PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solution For: Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Masuk 10 Besar Pelestari Budaya di Festival Piala Presiden

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Budi Permata

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Torehkan Prestasi di Festival Piala Presiden

Solution For - Kelompok Reog Garudo Djoyo Manggolo dari Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo berhasil memperoleh penghargaan kategori 10 Besar Pelestari Budaya dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026. Prestasi ini dianggap sebagai momen penting karena menggambarkan komitmen lembaga pendidikan dalam memupuk nilai-nilai kebudayaan melalui seni tradisional. Acara yang berlangsung di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo pada 11 hingga 14 Juni 2026 menjadi panggung bagi 32 kelompok reog dari berbagai daerah, dengan penutupan resmi dilakukan Senin malam, 15 Juni 2026.

Penghargaan yang Membawa Harapan Baru

Ini bukan hanya kemenangan bagi SRT 5 Ponorogo, tetapi juga langkah strategis dalam memperkuat peran lembaga pendidikan sebagai penjaga kebudayaan lokal. Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengungkapkan rasa bangga dan lega setelah kelompoknya meraih pengakuan nasional. "Anak-anak luar biasa, mereka membawa kebanggaan bagi sekolah dan komunitas," katanya, usai menerima piala serta piagam penghargaan. Acara penutupan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH, yang turut berperan dalam mendukung keikutsertaan siswa-siswi dalam festival tersebut.

"Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Kementerian Sosial dan jajarannya sudah mengantarkan anak-anak satu langkah lebih maju. Semoga ini awal dari kesuksesan mereka nantinya, memang proses itu tidak akan mengkhianati hasil," tambah Devit, yang mengapresiasi kontribusi Kementerian Sosial dalam membuka peluang bagi para siswa untuk tampil di kancah nasional.

Prestasi ini mencerminkan upaya SRT 5 Ponorogo dalam menggabungkan pendidikan dengan warisan budaya. Dengan menorehkan nama dalam 10 besar penyelenggara festival, sekolah tersebut semakin dikenal sebagai inisiatif inovatif dalam melestarikan seni tradisional. Di sisi lain, penghargaan ini juga memperkuat kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pemerintah dalam mengangkat kebudayaan secara aktif.

Kisah dalam Gerakan Tari

Penampilan kelompok Garudo Djoyo Manggolo di festival tahun ini mengangkat kisah legendaris Prabu Klono Sewandono, yang sedang mencari pasangan dari Kerajaan Daha. Cerita tersebut dihidupkan melalui gerakan tari yang menggambarkan ketangkasan, keberanian, serta kelembutan karakter tokoh utama. Dalam narasi tersebut, Prabu Klono dibayangkan membawa pusaka Kyai Pecut Samandiman sebagai simbol kekuatan dan kharisma dalam perjalanan pengantin.

Pertunjukan ini tidak hanya menunjukkan keahlian teknis, tetapi juga mampu menyampaikan pesan moral dan budaya melalui koreografi yang dinamis. Kombinasi gerakan tari dengan irama musik tradisional memperkaya pengalaman penonton, menciptakan kesan penuh semangat dan menghibur. Selain itu, alur cerita yang disampaikan melalui gerakan penari juga membuka ruang untuk pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai lokal yang terkandung dalam seni ini.

Peran Musik dalam Kesenian Reog

Seni reog tidak lengkap tanpa elemen musik yang mengiringi. Dalam pertunjukan Garudo Djoyo Manggolo, gamelan Jawa berperan sebagai penyemangat yang mengatur ritme dan nuansa drama. Bunyi kendang, gong, kenong, kethuk, dan slompret berpadu harmonis, menciptakan suasana yang menarik dan membangkitkan energi. Sementara vokal penyanyi latar serta penyenggak memberikan dimensi tambahan, memperkuat narasi visual yang disampaikan.

Perpaduan antara alat musik dan tarian menunjukkan kompetensi tinggi dari peserta festival. Musik yang dipilih tidak hanya memperkaya kesan estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memudahkan penonton dalam memahami makna dari setiap gerakan penari. Keterlibatan musisi dan penari dari berbagai generasi menambah kesan inklusif dalam penyampaian seni tradisional ini.

Kemenangan Lain di Festival Ini

Di samping kemenangan SRT 5 Ponorogo, beberapa kelompok lain juga memperoleh penghargaan. Grup Reog Singo Taruno Budoyo dari SMP Negeri 1 Ponorogo berhasil meraih juara pertama, sementara Grup Reog Kyai Lodra yang mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur membawa pulang Piala Bergilir Presiden RI. Kemenangan tersebut menegaskan bahwa kompetisi tahun ini menampilkan keragaman prestasi dari berbagai daerah.

Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI 2026 bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya Indonesia. Dengan partisipasi 32 kelompok, event ini memperlihatkan kekayaan seni reog sebagai bagian dari identitas nasional. Selain itu, festival juga berdampak pada keberlanjutan seni tradisional, karena memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat secara aktif dalam pengembangan kebudayaan.

Upaya Masa Depan dalam Pelestarian Seni

Sebagai bagian dari inisiatif sekolah, SRT 5 Ponorogo terus berupaya memperluas dampak seni reog ke masyarakat. Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mencakup aspek budaya. Devit Tri Candrawati menegaskan bahwa