PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan

Published Juni 27, 2026 · Updated Juli 16, 2026 · By Indah Wibowo

Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan

Key Strategy - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan) mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menjadi calon manajer koperasi. Jumlah korban meninggal dunia dalam rangkaian latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) ini telah bertambah hingga mencapai lima orang, menurut informasi terbaru yang diberikan oleh pihak penyelenggara.

Kronologi Kematian Peserta Kelima

Peserta kelima yang dinyatakan meninggal adalah Nola Dya Sari, seorang anggota dari satuan pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Menurut laporan, kejadian tersebut terjadi pada Jumat, 26 Juni 2026, saat Nola sedang menjalani aktivitas latihan di lingkungan program SPPI. Sebelumnya, ia telah mengikuti pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa menunjukkan gejala kesehatan yang mencurigakan.

Musibah terjadi menjelang malam hari, setelah Nola mengeluhkan rasa sesak napas dan demam. Tim medis langsung memberikan penanganan awal, lalu merujuknya ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Proses perawatan terus berlangsung hingga ia tiba di RSUD Abdul Aziz Singkawang sekitar pukul 19.20 WIB. Di sana, kondisi kesehatannya diperbaiki dengan berbagai tindakan medis, termasuk resusitasi jantung dan kardioversi.

Tetapi, meski upaya penyelamatan telah dilakukan secara maksimal, Nola Dya Sari akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB. Kejadian ini menambah daftar korban yang telah diumumkan sebelumnya, di mana empat peserta lainnya juga berpulang dalam kegiatan Latsarmil.

Langkah Kemhan dalam Mendukung Keluarga Korban

Menyusul kejadian tersebut, Kemhan menyatakan telah melakukan sejumlah tindakan untuk memberikan dukungan penuh kepada keluarga para peserta yang meninggal. Salah satunya adalah pemberian santunan sebagai bentuk tanggung jawab organisasi. Selain itu, pihak penyelenggara juga berupaya memfasilitasi pemulangan jenazah ke kampung halaman.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa seluruh peserta program telah menjalani seleksi kesehatan yang ketat sebelum mengikuti pendidikan. "Yang bersangkutan memenuhi syarat berdasarkan ketentuan yang berlaku, dengan catatan memiliki berat badan berlebih," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

"Pertama-tama, dalam pernyataan resmi, Mayjen Ketut Gede menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga para almarhum dan almarhumah," tutur Mayjen Ketut.

Kemhan juga memastikan bahwa penyelenggara program terus mendalami hasil evaluasi medis untuk memahami lebih jauh penyebab kematian peserta. Dalam hal ini, mereka menegaskan bahwa sebelum latihan dimulai, seluruh peserta, termasuk Nola, telah dinyatakan sehat sesuai standar yang berlaku.

Kelanjutan Penanganan Kasus

Menurut laporan, kelebihan berat badan (overweight) adalah satu dari beberapa faktor yang diketahui dari hasil evaluasi kesehatan Nola Dya Sari. Namun, kondisi ini tidak dianggap sebagai penyebab langsung kejadian, melainkan sebagai catatan tambahan dalam pemeriksaan lebih lanjut.

Pihak penyelenggara juga menyatakan bahwa mereka telah melakukan pendampingan terhadap keluarga korban, termasuk memastikan proses pemakaman dan pemulangan jenazah berjalan lancar. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Kemhan untuk memberikan perlindungan dan keadilan kepada keluarga peserta yang mengalami kehilangan.

Korban Sebelumnya dan Konteks Program SPPI

Sebelum kejadian ini, Kemhan telah mengonfirmasi empat korban meninggal lainnya dari program SPPI. Salah satunya adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Para Raider 465. Ia menjadi korban keempat yang wafat selama Latsarmil.

Program SPPI, yang merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kepemimpinan di koperasi, dilakukan di berbagai lokasi sekaligus mengintegrasikan pendidikan kemiliteran. Tujuan dari program ini adalah mempersiapkan calon manajer yang mampu memimpin koperasi desa dan nelayan dengan pendekatan kebangsaan.

Dalam konteks ini, Nola Dya Sari dan rekan-rekannya menjadi bagian dari sejumlah peserta yang sedang menjalani latihan untuk memperkuat kemampuan pengelolaan koperasi. Meski terjadi kejadian tragis, Kemhan menegaskan bahwa mereka terus memantau situasi dan memastikan perlindungan kepada peserta serta keluarga.

Pelaksanaan Latsarmil dan Kesiapan Tim Medis

Latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) merupakan bagian integral dari program SPPI yang bertujuan melatih peserta dalam aspek kemiliteran, termasuk kebugaran fisik, keterampilan lapangan, dan pengenalan peran kepemimpinan. Proses ini diawasi oleh tim medis yang siap menangani situasi darurat.

Kemhan menegaskan bahwa seluruh peserta telah diberikan bimbingan sebelum mengikuti latihan. "Kami yakin kondisi kesehatan mereka telah diperiksa secara menyeluruh, dan tidak ada tanda-tanda kelelahan berlebihan atau gangguan sebelum kejadian," jelas Mayjen Ketut.

Dalam proses penanganan, tim medis di lapangan bersikap responsif dan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Dengan demikian, mereka berupaya meminimalkan risiko serta memastikan keselamatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Respon Publik dan Keberlanjutan Program SPPI

Kemhan berharap kejadian ini tidak menghambat kelanjutan program SPPI yang telah dijalankan selama beberapa tahun. Program ini dianggap penting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh, khususnya di bidang koperasi. "Kami akan terus evaluasi dan perbaiki proses penyelenggaraan agar kejadian serupa tidak terulang," tambah Mayjen Ketut.

Dengan duka cita yang disampaikan, Kemhan menegaskan komitmen untuk menjamin kualitas pendidikan serta perlindungan terhadap peserta. Mereka juga berharap keluarga korban dapat diberikan dukungan secara emosional dan material, serta masyarakat mendapatkan informasi yang jelas mengenai situasi ini.

Selain itu, Kemhan menyatakan akan memperkuat koordinasi dengan pihak terkait, seperti instansi kesehatan dan satuan pendidikan, untuk mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi selama kegiatan Latsarmil. Hal ini menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan keamanan program SPPI ke depan.