PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam – Lalu Apa Pemantiknya?

Published Juni 14, 2026 · Updated Juni 14, 2026 · By Dewi Hidayat

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam Lalu Apa Pemantiknya?

Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah - Sebuah investigasi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi di sebuah rumah di Sayegan, Sleman, tidak berasal dari gas alam maupun fenomena terbakar secara alami. Hasil penelitian ini diumumkan pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, sebagai jawaban atas misteri yang timbul setelah kejadian tersebut.

Temuan Mendasar

Menurut peneliti, sumber api terdeteksi dari residu bahan yang mengandung Poly Vinyl Chloride (PVC) di lokasi kebakaran. Bahan ini menempel pada permukaan dinding, tripleks, dan kayu di titik-titik api. Selain itu, adanya zat pelarut atau solvent yang mudah terbakar juga ditemukan. Kombinasi antara PVC dan solvent ini, menurut tim, berperan dalam memicu api.

"Kami tidak menemukan bukti bahwa api muncul dari gas alami, melainkan dari bahan tertentu yang terbakar di tempat kejadian," kata Sarju Winardi, anggota tim peneliti Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, kepada wartawan pada hari Sabtu (13/6/2026).

Pembongkaran Mekanisme Pembakaran

Sarju menjelaskan bahwa proses terbakarnya material PVC terjadi karena adanya interaksi dengan zat pelarut yang dilepaskan saat bahan tersebut terkena panas. Zat pelarut ini, kata dia, kemungkinan besar berupa senyawa kimia yang terdapat dalam komponen material, seperti solvent. Saat material terbakar, zat pelarut ini mungkin melepaskan gas hidrogen klorida, yang kemudian terdeteksi oleh sensor sebagai gas hidrogen.

"Prinsipnya, api berasal dari resin PVC yang mengandung zat pelarut, bukan dari gas alami. Zat itu adalah sumber api yang misterius karena tidak terdeteksi secara langsung," ujarnya.

Proses Pengendapan dan Residu

Telah diidentifikasi bahwa saat bahan PVC terbakar, gas hidrogen klorida yang dihasilkan akan terdeteksi oleh alat sensor sebagai gas hidrogen. Zat ini lalu memicu munculnya api, sementara residu dari zat pelarut tetap menyatu dengan material yang terbakar, seperti dinding dan tripleks. Proses ini dianggap sebagai sumber api yang tidak alami, karena terjadi akibat interaksi antara dua komponen kimia.

"Ketika material yang mengandung resin PVC terkena api, zat pelarutnya melepaskan gas hidrogen klorida. Gas ini selanjutnya diidentifikasi sebagai hidrogen oleh sensor, sehingga memicu pembakaran," tambah Sarju.

Kontroversi dengan BRIN

Sebagai kontras, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat meragukan hipotesis bahwa api misterius di Sleman berasal dari gas limbah ayam. Namun, tim PKPE UGM menegaskan bahwa kebakaran ini lebih tepat dikaitkan dengan campuran bahan kimia yang ditemukan di lokasi. Sarju menyatakan bahwa gas yang terbaca sebagai hidrogen oleh alat deteksi sebenarnya adalah hidrogen klorida yang berasal dari senyawa PVC.

Ketepatan dalam Analisis

Penelitian ini melibatkan pengambilan sampel dari lokasi kejadian, di mana tim PKPE UGM menemukan sisa-sisa material PVC yang tertinggal di tempat terbakar. Dengan menganalisis komposisi kimia dari residu tersebut, mereka menemukan bahwa zat pelarut dalam material menjadi faktor utama yang memicu api. Hal ini berbeda dari pendapat umum yang menganggap kebakaran bisa terjadi karena gas alami atau sumber api yang tidak diketahui.

"Kami mengidentifikasi bahwa zat pelarut dari material yang mengandung resin PVC menjadi sumber api. Zat ini awalnya berupa campuran yang terbakar saat paparan panas meningkat," jelas Sarju.

Konfirmasi dan Implikasi

Tim PKPE UGM juga menegaskan bahwa tidak ada bukti terkait gas alam sebagai penyebab utama. Bahan-bahan yang terbakar di lokasi, seperti PVC, mengandung senyawa kimia yang mampu menghasilkan gas hidrogen klorida saat terkena panas. Gas ini, meski tidak langsung terlihat, tetap menjadi trigger untuk memulai proses api. Sarju menekankan bahwa kejadian ini tidak bisa disebut sebagai kebakaran alami karena melibatkan interaksi bahan kimia tertentu.

"Ketika bahan PVC terbakar, gas hidrogen klorida akan dihasilkan. Gas ini kemudian terdeteksi sebagai hidrogen, sehingga membuat alat sensor salah membaca. Zat ini adalah bagian dari material yang digunakan dalam konstruksi rumah," tuturnya.

Proses Penyelidikan Lebih Lanjut

Selain itu, tim peneliti juga mengungkapkan bahwa zat pelarut yang berasal dari material PVC mungkin menguap dan terbakar setelah terkena pemantik tertentu. Zat ini tidak hanya menjadi sumber api, tetapi juga meninggalkan residu yang membantu mengidentifikasi penyebabnya. Sarju menyebutkan bahwa proses ini menunjukkan bahwa bahan kimia dalam konstruksi rumah bisa berperan sebagai penyalur panas yang memicu kebakaran.

"Kami menemukan bahwa material yang terbakar mengandung campuran zat pelarut. Zat ini kemungkinan menguap dan terbakar saat paparan panas meningkat. Hasil penelitian ini membuka kemungkinan bahwa kebakaran bisa terjadi akibat bahan kimia yang ada di sekitar kita," kata Sarju.

Dalam menyimpulkan, tim PKPE UGM menyatakan bahwa kebakaran di Sleman tidak berasal dari sumber alami seperti gas alam, tetapi dari interaksi antara material yang mengandung resin PVC dan zat pelarut. Sarju menegaskan bahwa penelitian ini membantu memperjelas mekanisme kebakaran yang sebelumnya dianggap misterius, serta menyoroti pentingnya analisis kimia dalam penyelidikan kecelakaan serupa.

Hasil penelitian ini juga memberikan informasi penting bagi pihak terkait, seperti BPBD Sleman, untuk memperbaiki prosedur pemeriksaan kebakaran di masa depan. Sarju berharap temuan ini bisa menjadi referensi bagi peneliti lain dalam mengidentifikasi sumber api yang berasal dari bahan kimia di lingkungan kita. Dengan memahami komponen kimia yang ada dalam material konstruksi, potensi kebakaran bisa ditekan sejak tahap awal.

Kontroversi yang muncul antara UGM dan BRIN menunjukkan bahwa masih ada perbedaan pendapat dalam mengenai sumber api misterius. Meski demikian, penelitian UGM dianggap lebih terperinci karena melibatkan analisis kimia yang mendalam. Sarju menekankan bahwa zat pelarut yang ditemukan adalah bukti kuat bahwa kebakaran ini tidak terjadi secara spontan, tetapi akibat interaksi bahan kimia tertentu.

Analisis dari tim PKPE UGM juga membuka wawasan baru tentang risiko kebakaran dari material konstruksi yang menggunakan resin PVC. Bahan ini, meski umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bisa menjadi penyebab kebakaran jika terkena panas dalam kondisi tertentu. Sarju berharap masyarakat lebih peka terhadap penggunaan bahan-bahan yang mengandung zat pelarut mudah terbakar, terutama di area