PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: DEN Temukan Potensi 9 Juta Barel Tangki Minyak Menganggur, Disiapkan untuk Kondisi Krisis

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Budi Permata

New Policy: DEN Optimalkan 9 Juta Barel Tangki Minyak Menganggur sebagai Cadangan Krisis

New Policy - Dewan Energi Nasional (DEN) meluncurkan new policy terbaru untuk memanfaatkan potensi 9 juta barel dari tangki penyimpanan minyak yang tidak aktif. Langkah ini bertujuan memperkuat cadangan energi nasional sebagai antisipasi kondisi darurat, seperti gangguan pasokan global atau krisis ekonomi. Dengan menggali sumber daya infrastruktur yang sudah ada, DEN mengupayakan peningkatan keandalan bahan bakar minyak (BBM) secara efisien dan terjangkau.

Strategi Pemanfaatan Infrastruktur yang Tersisa

New policy ini menjadi jawaban DEN terhadap tantangan keterbatasan anggaran dalam membangun infrastruktur penyimpanan baru. Selain itu, rencana ini juga diharapkan mengurangi biaya operasional serta meningkatkan responsivitas pasokan energi. Satya Widya Yudha, salah satu anggota DEN, menjelaskan bahwa tangki yang berpotensi dimanfaatkan ini akan menjadi sumber cadangan penyangga, yang dapat digunakan saat terjadi gangguan ekstrem.

Menurut Satya, penggunaan kembali tangki minyak yang menganggur adalah solusi pragmatis mengingat kondisi global yang semakin tidak menentu. "Dengan new policy ini, kita bisa mengoptimalkan kapasitas yang selama ini tidak terpakai, terutama untuk keadaan krisis yang mungkin terjadi," ujarnya saat diwawancara di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6/2026).

Klasifikasi Cadangan Energi Nasional

Den mengidentifikasi tiga kategori utama dalam sistem cadangan energi nasional, yaitu cadangan operasional, penyangga, dan strategis. Kategori penyangga menjadi fokus utama new policy, karena diharapkan bisa digunakan sebagai buffer ketika pasokan BBM terganggu. Satya menjelaskan, cadangan operasional saat ini berkisar antara 19 hingga 21 hari, sedangkan cadangan penyangga direncanakan untuk mencakup kebutuhan minimal 30 hari.

Sebagai perbandingan, Satya menyebutkan bahwa sistem serupa diterapkan di negara-negara besar seperti Amerika Serikat melalui Strategic Petroleum Reserve (SPR). "Di sana, cadangan hanya dikeluarkan saat kondisi krisis benar-benar terjadi," kata dia. Dengan new policy ini, DEN ingin menciptakan kebijakan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan dinamika pasar global.

Kalkulasi dan Pemenuhan Kebutuhan Penyimpanan

Kapasitas tangki penyimpanan yang dibutuhkan untuk new policy ini dihitung berdasarkan volume impor dan kebutuhan nasional selama masa kritis. Satya mengungkapkan, total potensi yang ditemukan mencapai sekitar 9 juta barel, namun masih perlu diverifikasi kondisi fisik setiap fasilitas. "Jumlah ini cukup signifikan, tetapi harus dicek dulu apakah tangki tersebut dalam kondisi baik atau perlu perbaikan," jelasnya.

"Dengan new policy ini, kita bisa menghemat biaya signifikan sekaligus meningkatkan daya tahan energi nasional," tambah Satya. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan sumber daya yang tersisa dengan kebutuhan jangka panjang, agar tidak terbuang sia-sia.

Manfaat dan Tantangan Kebijakan Ini

Manfaat utama dari new policy DEN adalah penghematan anggaran dan pengurangan risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri. Namun, Satya juga mengakui tantangan yang mungkin muncul, seperti keterbatasan infrastruktur yang perlu diperbaiki sebelum bisa dimanfaatkan. "Pemeliharaan dan revitalisasi tangki menjadi langkah krusial agar bisa digunakan secara maksimal dalam kondisi krisis," kata dia.

DEN juga berharap kebijakan ini mendorong kolaborasi dengan sektor swasta dan lembaga lainnya untuk memastikan ketersediaan stok yang cukup. Selain itu, new policy ini dirancang agar bisa beradaptasi dengan fluktuasi harga minyak global, yang sering kali mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Dengan demikian, DEN menggabungkan aspek strategis dan operasional dalam satu langkah untuk mengamankan kebutuhan energi rakyat.

Langkah Selanjutnya dan Kesiapan

Satya menyatakan bahwa DEN sedang menggarap rancangan implementasi new policy ini, termasuk pelibatan pihak terkait dalam proses verifikasi dan perbaikan fasilitas. "Kesiapan kita tergantung pada kinerja tim dan dukungan dari berbagai pihak," tuturnya. Ia menambahkan, pihaknya juga akan mengukur dampak kebijakan ini terhadap distribusi BBM dan LPG, serta memastikan keadilan dalam penggunaan cadangan.

Dengan new policy ini, DEN mengambil langkah penting untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan energi nasional. Kebijakan yang dirancang ini tidak hanya memanfaatkan sumber daya yang ada, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat ketahanan energi di tengah situasi krisis yang semakin nyata. Penyesuaian infrastruktur dan strategi penyimpanan diharapkan menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas pasokan bahan bakar bagi masyarakat Indonesia.