PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bukan Untuk Cetak Tentara, Kemhan Ungkap Misi Utama Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Published Juni 27, 2026 · Updated Juli 16, 2026 · By Indah Wibowo

Bukan Untuk Cetak Tentara, Kemhan Ungkap Misi Utama Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Pelatihan Mengorbankan Nyawa, Kemhan Berkomitmen Evaluasi Keseluruhan

Special Plan - Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan dukungan kepada keluarga lima peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia dalam kejadian tragis di berbagai lokasi. Menurutnya, kejadian ini menjadi momen penting untuk mengoreksi proses pelaksanaan program tersebut.

Latihan bela negara manajerial ini dijalankan sebagai bagian dari upaya membentuk para calon manajer koperasi desa dan kelurahan. Tujuan utamanya adalah menghasilkan pemimpin yang memiliki integritas, disiplin, serta profesionalisme tinggi dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat. Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6/2026), Mayjen Ketut menegaskan bahwa SPPI dirancang untuk memperkuat karakter individu sebelum mereka diberikan tanggung jawab mengelola koperasi.

“Latihan bela negara manajerial ini bukan hanya tentang penguasaan keterampilan militer, tetapi juga tentang pembentukan mental dan kepribadian yang mampu menginspirasi masyarakat,” ujar Mayjen Ketut dalam pernyataannya.

Korban yang dilaporkan meninggal dunia adalah peserta dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP), dua program yang bertujuan memperkuat ekonomi lokal melalui pengelolaan keuangan dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Mereka tengah menjalani tahap penilaian untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan pengelolaan organisasi.

Dalam upaya meningkatkan keselamatan, Kementerian Pertahanan menyatakan akan mengadakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh prosedur pelaksanaan SPPI. Evaluasi ini akan mencakup pengawasan lapangan, perbaikan metode latihan, serta penggunaan teknologi untuk meminimalkan risiko selama proses pelatihan. “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang lagi, dengan menjadikan aspek keselamatan sebagai prioritas utama,” tambah Mayjen Ketut.

Peran Latsarmil dalam Membangun Karakter Manajerial

Menurut Mayjen Ketut, Latsarmil adalah bagian dari proses seleksi yang melatih calon manajer untuk memahami tanggung jawab sosial dan keterampilan kepemimpinan. Pelatihan ini memfokuskan pada pengembangan disiplin, semangat gotong royong, serta kesadaran akan pentingnya kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. “Tujuan utama adalah mencetak individu yang mampu melayani masyarakat secara profesional dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Program SPPI tidak hanya menargetkan keahlian teknis, tetapi juga mengutamakan penguatan mental dan kepribadian. Peserta diberikan kesempatan untuk menghadapi situasi nyata, termasuk tantangan dalam memimpin tim dan mengambil inisiatif dalam situasi darurat. Dalam pernyataan tertulis, Mayjen Ketut menegaskan bahwa pelatihan tersebut dirancang agar peserta siap menghadapi peran sebagai pengelola koperasi di tingkat desa dan nelayan.

“SPPI adalah jembatan antara pendidikan dan praktek, dimana peserta diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam membangun ekonomi lokal,” tambah Mayjen Ketut.

Kementerian Pertahanan juga mengungkapkan rasa empati mendalam kepada keluarga korban. Mereka menyatakan dukungan moral dan bantuan darurat untuk para keluarga yang kehilangan anggota. Dalam konferensi pers, Mayjen Ketut menegaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan kualitas program dengan memperhatikan aspek keselamatan, transparansi, dan akuntabilitas.

Korban Meninggal Latsarmil Bertambah, Kemhan Perkuat Komitmen

Korban yang meninggal mencapai lima orang, terdiri dari peserta yang sedang menjalani pendidikan di Dodik Bela Negara Kalimantan. Tragedi ini memicu peninjauan kembali pada seluruh proses pelatihan, termasuk penggunaan alat pelindung, pengawasan intensif selama latihan, dan penguasaan teknik keselamatan.

Mayjen Ketut menyatakan bahwa pelatihan tersebut dirancang untuk menghasilkan pemimpin yang kuat, baik secara fisik maupun mental. “Kami memahami bahwa keselamatan peserta adalah prioritas pertama, dan program ini akan terus diperbaiki guna mencapai standar yang lebih tinggi,” ujar dia.

Sebagai langkah tindak lanjut, Kementerian Pertahanan berencana menambahkan elemen penguasaan teknologi dan alat bantu keselamatan di setiap tahap pelatihan. Dengan demikian, peserta tidak hanya dilatih dalam aspek manajerial, tetapi juga diberikan kemampuan untuk menghadapi kondisi kritis secara lebih efektif.

Perkembangan Program SPPI dan Langkah Pemulihan

Program SPPI telah menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam membentuk generasi pemimpin lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, pelatihan ini diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Kementerian Pertahanan mengakui bahwa kejadian ini memperlihatkan adanya kebutuhan untuk memperkuat kualitas pelatihan dan monitoring.

Mayjen Ketut menegaskan bahwa keselamatan peserta akan menjadi fokus utama dalam evaluasi yang sedang dilakukan. “Kami akan merevisi seluruh prosedur pelaksanaan, termasuk penambahan sesi simulasi darurat dan penguasaan teknik komunikasi darurat,” pungkasnya.

Dalam keseluruhan proses, Kementerian Pertahanan tetap menekankan bahwa tujuan program SPPI adalah mencetak calon manajer koperasi yang mampu berkiprah di tingkat masyarakat. Dengan kombinasi pelatihan militer dan manajerial, peserta diharapkan mampu membangun koperasi yang mandiri dan berkontribusi positif pada perekonomian desa serta kampung nelayan.

Korban meninggal ini menjadi pelajaran berharga bagi program SPPI. Dengan evaluasi yang menyeluruh, Kementerian Pertahanan berkomitmen untuk memastikan bahwa latihan ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga memastikan kesejahteraan peserta dalam menjalani proses pembelajaran. “Kami akan terus memperbaiki diri, agar program ini bisa memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” tutup Mayjen Ketut.