PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Mengapa Anak-Anak di Pesisir Menjadi Kelompok yang Paling Menanggung Dampak Krisis Iklim?

Published Juni 28, 2026 · Updated Juni 28, 2026 · By Joko Setiawan

Mengapa Anak-Anak di Pesisir Menjadi Kelompok yang Paling Menanggung Dampak Krisis Iklim?

New Policy - Dalam laporan terbaru dari UNICEF tahun 2026, disebutkan bahwa lebih dari satu miliar anak di seluruh dunia kini terancam oleh perubahan iklim. Ancaman ini mencakup kekeringan, panas ekstrem, serta banjir yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena ini tidak hanya menggangu kebutuhan dasar anak-anak, tetapi juga mengubah cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Kelompok anak-anak di daerah pesisir terutama menjadi korban utama karena lokasi geografis yang rentan terhadap perubahan iklim. Wilayah seperti Pantai Utara Jawa mengalami erosi parah yang mengakibatkan penurunan muka tanah. Perubahan ini mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, karena lingkungan tempat mereka tinggal terus berubah.

Krisis Iklim Berdampak Langsung pada Hak Anak

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menyoroti bahwa anak-anak tidak hanya terkena dampak lingkungan, tetapi juga tekanan sosial dan ekonomi yang lebih besar. Di Demak, krisis iklim menimpa ruang hidup anak, menghambat akses ke pendidikan, dan memperparah rasa tidak aman dalam kehidupan sehari-hari.

"Anak-anak di garis depan krisis iklim karena rentan lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya. Faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas memperkomplekskan situasi mereka, terutama ketika harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian," ujar Mida Saragih, pengkampanye perlindungan pesisir dan laut, dalam pernyataan tertulis pada Jumat (26/6/2026).

Krisis iklim tidak hanya menjadi isu tentang perubahan suhu atau cuaca ekstrem. Dampaknya mulai terasa pada anak-anak, yang sering kali menjadi korban utama dari bencana yang terjadi di wilayah pesisir. Menurut laporan UNICEF 2026, sekitar 33 juta anak terdampak banjir pesisir, sementara 337 juta lainnya mengalami kerugian akibat banjir sungai.

Di Indonesia, kasus ini terlihat jelas di kawasan Pantai Utara Jawa. Kajian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2026 menunjukkan bahwa 65,8 persen wilayah pesisir mengalami erosi sepanjang 2000 hingga 2024. Erosi ini diperparah oleh naiknya permukaan air laut dan penurunan muka tanah, yang membahayakan tempat tinggal serta aktivitas anak-anak.

Demak: Contoh Nyata Perubahan Iklim yang Membahayakan Generasi Muda

Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak krisis iklim. Data WALHI Jawa Tengah mencatat bahwa banjir rob telah menggenangi sekitar 1.266 hektar lahan di beberapa desa. Desa seperti Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah menjadi korban berulang dari peristiwa ini, yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka.

Di Desa Bedono, perubahan iklim menciptakan dampak yang jauh lebih ekstrem. Penelitian WALHI Jawa Tengah (2024) menunjukkan bahwa luas daratan desa yang dulu mencapai 739 hektar kini menyusut menjadi 94,33 hektar akibat abrasi, kenaikan air laut, dan penurunan permukaan tanah. Situasi ini mengganggu kebutuhan dasar anak-anak, seperti akses ke pendidikan dan ruang bermain.

Krisis iklim tidak hanya mengancam fisik anak-anak, tetapi juga memengaruhi kondisi mental mereka. Hidup dalam ketidakpastian karena bencana iklim mengakibatkan tekanan psikologis yang berat. Mida Saragih menjelaskan bahwa anak-anak sering kali harus menghadapi perubahan lingkungan dan ekonomi yang drastis, terutama saat tempat tinggal mereka terus berkurang.

Berikutnya, dampak krisis iklim terasa lebih jelas dalam aspek ekonomi. Saat ekonomi sulit, masyarakat pesisir semakin mengandalkan hiburan anak sebagai cara meningkatkan belanja. Perubahan iklim memaksa mereka beradaptasi dengan sumber daya yang terbatas, sehingga anak-anak menjadi bagian dari solusi yang diusahakan.

Situasi ini juga menggambarkan krisis keadilan antar generasi. Fahmi Bastian, dari WALHI Jawa Tengah, mengatakan bahwa kebijakan pembangunan seharusnya tidak hanya dinilai dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup anak-anak. "Jika pesisir terus tenggelam, negara tidak hanya gagal melindungi anak hari ini, tetapi juga merampas hak generasi mendatang untuk memiliki ruang hidup yang aman dan berkelanjutan," tambahnya.

Kebutuhan Perlindungan yang Lebih Tegas untuk Anak-Anak

Krisis iklim memaksa anak-anak di pesisir menghadapi tantangan yang lebih besar, seperti pengurangan ruang belajar dan meningkatnya risiko penyakit. Perubahan lingkungan ini juga membuat rumah mereka terus ditinggikan, sehingga memperparah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masa depan anak-anak di daerah pesisir tidak lagi terjamin. Kondisi yang terus berubah menunjukkan bahwa dampak krisis iklim sudah menyentuh kehidupan mereka secara langsung. Dengan demikian, perlindungan yang lebih kuat diperlukan untuk memastikan mereka memiliki akses yang memadai ke pendidikan, kesehatan, dan lingkungan yang sehat.

Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperhatikan kelompok ini dalam merancang kebijakan pembangunan. Pendidikan dan kesejahteraan anak-anak tidak boleh diabaikan, terutama dalam konteks krisis iklim yang semakin mengancam. Dengan mengambil langkah yang tepat, anak-anak di pesisir dapat dilindungi dari ancaman yang terus-menerus.