PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Indah Wibowo

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Key Strategy - Dalam kondisi ekonomi global yang semakin tidak menentu, pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mampu mempertahankan konsistensi nilai tukar rupiah serta mengendalikan tingkat inflasi. Upaya ini bertujuan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, mengingat tekanan eksternal terus berpotensi mengganggu kinerja pasar dalam negeri.

Koordinasi Antara Otoritas Moneter dan Fiskal

Menurut Halim Alamsyah, anggota Dewan Ahli Pusat Studi Kebijakan Prasasti, kerja sama yang lebih erat antara lembaga moneter, sektor keuangan, dan otoritas fiskal menjadi kunci dalam meningkatkan pasokan valuta asing. Ia menjelaskan bahwa upaya ini diperlukan untuk memperkuat fondasi ekonomi, terutama di tengah situasi ketidakpastian yang mengancam momentum pertumbuhan.

“Koordinasi intensif antara pihak-pihak tersebut akan memberikan ruang yang lebih luas bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika tekanan terhadap rupiah dan inflasi tidak dikelola secara optimal, peluang ekonomi akan semakin terbatas,” ujarnya dalam pernyataannya, Sabtu (6/6/2026).

Halim menambahkan bahwa kebijakan makroekonomi yang harmonis dapat meningkatkan kredibilitas pemerintah, sehingga pasar akan lebih percaya pada langkah-langkah yang diambil. Ia menekankan bahwa stabilitas rupiah dan inflasi bukan hanya tanggung jawab BI, tetapi juga perlu didukung oleh kebijakan fiskal yang berimbang.

Spekulasi dan Psikologis Pasar

Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor fundamental, tetapi juga oleh dinamika psikologis dan spekulasi di pasar. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global telah menciptakan lingkungan yang rentan, sehingga perubahan kecil dalam kebijakan atau data ekonomi bisa berdampak besar.

“Faktor penyebab tekanan pada rupiah sudah campur aduk, tidak bisa ditentukan satu saja. Namun, yang paling dominan adalah melemahnya kepercayaan pasar terhadap mata uang lokal. Spekulasi dan ketakutan akan inflasi menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar,” kata Piter.

Menurut Piter, ketidakstabilan rupiah tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya, tetapi sering kali dipengaruhi oleh perilaku pasar yang kian terpuruk. Ia mencontohkan bahwa bahkan individu atau bisnis yang tidak memiliki kebutuhan dolar langsung bisa terlibat dalam transaksi valas akibat dorongan psikologis atau keuntungan spekulatif.

Kenaikan Inflasi dan Kondisi Ekonomi Terkini

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, melampaui angka 2,42 persen di bulan April 2026. Kenaikan ini menjadi perhatian utama para ahli, karena bisa mengurangi daya beli masyarakat dan memberatkan biaya produksi sektor industri.

Prasasti mengingatkan bahwa kenaikan inflasi, disertai dengan penyusutan surplus perdagangan, perlu diantisipasi dengan cepat. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan yang bersifat dinamis, dan setiap kebijakan harus disusun secara hati-hati agar tidak memperburuk kondisi.

“Kenaikan inflasi, melemahnya rupiah, dan kurangnya kepercayaan pasar menunjukkan bahwa pemerintah harus berupaya lebih keras dalam mengelola aspek-aspek kritis. Ketiga faktor ini saling berkaitan, dan kegagalan dalam mengatasinya bisa meruntuhkan proyeksi pertumbuhan ekonomi,” tambah Piter dalam wawancara terpisah.

Pertumbuhan Ekspor dan Tantangan Tersembunyi

Sementara itu, data dari BPS mencatatkan bahwa nilai ekspor Indonesia selama Januari-April 2026 mencapai US$92,15 miliar, tumbuh 5,48 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor industri pengolahan serta produk hilirisasi yang menunjukkan kinerja positif.

Halim Alamsyah menjelaskan bahwa meskipun indikator ekspor menunjukkan peningkatan, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan inflasi dan pelemahan rupiah. Ia menekankan bahwa stabilitas mata uang asing menjadi faktor kritis dalam memastikan keseimbangan ekonomi.

“Dalam kondisi inflasi yang kembali naik, ekspor yang tumbuh positif tidak cukup menjadi alasan untuk meremehkan risiko. Pemerintah harus tetap fokus pada pengendalian inflasi dan menjaga kepercayaan pasar, karena dua hal ini berpengaruh langsung pada daya tarik investasi dan kepercayaan konsumen,” kata Halim.

Menurut analis Prasasti, meskipun ada peningkatan dari sisi ekspor, pasokan valuta asing dalam negeri masih perlu ditingkatkan. Hal ini disebabkan oleh kenaikan permintaan dolar AS yang terus mengalir karena sentimen negatif. Bahkan, kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak membutuhkan uang asing pun ikut membeli dolar akibat kekhawatiran terhadap rupiah.

Strategi untuk Menjaga Keseimbangan

Untuk mengatasi tantangan ini, Prasasti menyarankan bahwa pemerintah harus menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter. Ia menekankan bahwa konsistensi dalam pengambilan keputusan, termasuk keterbukaan terhadap data ekonomi, menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan pasar.

“Koordinasi antara BI dan pemerintah tidak hanya penting untuk mengatur pasar, tetapi juga untuk menunjukkan komitmen dalam menjaga nilai tukar rupiah. Jika langkah-langkah yang diambil terkesan tidak jelas, masyarakat akan semakin mengkhawatirkan masa depan ekonomi,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi nasional, kata Halim, akan terus dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah dalam menghadapi dinamika pasar. Ia mencontohkan bahwa kebijakan fiskal yang tidak terencana atau moneter yang tidak konsisten bisa memicu kekacauan, yang pada akhirnya akan memperburuk inflasi dan menurunkan kinerja ekonomi.

Di sisi lain, Piter Abdullah menyoroti bahwa kenaikan inflasi tidak bisa dihindari secara total, tetapi harus dikelola agar tidak melampaui batas yang bisa diterima oleh masyarakat. Ia menyarankan pemerintah untuk memperkuat sistem peng