PondokKebaikan
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Kisah Ade dan Obed, PKL yang Ketiban Rezeki Nomplok di Tengah Riuhnya Demo Mahasiswa di Bundaran HI

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Lia Maulana

Kisah Ade dan Obed, PKL yang Ketiban Rezeki Nomplok di Tengah Riuhnya Demo Mahasiswa di Bundaran HI

Key Strategy - Jumat (12/6/2026), Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi pusat perhatian masyarakat seiring berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa. Namun, di tengah kekacauan yang terjadi, dua pedagang kaki lima, Ade dan Obed, justru meraih keuntungan yang tidak terduga. Kebijakan pembatasan jual beli di area sekitar aksi sempat menghambat mereka, tetapi keberuntungan akhirnya memihak setelah dagangan mereka diborong oleh peserta aksi.

Aksi Borongan di Tengah Keramaian

Demo yang berlangsung di Bundaran HI menarik perhatian ratusan mahasiswa yang berunjukrasa untuk menuntut tuntutan tertentu. Kebiasaan para peserta aksi yang terbiasa membeli makanan dan minuman secara cepat berdampak positif bagi para pedagang. Ade, salah satu PKL yang biasa berjualan es doger di Dukuh Atas dan Sudirman, mendapatkan keuntungan besar setelah seluruh dagangannya habis terjual dalam waktu singkat.

"Ada cerita tadi, setelah salat Jumat, ada aksi demo. Ya sudah saya datang ke sini," ungkap Ade.

Dalam situasi yang memanas, Ade sempat mengalami hambatan ketika petugas Satuan Polisi Pamong Praja melarang pedagang berjualan di area belakang lokasi aksi. Namun, ia tidak langsung menyerah. Ade memilih mengintai situasi sebelum memutuskan untuk berjualan. Keputusannya itu ternyata membawa hasil yang memuaskan.

"Ternyata sama Satpol PP nggak boleh di belakang. Saya kontrol dulu, kok pedagang di sini banyak?" kisahnya.

Sementara itu, Obed, seorang pedagang es krim asal Bogor, juga memperoleh hasil yang mengesankan. Dengan menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari kota asalnya ke Jakarta, ia bertemu pelanggan spesial yang menghabiskan seluruh dagangannya dalam hitungan menit. Seluruh stok es krimnya diborong oleh seorang dermawan tak dikenal, lalu dibagikan gratis kepada peserta aksi.

"Ada yang langsung membeli semuanya, dari hamba Allah. Iya, semua es krim dibagikan gratis," tutur Obed.

Kedua pedagang ini sama-sama mengalami keberhasilan yang tidak terduga. Untuk Ade, 100 gelas es doger terjual dalam waktu singkat, disusul seorang pria yang menawar memborong sisa dagangan dengan harga Rp200 ribu. "Pas sudah habis 100 gelas, ada orang tuh laki-laki, 'Bang, bisa diborong nggak?', 'Bisa!'. Seadanya itu dikasih Rp200 ribu. Lebih sih, tapi ya sudahlah biarin, bayar saja Rp200 ribu. Sudah habis jadinya," tutur Ade sembari tertawa.

Ketika sesi aksi berjalan lancar, Ade dan Obed berada di tengah keramaian yang biasanya tak terduga. Mereka menyadari bahwa situasi demonstrasi ini memberi kesempatan unik untuk menambah pendapatan. Selain itu, keberhasilan ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Obed, meski ia sudah terbiasa berjualan di berbagai aksi sebelumnya.

Kedua PKL ini memperoleh penghasilan yang jauh lebih besar dari hari biasa. Ade mengaku bahwa ia sudah terbiasa mengadu peruntungan di tengah keramaian aksi, meski selalu waspada terhadap risiko kerusuhan. "Kita ya lari saja! Masa mau perang kita? Kita lari. Banyak kejadian rusuh, cuma saya lari. Daripada bahaya ya kan? Dagangan nggak habis kita bahaya, kasihan anak bini," kenangnya lugas.

Demikian pula dengan Obed, yang mengungkapkan bahwa pendapatan yang diperoleh hari itu jauh melampaui ekspektasinya. Ia menyebutkan bahwa ada keuntungan kecil tetapi cukup signifikan untuk membuatnya senang. "Sesuai sama modal tuh, sama untung. Ada untung dikit," ungkapnya.

Keberlanjutan Bisnis di Tengah Kebisingan

Kembali ke Jakarta, Ade dan Obed serta sejumlah pedagang lain pulang lebih awal dari biasa. Mereka mengalami perubahan nasib yang tidak terduga, meski keberhasilan ini terjadi jauh sebelum jam normal yang biasa menjadi waktu puncak penjualan. Kembalinya mereka kali ini sekaligus membawa senyum dan kantong yang lebih tebal dari hari-hari biasa.

Dalam suasana yang dipenuhi oleh suara demo, aroma es krim, dan tawa para pedagang, ada cerita kecil yang menginspirasi. Meski kegiatan berjualan di Bundaran HI seringkali berisiko, Ade dan Obed justru berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk meningkatkan pendapatan. Kebiasaan mereka berjualan di tengah keramaian aksi menciptakan peluang yang tidak terduga.

Pelajaran dari pengalaman ini juga menunjukkan bagaimana keberuntungan bisa menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Pedagang kecil seperti Ade dan Obed, yang biasanya berjuang untuk mendapatkan penghasilan, justru menjadi saksi bisu bagaimana aksi mahasiswa bisa mengubah suasana sehari-hari. "Masa mau perang kita? Kita lari. Banyak kejadian rusuh, cuma saya lari," ulang Ade sambil tersenyum.

Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan Ade dan Obed menunjukkan bagaimana kekacauan di Bundaran HI tidak hanya memengaruhi para peserta aksi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang tak terduga. Dengan cara berbeda, mereka menunjukkan bahwa keramaian bisa menjadi peluang, meski penuh risiko.

Kedua pedagang ini menjadi contoh nyata bagaimana keberuntungan bisa menyentuh bisnis kecil. Mereka memperoleh penghasilan yang mengubah nasib mereka sekaligus menjadi cerita menarik di tengah perjuangan mahasiswa yang sedang berlangsung. Kebiasaan mereka