Key Discussion: Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
Fadli Zon Mendorong Cerita Rakyat sebagai Gerakan Nasional, Bukan Hanya Warisan Budaya
Key Discussion - Dalam upaya menjaga tradisi kebudayaan Indonesia, Kementerian Kebudayaan memulai inisiatif baru dengan mengadakan acara Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, yang berlangsung dari 20 April hingga 20 Mei di seluruh provinsi. Acara ini bertujuan menggali kembali cerita-cerita lisan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya bangsa, dengan pendekatan modern yang menjangkau lebih luas.
Hasilnya, program ini berhasil mengumpulkan 1.737 karya video bercerita dari 2.797 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Setiap karya mencerminkan upaya melestarikan nilai-nilai budaya melalui media digital, yang sekarang menjadi alat efektif untuk menyebarkan warisan generasi ke generasi berikutnya. Fadli Zon, Menteri Kebudayaan, menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat yang tinggi menggambarkan minat yang masih hidup terhadap cerita rakyat.
Kebudayaan Tidak Pernah Mati, Tapi Perlu Dihidupkan Kembali
Indonesia dikenal kaya akan cerita. Dari Sabang hingga Merauke, setiap wilayah memiliki legenda, dongeng, atau kisah sejarah yang terus diwariskan. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan dominasi konten digital, tradisi bercerita yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mulai mengalami pergeseran. Fadli Zon menilai, momentum ini justru menjadi kesempatan untuk mengembalikan peran cerita rakyat sebagai kekuatan budaya yang relevan.
Gerakan nasional GALA Indonesia Bercerita 2027 diluncurkan sebagai langkah lanjutan setelah keberhasilan acara tahun 2026. Pemerintah ingin memperkuat literasi budaya masyarakat dengan memastikan cerita rakyat tidak hanya dijadikan sebagai aset historis, tetapi juga sebagai alat komunikasi dan pendidikan. "Cerita bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terkandung pesan yang mampu membentuk karakter dan menginspirasi generasi muda," jelas Fadli dalam acara puncak apresiasi di Jakarta.
Dari Pengumpulan Karya hingga Pemahaman Budaya
Program yang berlangsung selama sebulan ini menjangkau seluruh 34 provinsi. Peserta yang tergabung mencakup anak-anak, remaja, orang tua, pendidik, dan kelompok inklusi. Mereka mengunggah karya melalui media sosial, sekaligus mendokumentasikan tradisi yang pernah dikenal sejak masa kecil. Dengan demikian, teknologi bukan hanya menjadi penyebab perubahan, tetapi juga sarana untuk melestarikan warisan budaya.
Menurut Fadli Zon, keberhasilan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat masih memiliki daya tarik di tengah kompetisi konten digital. "Jumlah karya yang masuk lebih dari 1.700, padahal Indonesia memiliki 1.340 etnis dan 718 bahasa yang beragam. Ini berarti hanya sebagian kecil dari kekayaan budaya kita yang diunggah," ujarnya. Ia menekankan bahwa seluruh pulau dan komunitas di Indonesia memiliki cerita unik yang perlu dirayakan, bukan hanya disimpan.
Cerita Sebagai Bentuk Pendidikan Emosional
Fadli Zon menyoroti peran cerita dalam membentuk kecerdasan emosional dan spiritual. "Dalam dunia yang kini dihiasi oleh informasi yang cepat berubah, storytelling tetap menjadi alat transfer nilai yang efektif," katanya. Ia mengutip studi yang menunjukkan bahwa proses bercerita melibatkan keterlibatan emosional, menginspirasi, dan membentuk cara berpikir anak-anak sejak dini.
“Asupan makanan penting untuk IQ, tetapi storytelling penting untuk emotional intelligence, spiritual intelligence, dan pembentukan karakter. Bahkan Einstein pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan,”
Menurutnya, cerita-cerita yang dibagikan melalui media digital mampu membangun empati, mengasah daya imajinasi, serta membantu masyarakat memahami nilai-nilai kehidupan. "Banyak orang mengira bercerita hanya aktivitas sederhana, tapi sebenarnya ini adalah metode pendidikan yang membentuk karakter sekaligus memperkuat rasa nasionalisme," tambah Fadli.
Tradisi yang Melekat dalam Teknologi
Sementara itu, dalam konteks modern, cerita rakyat dinilai tetap relevan. Meski dianggap sebagai tradisi lama, kegiatan mendongeng di era media sosial justru semakin berkembang. Fadli Zon menjelaskan bahwa storytelling mampu mengisi kebutuhan masyarakat akan konten yang bermakna, terutama di tengah informasi yang begitu cepat mengalir.
Program ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan dengan budaya daerah, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan keberagaman Indonesia. Karya-karya yang dihasilkan, seperti cerita dari etnis Dayak, Sunda, atau Bugis, menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak pernah kehilangan daya tarik, selama diberi ruang untuk terus berkembang.
Fadli Zon mengakui bahwa banyak cerita rakyat Nusantara masih belum terdokumentasi secara lengkap. "Kita harus memperluas jangkauan cerita ini, agar masyarakat memahami bahwa kekayaan budaya kita tidak kalah dari dongeng-dongeng internasional," kata dia. Ia menegaskan bahwa keberagaman etnis dan bahasa adalah kekuatan, yang perlu dijaga melalui inisiatif seperti ini.
Gerakan Nasional untuk Memperkuat Identitas Budaya
Gerakan nasional GALA Indonesia Bercerita 2027 diharapkan menjadi pendorong untuk menjadikan bercerita sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Fadli Zon menilai, inisiatif ini bisa menjadi gerakan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, dalam menjaga warisan budaya.
Menurut Fadli, keterlibatan berbagai kalangan dalam acara ini menunjukkan bahwa cerita rakyat tidak hanya diminati oleh sebagian orang, tetapi juga dianggap sebagai bagian dari identitas nasional. "Bercerita mengajarkan cara berpikir kritis, memahami kehidupan, dan merasakan kekayaan budaya Indonesia. Ini adalah cara yang tidak