New Policy: Menenun Harapan Perempuan Penenun di Timur Indonesia Bersama Giro Kartini
Membangun Usaha dengan Tekstil Khas: Perempuan Penenun Lombok Melalui Giro Kartini
New Policy - Dari pelosok Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nisa dan para penenun wanita lainnya terus mengembangkan keterampilan yang telah diwariskan generasi ke generasi. Program pelatihan yang digelar CIMB Niaga bersama Tenoon pada Maret 2025 telah membuka jalan baru bagi mereka untuk meningkatkan kualitas produk serta mengakses pasar yang lebih luas.
Program ini bertujuan memberdayakan perempuan penenun dengan mengajarkan teknik manajemen usaha modern dan literasi digital. Dengan pendekatan yang berbeda dari sebelumnya, para penenun kini mampu mengelola bisnis mereka secara lebih terstruktur. Mereka juga diberikan wawasan tentang strategi pemasaran online, yang menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan pendapatan mereka.
Kenaikan pendapatan hingga 25 persen per bulan menjadi bukti nyata bahwa program ini memberikan dampak signifikan. Sebelumnya, perempuan penenun menghadapi tantangan dalam menjual kain hasil tenun karena keterbatasan jaringan pemasaran. Kini, mereka mampu mengakses pembeli dari berbagai daerah bahkan internasional.
Bisnis yang Berkelanjutan dan Budaya yang Dilestarikan
Nisa, yang dikenal di lingkungannya dengan nama panggilan tersebut, menjelaskan bahwa pemasaran digital menjadi kunci untuk menjangkau pasar yang lebih luas. "Kini, tidak hanya keluarga yang membeli kain tenun, tetapi juga wisatawan asing yang menginginkan souvenir khas Indonesia," katanya dalam wawancara dengan Suara.com pada Jumat (22/5/2026).
Dengan alat tenun kayu tradisional yang telah digunakan sejak ratusan tahun, Nisa membangun usaha yang berawal dari kerja keras dan ketekunan. Awalnya, ia menjual kain hasil tenun kepada pengepul lokal. Namun, prosesnya terasa lambat, terutama karena waktu pengerjaan satu kain bisa mencapai satu bulan. Motif yang semakin rumit justru memperpanjang durasi produksi.
Setelah mengikuti pelatihan, Nisa dan anggota kelompoknya mulai memahami potensi pasar digital. Mereka tidak lagi tergantung pada saluran tradisional, tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan karya mereka. Hasilnya, dalam sebulan, mereka mampu menjual belasan helai kain dengan motif Subahnale, Bintang, dan Remawe, yang menjadi ciri khas budaya Sasak.
Dari hasil penjualan tersebut, Nisa mengantongi keuntungan sekitar Rp5 juta per bulan. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan masa lalu, ketika pendapatan terbatas pada transaksi langsung. Keberhasilan ini menginspirasi para anggota lain dalam kelompok Lumbung Sensek untuk terus berkembang.
Pelatihan yang Memberdayakan
Pelatihan tersebut diadakan di Maret 2025, dengan total 10 peserta yang terpilih dari ratusan pendaftar. Nisa menjadi salah satu peserta yang paling bersemangat. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari cara mengelola usaha secara profesional, termasuk penggunaan platform digital dan desain grafis sederhana.
Berkat pelatihan, Nisa mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas jaringan pemasaran. Ia juga belajar memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas. "Saya mulai memahami bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan ekonomi," ujarnya.
Momen Penting dalam Sejarah Penenun Sasak
Kelompok Lumbung Sensek, yang didirikan Nisa pada tahun 2019, kini menjadi contoh keberhasilan penenun wanita. Dari awalnya hanya 10 orang, anggota kelompok kini mencapai 28 orang. Mereka saling berbagi stok kain tenun dan memastikan produk tetap tersedia untuk pemesan.
"Ketika stok habis di tempat saya, anggota kelompok akan menginformasikan kepada siapa saja yang memiliki kain tersisa," tambah Nisa. Dengan sistem ini, para penenun mampu menjaga konsistensi produksi dan memenuhi permintaan pelanggan secara efisien.
Peluang di Luar Batas Wilayah
Sebelumnya, kain tenun Nisa hanya dikenal di lingkungan lokal. Namun, kini karya-karyanya mulai terkenal ke mancanegara. Wisatawan asing, seperti dari Australia, Inggris, Belanda, dan Tiongkok, sering membawa kain tenun khas Sasak pulang sebagai kenang-kenangan. Motif yang unik dan kompleks menjadi daya tarik utama bagi konsumen global.
Nisa menyadari bahwa keberhasilan ini hanya awal. Ia berharap program pelatihan bisa terus diadakan agar lebih banyak perempuan penenun lainnya bisa merasakan manfaatnya. "Jika kita bisa memanfaatkan digital secara optimal, produk ini bisa sampai ke seluruh dunia," tuturnya.
Pengalaman Membangun Bisnis dari Nol
Sejak kecil, Nisa terbiasa melihat ibu dan perempuan-perempuan di desa berjam-jam duduk di depan alat tenun. Bagi masyarakat Sasak, tenun bukan hanya keahlian, tetapi juga bagian dari identitas budaya. "Dulu, nenek mengajarkan cara membuat selendang. Dua tahun kemudian, saya bisa membuat kain besar sendiri," kenang Nisa.
Dengan dukungan pelatihan, Nisa mengubah usaha kecilnya menjadi lebih dinamis. Ia tidak lagi bergantung pada relasi pribadi, tetapi juga membangun jaringan bisnis yang lebih luas. Program ini memberikan penguasaan teknis yang selama ini belum dikuasai oleh para penenun.
Kerja keras Nisa dan kelompoknya menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa menjadi fondasi usaha yang berkelanjutan. Dengan pemasaran digital dan manajemen usaha yang baik, mereka berharap bisa menjangkau lebih banyak konsumen di luar wilayah Lombok. Perempuan penenun di sini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menulis cerita sukses dalam dunia ekonomi modern.
Seiring waktu, keberhasilan mereka mendorong lebih banyak perempuan di wilayah Timur Indonesia untuk terlibat dalam program serupa. Pemerintah dan organisasi lokal mulai menyadari pentingnya menanamkan keterampilan baru dalam menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program seperti ini menjadi langkah strategis dalam menggabungkan tradisi dan inovasi.