PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tim Jibom Temukan ‘Granat Maut’ di Lokasi Ledakan Biak – Olah TKP Terpaksa Ditunda

Published Juni 2, 2026 · Updated Juni 2, 2026 · By Joko Setiawan

Tim Jibom Temukan 'Granat Maut' di Lokasi Ledakan Biak, Olah TKP Terpaksa Ditunda

Tim Jibom Temukan Granat Maut di Lokasi - Sebuah granat aktif dari peninggalan Perang Dunia II ditemukan oleh Tim Penjinak Bom (Jibom) Polda Papua di Kompleks Perikanan Biak pada Senin, 1 Juni 2026. Granat tersebut jenis nanas, yang disebut sebagai "granat maut" karena berpotensi menimbulkan bahaya bagi warga sekitar. Dalam pemeriksaan di lokasi kejadian, tim Jibom langsung menghancurkannya untuk menghindari risiko ledakan tambahan.

Korban dan Kerusakan Akibat Ledakan

Sebelumnya, ledakan yang terjadi di Kompleks Perikanan, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/5) sekitar pukul 14.45 WIT menewaskan lima orang dan melukai 19 warga. Insiden tersebut juga merusak sembilan rumah, mengakibatkan sekitar 55 jiwa terdampak. Pemerintah daerah segera mengambil langkah darurat dengan menyediakan pengungsian sementara bagi warga yang terkena dampak.

"Karena masih menunggu pembersihan yang dilakukan tim Jibom Gegana maka olah TKP juga belum dilakukan," kata Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan sebagaimana dilansir Antara.

Oleh karena itu, pihak kepolisian meminta warga tidak memasuki lokasi kejadian hingga kawasan dianggap aman. "Penyidik belum melakukan olah TKP karena masih menunggu tim Jibom melakukan sterilisasi kawasan itu dan menyatakan bebas dari bahan peledak," tambahnya. Dengan menunda olah TKP, tim investigasi memastikan tidak ada bahan peledak lain yang berpotensi meledak, sehingga mencegah korban lebih lanjut.

Pengungsi dan Penyelamatan Warga

Sebanyak 55 orang yang terdampak langsung dipindahkan ke tempat pengungsian sementara oleh Pemda Biak Numfor. Pengungsi ditempatkan di lokasi yang aman sementara tim Jibom memastikan semua bahan peledak di lokasi sudah dihilangkan. Proses sterilisasi memakan waktu karena tim Jibom tiba di Biak pada Senin sore, sehingga tidak sempat melakukan pemeriksaan maksimal dalam hari pertama.

Penyelidikan terhadap kejadian ledakan akan dimulai kembali pada hari Selasa (2/6) setelah kawasan dinyatakan bebas dari bahan peledak. Kapolres menjelaskan bahwa penghancuran granat aktif menjadi prioritas utama untuk melindungi warga sekitar dan memulihkan situasi. "Tim Jibom memerlukan waktu ekstra untuk memastikan tidak ada ancaman lain di TKP," tuturnya.

Korban Maut yang Terpendam Puluhan Tahun

Korban dari ledakan tersebut meliputi Deflin Raubaba (41 tahun), Moris Raubaba (24 tahun), Karmila Ayorbaba (25 tahun), Israel Raubaba (7 tahun), dan Isril Raubaba (5 tahun). Selain itu, tiga orang dinyatakan hilang dan sembilan rumah warga rusak. Rumah-rumah yang hancur menghuni 10 kepala keluarga, dengan total jumlah jiwa yang terdampak mencapai 55 orang. Isak tangis mengiringi pemakaman para korban, menunjukkan kesedihan yang mendalam di tengah penyesalan akan kejadian yang terjadi setelah puluhan tahun berlalu.

Pemakaman lima korban meninggal dilakukan di lokasi yang kini telah dinyatakan aman. Meski begitu, ketakutan terhadap bahan peledak peninggalan PD II masih terasa, terutama bagi warga yang tinggal di area yang rentan terhadap ledakan. Tim Jibom terus melakukan pemeriksaan terhadap area sekitar untuk memastikan tidak ada granat lain yang tersisa.

Latar Belakang dan Langkah Pemulihan

Biak Numfor dikenal sebagai salah satu wilayah strategis di Papua yang pernah menjadi lokasi perang besar selama Perang Dunia II. Banyak bahan peledak dari masa perang tersebut masih terpendam di bawah tanah, menunggu kesempatan untuk meledak kembali. Ledakan hari Minggu lalu menjadi bukti bahwa ancaman dari peninggalan perang masih relevan hingga hari ini.

Setelah granat aktif dihancurkan, Tim Gegana Brimob terus menggali area untuk menemukan sisa-sisa bahan peledak lain. Proses ini memakan waktu karena perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari risiko kecelakaan. Kapolres juga menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahan peledak lain yang belum ditemukan, sehingga penundaan olah TKP menjadi wajar.

Pengaruh pada Komunitas dan Pemulihan

Insiden ini memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan warga Biak Numfor. Selain kerugian material, kehilangan nyawa dan luka-luka mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemda berupaya mempercepat pemulihan dengan menyediakan layanan kesehatan darurat dan bantuan logistik untuk pengungsi. "Kita sedang berupaya memastikan warga dapat kembali ke rumah mereka setelah kawasan dianggap aman," jelas perwakilan pemerintah setempat.

Korban yang meninggal juga menjadi perhatian khusus bagi masyarakat. Deflin Raubaba, seorang warga tua, meninggal dalam kecelakaan yang menimpa keluarganya. Moris dan Karmila Ayorbaba, serta anak-anak Israel dan Isril, menjadi korban yang mengejutkan, karena mereka tidak terlihat dalam kondisi yang mengancam kehidupan. Selain itu, tiga orang hilang meninggalkan keluarga dalam kebingungan dan penyesalan.

Kapolres menegaskan bahwa kejadian ini tidak hanya menjadi peringatan untuk menghindari bahaya dari bahan peledak, tetapi juga mendorong perluasan penelitian tentang peninggalan PD II di Papua. "Kita perlu memahami seberapa besar risiko yang bisa terjadi di masa depan," katanya. Sementara itu, warga setempat terus mengikuti perkembangan penyelidikan, mengharapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai penyebab ledakan yang mungkin terjadi karena kelelahan atau kurangnya perhatian pada bahan peledak yang tertinggal.

Proses sterilisasi dan olah TKP dianggap kritis dalam menentukan penyebab pasti ledakan. Dengan menunda olah TKP, tim investigasi memberi waktu untuk memastikan semua ancaman sudah diatasi. Ini menunjukkan betapa hati-hati langkah-langkah yang diambil, agar tidak ada warga yang terluka lagi. Selain itu, proses ini juga membantu mengungkap data lebih lengkap mengenai korban