PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis

Published Juni 14, 2026 · Updated Juni 14, 2026 · By Hadi Permata

Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis

Special Plan - Vokal dan musisi sekaligus anggota Aliansi Rakyat Memanggil, Cholil Mahmud, menghadiri aksi demonstrasi di Yogyakarta pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, sebagai bentuk dukungan kepada gerakan sipil. Acara tersebut diikuti oleh sejumlah aktivis dan warga yang berunjukrasa di Simpang Tiga Gejayan, Kabupaten Sleman, sebagai wujud penolakan terhadap berbagai isu yang belum terselesaikan di tanah air.

Munculnya Gerakan Massa

Gerakan yang terjadi di Jogja, menurut Cholil, merupakan akibat dari kumpulan kekecewaan rakyat terhadap sejumlah masalah nasional. Dari sisi ekonomi hingga kebijakan pemerintah, sejumlah isu menjadi penyebab peningkatan kecemasan masyarakat. Ia menekankan bahwa aksi ini adalah bagian dari upaya kolektif yang bertujuan menyuarakan keadilan.

Cholil berpandangan bahwa gerakan sipil perlu tetap terorganisir agar tidak terpecah menjadi konflik yang tidak bermaksud. Ia menyoroti pentingnya menjaga koordinasi antar kelompok untuk mencegah adanya perpecahan di kalangan warga.

"Gejayan Memanggil 2019 kalau enggak salah, punya dampak yang signifikan buat teman-teman di berbagai daerah juga. Kemarin di Jakarta enggak bisa ikut, terus pas lagi di Jogja, ada ini, maksudnya ingin hadir dan memberikan solidaritas untuk kawan-kawan yang sedang berjuang," kata Cholil ditemui, di kawasan Simpang Tiga Gejayan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Isu yang Menjadi Penyebab Kekecewaan

Dalam aksinya, Cholil mengungkapkan bahwa berbagai masalah menjadi penyebab kekecewaan publik. Termasuk dalam daftar tersebut adalah korupsi yang masih merajalestarikan, kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak cukup responsif, serta koperasi Desa Merah Putih yang belum optimal dalam memenuhi harapan masyarakat.

Ia juga menyoroti persoalan lingkungan dan konflik agraria yang sering kali diabaikan oleh pemerintah. "Gerakan yang harus dirawat gitu ya kali ya, diasah, agar enggak mengempos di tengah jalan. Kita karena ini saya pikir ini permulaan dari sebuah gerakan masyarakat yang lebih terkoordinasi," ucapnya.

Kondisi Ekonomi dan Dampaknya

Cholil menambahkan bahwa kondisi ekonomi yang kian memburuk juga menjadi salah satu faktor yang memicu ketegangan. Terutama terkait dengan meningkatnya nilai tukar dolar, yang memaksa pemerintah melakukan pengurangan subsidi. Hal ini berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, yang dirasakan oleh masyarakat sehari-hari.

Gerakan ini, menurutnya, juga menyentuh isu-isu yang lebih luas, seperti kondisi di Papua. Masyarakat di sana masih berjuang menghadapi perdebatan mengenai hak tanah yang belum tuntas. "Masyarakat harus bisa mengenali dan mengasah kepekaan untuk terus bersama masyarakat," tuturnya.

Peran Buzzer dalam Konflik

Cholil menyoroti potensi buzzer dalam memperuncing perpecahan antar kelompok. Menurutnya, kehadiran para pengaruh di ruang digital bisa memicu konflik horizontal yang tidak perlu terjadi. "Semoga konflik horizontal antar masyarakat lebih bisa dihindari gitu karena ya dengan adanya buzzer itu jadi lebih memungkinkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan masyarakat. Itu sebenarnya sih yang disayangkan," tandasnya.

Kontinuitas Gerakan Sipil

Cholil menyatakan bahwa aksi seperti ini tidak hanya sekadar kejadian sementara, tetapi merupakan gelombang perubahan yang terus berkembang. Ia menilai bahwa gerakan masyarakat sipil saat ini memiliki potensi besar untuk menjadi basis perubahan jika dikelola dengan baik.

Dalam wawancara, ia juga menyebutkan bahwa keberhasilan gerakan massa bergantung pada komunikasi yang jelas dan partisipasi yang masif. "Kita harus menjaga momentum ini agar tidak terhenti di tengah jalan," imbuhnya.

Harapan untuk Kebijakan Pemerintah

Cholil menambahkan bahwa pemerintah perlu lebih responsif terhadap aspirasi rakyat. Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak terlaksana secara efektif bisa memicu kekecewaan yang memicu aksi lebih besar. "Kita harus memastikan bahwa masalah-masalah ini tidak hanya dianggap sebagai kejadian kecil, tapi diperlakukan sebagai isu strategis," kata Cholil.

Dengan turun langsung ke jalan, Cholil berharap untuk menunjukkan bahwa gerakan sipil bisa menjadi sarana efektif dalam menyampaikan keinginan masyarakat. "Kita perlu terus memperkuat solidaritas antar daerah agar gerakan ini tidak hanya sebatas lokal, tapi menjadi gerakan nasional," ujarnya.

Penutup

Aksi demonstrasi di Jogja pada Sabtu, 13 Juni 2026, menjadi momentum penting untuk menyuarakan berbagai isu yang masih mengemuka. Cholil Mahmud, selaku vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca, berharap gerakan ini bisa berlanjut dan memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Dengan partisipasi aktif dari tokoh-tokoh kreatif seperti Cholil, gerakan sipil semakin diperkuat sebagai bentuk partisipasi rakyat dalam proses demokrasi. Harapan terbesar dari aksi ini adalah mendorong pemerintah untuk lebih cepat merespons kebutuhan masyarakat dan mencegah terjadinya konflik yang bisa merusak keharmonisan sosial.