of DPR dan Fungsi Pengawasan Konstitusional

Deddy menekankan bahwa tugas utama DPR bukan hanya mendukung program pemerintah atau menjadi "tukang stempel" kebijakan eksekutif. Ia menilai, fungsi pengawasan konstitusional yang dilakukan oleh PDIP merupakan bagian tak terpisahkan dari peran legislatif. "Jika seluruh fraksi di DPR hanya manut dan setuju terhadap eksekutif, apa bedanya dengan era Orde Baru? Apakah DPR masih dibutuhkan?" tanyanya.

Dalam konteks ini, Deddy juga mengingatkan bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia memerlukan kekuatan pengawasan dari lembaga legislatif. Ia menyatakan bahwa PDIP telah menjalankan amanah yang diberikan oleh Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan jelas, yakni tetap berada di luar kabinet namun tetap aktif dalam menjalankan pengawasan terhadap pemerintahan.

Lebih lanjut, Deddy mengatakan bahwa PDIP akan tetap tegak pada prinsipnya sebagai penyeimbang yang konstruktif. "PDIP berkomitmen untuk terus mengkritik secara bertanggung jawab dan mengawal jalannya pemerintahan agar tetap berada di jalur konstitusi," tuturnya.

Menurut Deddy, serangan yang menyebut PDIP bermain "politik dua kaki" adalah sikap yang mengherankan. Ia menilai, pernyataan tersebut justru menggambarkan ketidakpuasan partai koalisi terhadap peran PDIP sebagai penyeimbang. "Ini bukan sikap ambigu, tapi amanah yang diberikan oleh rakyat," imbuhnya.

Sebagai penutup, Deddy menegaskan bahwa PDIP tidak akan berubah dari prinsipnya. "Kami tetap akan menjalankan fungsi pengawasan konstitusional dengan konsisten, meskipun ada tekanan dari partai-partai koalisi," pungkasnya. Ia menambahkan, jika ada partai dalam koalisi yang merasa tidak nyaman, sebaiknya mereka mengundurkan diri dari pemerintahan daripada menyeret PDIP sebagai musuh politik.

Perspektif Golkar dan Masa Depan Koalisi

Sementara itu, Partai Golkar memberikan dukungan terhadap sikap politik PDIP sebagai penyeimbang. Mereka menilai bahwa rakyat adalah pihak yang paling berhak menilai kinerja partai-partai dalam koalisi. "Sikap PDIP sebagai penyeimbang harus dihormati, karena itu bagian dari sistem demokrasi yang sehat," kata juru bicara Golkar.

Deddy juga memperkirakan bahwa keberadaan PDIP sebagai penyeimbang akan tetap dibutuhkan dalam masa depan. Ia menilai, tugas utama partai politik adalah menjawab kebutuhan masyarakat dengan solusi yang nyata, bukan hanya mengadakan polemik internal. "Pemilu masih jauh, jadi jangan cari kambing hitam untuk kegalauan kalian. Kalau mau, cari kurban pas Lebaran kemarin," ujarnya dengan nada tajam.

Dengan pernyataan-pernyataan tersebut, Deddy Sitorus menegaskan bahwa PDIP tidak hanya bertahan di jalur konstitusional, tetapi juga menjadi pilar yang stabil dalam sistem pemerintahan Indonesia. Ia berharap, partai koalisi lainnya bisa fokus pada perbaikan internal dan tidak terus-menerus mencari kesalahan PDIP sebagai alasan untuk menekan keberadaannya.

Menurut Deddy, ketidakpuasan terhadap PDIP tidak akan berhenti jika partai koalisi tidak mau mengambil langkah-langkah yang konstruktif. Ia menilai, partai koalisi harus berani menghadapi kritik dan meningkatkan kinerja mereka, bukan hanya menyalahkan PDIP. "Kami sudah memberikan kontribusi yang signifikan, dan rakyat tahu itu," pungkasnya dengan yakin.

Sebagai kesimpulan, Deddy menegaskan bahwa PDIP akan terus berperan sebagai penyeimbang yang tegas. Ia menyatakan, keberadaan partai tersebut tidak hanya untuk menyeimbangkan kekuasaan, tetapi juga sebagai pelaku reformasi yang memastikan pemerintahan tetap berada dalam jalur konstitusi. "Ini adalah amanah yang tidak akan kami tinggalkan